Pendahuluan.
Baca Yohanes 14:1- 3!
Menghadapi situasi sekarang ini, ada banyak orang yang hatinya gelisah. Sebab- sebab dari kegelisahan ini, antara lain: Situasi keamanan yang tidak menentu, hari depan yang tidak memberikan jaminan yang melegakan dan lain sebagainya.
Tuhan Yesus sangat mengerti mengenai kegelisahan yang terdapat dalam hati manusia. Itulah sebabnya dalam Yohanes 14: 1 Yesus berkata: “Janganlah gelisah hatimu”, artinya Tuhan Yesus ingin memberikan suatu pemecahan terhadap kegelisahan hati kita. Ia memberikan pengajaranNya supaya ada jalan keluar dari kegelisahan hati manusia.
Dari ayat yang kita baca di atas, maka ada tiga hal yang kita dapat simpulkan:
I. Percayalah Senantiasa Kepada Tuhan (Yoh. 14:1)
“Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu”
Apa yang dimaksud istilah percaya dalam ayat ini? Ada dua macam jenis percaya: Pertama, percaya dengan otak/ akal- budi dan yang kedua, percaya dengan hati.
a. Percaya dengan otak/ akal budi: Semua orang tentu percaya bahwa bumi itu bulat, air yang mendidih itu panas, ibukota Indonesia itu Jakarta. Itu adalah percaya terhadap data dan fakta yang ada, percaya dengan akal- budi atau otak. Percaya jenis ini diperoleh dengan mempelajari data dan fakta yang ada. Bukan percaya jenis ini yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, yang dapat menghilangkan kegelisahan hati kita.
b. Percaya jenis kedua ini ialah percaya dengan hati, yaitu percaya yang disertai dengan penyerahan diri terhadap apa yang kita percayai. Hal ini terjadi ketika seorang pasien masuk ke ruang praktek dokter, atau seorang penumpang masuk ke kabin pesawat. Pasien dan penumpang itu percaya di sertai penyerahan diri terhadap dokter dan pesawat terbang yang akan memberangkatkan kita ketujuan kita. Tuhan Yesus menuntut supaya kita memiliki kepercayaan jenis ini. Percaya jenis inilah yang dapat mengusir kegelisahan hati kita.
Contoh:
Suatu kali ada seorang anak mengingini sebuah sepeda BMX yang baru. Karena orang tuanya tidak sanggup membeli, maka si anak berdoa kepada Tuhan dengan sungguh hati. Anak ini berkata kepada Tuhan: “Apabila Tuhan memberikan aku sepeda BMX yang baru, maka aku bersaksi kepada setiap teman- teman di sekolahku, sehingga mereka mengetahui bahwa Yesus sanggup membelikan aku sepeda.” Setelah berdoa, anak ini datang kepada kedua orang tuanya, dan berkata: “Tuhan akan memberikan aku sebuah sepeda BMX yang baru.” Kedua orang tuanya menjawab: “ Tono, kami akan berusaha membelikan engkau apa saja yang engkau perlu, tetapi saat ini kami belum mampu utnuk membelikan sebuah sepeda buatmu.” Tono berkata lagi: ”Saya tidak meminta papa dan mama yang membelikan, tetapi Tuhan Yesus. Karena alkitab mengatakan dari mulut sebuah ikan, Petrus dapat membayar pajak kepada pemerintah.”
Singkat ceritera, suatu hari Tono pergi ke sebuah toko untuk membelikan ibunya sabun Rinso. Dan pada kotak sabun itu, dituliskan sebuah undian yang berhadiah pertama TV dan kedua, sepeda BMX. Ketika Tono memberikan Rinso kepada ibunya, ia meminta sepotong bagian dari undian tersebut yang harus di kirimkan kembali ke alamatnya. Tono mengirimkan kembali dengan hati yang berdebar- debar dan dalam hatinya ia berkata: “Tuhan, aku bukan satu- satunya yang ikut dalam undian ini. Tetapi mungkin aku satu- satunya yang melalui undian ini dapat memberitakan kabar baik kepada temanku.”
Sebulan setelah itu, Tono mendapat sebuah surat untuk menghadap kepada alamat yang tertulis dengan membawa identitasnya. Tono memperoleh sepeda BMX itu.
Percayalah senantiasa kepada Tuhan. Amen?
II. Tuhan Yesus mengajak kita memandang jauh kedepan (Yoh. 14: 2)
Pada ayat kedua ini, Tuhan Yesus meneruskan pembicaraannya dengan sesuatu yang menarik. Ia mencoba untuk mengendalikan pandangan kita jauh kedepan.
Manusia tidak akan bisa servive apabila tidak ada sesuatu yang mendorongnya untuk terus bertahan: ‘pengharapan’. Apabila seseorang kehilangan pengharapan, maka ia akan kehilangan daya tahan hidupnya. Ahli jiwa mengatakan bahwa orang yang sudah tidak mempunyai pengharapan apa- apa lagi adalah orang yang patut dikasihani.
Orang yang mempunyai pengharapan akan menghasilkan kesabaran dan ketekunan.
Contoh:
· Tikus percobaan dalam laboratorium
· Bapa yang kehilangan pengharapan kepada anaknya
Tuhan Yesus mengerti bahwa apabila kita memandang hanya kepada dunia ini saja, maka hati kita dengan mudah sekali menjadi gelisah, sebab apa yang ada dalam dunia ini
semuanya sudah berada dalam kutuk dosa. Oleh sebab itu, Dia berkata: “ Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal.” Dia mencoba untukmengalihkan pandangan kita jauh kedepan.
Disini saya ingin memberi sedikit penjelasan mengenai kepastian yang menanti dihadapan kita semua:
· Kebangkitan semua yang mati dalam Kristus
· Rapture (pengangkatan semua orang Kudus)
· Pemberiaan pahala di tahta pengadilan Kristus
· Kembali bersama Kristus di bumi ini
· Memerintah bersama dengan Kristus dalam Kerajaan 1000 tahun di bumi ini
· Hidup selama-lamanya bersama Kristus di Yerusalem Baru.
Istilah yang dipakai dalam bahasa Inggrisnya adalah ‘mansions’ (semacam istana) dan bahasa aslinya (Yunani) ‘monai pollai’, yang artinya ‘many mansions.’
Jadi jelas bukan tempat tinggal biasa! Semua tempat tinggal yang ada di dunia ini tidak ada apa-apanya apabila di bandingkan dengan monai pollai yang di janjikan Tuhan Yesus.
Di dalam kitab Wahyu 21: 9- 21 ditulis mengenai gambaran Yerusalem baru: Fondasinya dari 12 macam batu permata yang bergemelapan. Di bumi ini tidak ada istana seperti itu.
Jadi marilah kita arahkan pandangan kita jauh kedepan dan jangan biarkan pengharapan itu pudar. Sadarlah bahwa kita hanya ‘pengembara yang numpang lewat di dunia ini’.
III. Tuhan Yesus berjanji akan menjemput kita semua (Yoh. 14: 3)
“Aku akan datang kembali dan …….”
Hari Natal dalam bahasa Latin disebut juga Advent, yang artinya ‘Kedatangan Tuhan’. Dengan demikian kita mengenal dua Advent: Advent I adalah kedatangan Tuhan Yesus kedunia ini, 2000 tahun yang lalu di padang Efrata. Advent II adalah kedatangan Tuhan Yesus ke dunia untuk di mahkotai sebagai Raja diatas segala raja.
Antara Advent yang pertama dan kedua ada perbedaan yang besar: Pada kedatangan Tuhan Yesus yang pertama, Ia datang dengan cara tersembunyi. Hanya para gembala di Efrata yang di beritahu oleh malaikat- malaikat tentang pristiwa itu. Tetapi pada kedatanganNya kedua kalinya, semua orang- orang Kudus pasti tahu dan bahkan setiap mata orang- orang di dunia ini pasti melihat pristiwa itu (Baca Wahyu 1: 7).
Dalam Wahyu 22: 12, Tuhan Yesus berkata “ Sesungguhnya Aku datang segera dan aku membawa upahKu……” Jadi pada Advent II, Tuhan Yesus tidak datang dengan tangan kosong, melainkan dengan membawa upah bagi setiap orang yang bertahan sampai pada kesudahannya.
Pristiwa besar ini di kenal dengan istilah Rapture (pengangkatan ke Sorga). Pristiwa ini skenarionya cocok sekali dengan pritiwa perkawinan yang biasa terjadi di kalangan umat Israel pada zaman dahulu: Mempelai pria datang menjemput mempelai wanita untuk kemudian sama- sama memasukki ruang pesta.
Konklusi: