Iman Sebagai Buah Roh
Pendahuluan.
Galatia 5: 22- 23,
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai-sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan (iman ), kelemahlembutan, penguasaan diri.”
Buah yang ketujuh yang di sebut adalah ‘kesetiaan’. Tetapi dalam bahasa Yunani, rasul Paulus memakai untuk kata tersebut dengan kata benda, “pistis”, yang kata dasarnya adalah ‘iman’.
I. Perbedaan antara buah Roh dan karunia Roh.
(Buah Roh kontra dengan karunia Roh)
Untuk menunjukkan perbedaan antara karunia dan buah Roh, kita dapat membandingkan sebuah pohon Natal dengan sebuah pohon apel.
Buah- buahan yang biasanya terdapat pada pohon Natal itu sesungguhnya adalah bingkisan hadiah yang akan dibagikan, sedangkan buah yang terdapat pada pohon apel adalah benar-benar buah apel. Bingkisan hadiah itu dapat dengan mudah dan cepat dipasang pada pohon Natal tersebut, semudah dan secepat kita dapat melepaskannya. Bingkisan hadiah itu mungkin saja berupa main-mainan, kalung emas, dsb., dan pohon Natalnya boleh jadi sejenis pohon cemara. Jelas, tak ada hubungan antara jenis pohon dan bingkisan hadiah yang tergantung pada dahannya. Hadiah itu sendiri tidak dapat menjadi patokan untuk menentukan jenis pohon tempat ia di gantungkan pada pesta Natal itu.
Sebaliknya, jelas ada suatu hubungan erat antara buah apel dengan pohon yang menghasilkan buah apel itu. Sifat-sifat pohon itu menentukan sifat- sifat buahnya, baik dari segi jenis maupun kwalitasnya. Tak mungkin pohon apel menghasilkan buah jeruk. Buah pada pohon apel itu tidak dihasilkan dalam sekejap mata, melainkan melalui suatu proses pertumbuhan dan perkembangan yang memakan waktu lama. Untuk dapat menghasilkan buah yang bagus, pohon itu harus dirawat dengan baik. Hal ini membutuhkan waktu, kecermatan dan kerja keras.
Sekarang kita menghubungkan perumpamaan yang sederhana ini dengan alam rohani. Karunia rohani diberikan dan di terima melalui suatu pristiwa yang terjadi dalam sekejap mata. Karunia itu sendiri tidak dapat menjadi patokan untuk menentukan sifat-sifat atau kwalitas dari orang- orang yang memilikinya. Sebaliknya, buah Roh menunjukkan kwalitas dari kehidupan yang menghasilkannya. Buah Roh hanya akan bertumbuh melalui suatu proses. Untuk mendapatkan buah yang bagus, kehidupan kita harus dijaga dan dirawat dengan baik, dan hal ini membutuhkan waktu, kecermatan dan kerja keras. Perbedaan antara karunia Roh dan buah Roh juga dapat diperlihatkan dengan mengatakan bahwa karunia menggambarkan kemampuan seseorang, sedangkan buah menggambarkan karakternya.
Pertanyaan: Manakah yang lebih penting, kemampuan atau karakter ?
Jawab: Dalam jangka panjang, tentu saja karakter jauh lebih penting dari pada kemampuan. Karunia hanya berfungsi untuk sementara saja (1Kor. 13: 8- 13). Suatu waktu kelak karunia- karunia tidak dibutuhkan lagi. Tetapi karakter bersifat tetap.
Kesimpulan:
*Karunia Roh
1. Dapat diberikan dan diterima dalam satu transaksi yang singkat dan sekecap mata
2. Tidak berkaitan dengan kwalitas orang yang memilikinya
3. Menggambarkan kemampuan seseorang
*Buah Roh
1. Dikembangkan melalui suatu proses yang berkesinambungan, yang memerlukan waktu, kecermatan dan kerja keras.
2. Merupakan pengungkapan kwalitas seseorang
3. Menggambarkan karakter seseorang
Namun demikian, tidak berarti bahwa kita hanya boleh memilih salah satu dari kedua hal itu. Sesungguhnya, kedua hal itu saling melengkapi satu sama lain. Kombinasi yang sempurna antara karunia dan buah Roh adalah dalam hidup Tuhan Yesus.
II. Iman Dalam Arti: Mempercayai dan Dapat dipercaya
Iman, dalam bahasa aslinya “Pistis”, sebagai buah Roh dapat di artikan dari dua segi. Kedua kata tersebut saling berkaitan, namun berbeda maknanya. Kata yang pertama diterjemahkan sebagai “Mempercayai” (to trust) dan yang kedua adalah “sifat dapat dipercayai” (trustworthiness).
2.1. Iman Dalam Arti : Mempercayai
a. Mazmur 125: 1,
“Orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya”.
Biarpun semua gunung di dunia ini akan bergetar dan bergoyang, bahkan berpindah tempat, ada satu gunung yang tak akan tergoyangkan: Gunung Sion, yang telah dipilih Allah sebagai tempat kediamanNya.
Demikian juga halnya dengan orang percaya yang sudah belajar untuk mempercayai Tuhan. Orang-orang lain di sekelilingnya mungkin sedang panik dan kebinggungan, namun ia sendiri tetap tenang dan tentram.
Contoh:
b. Mazmur 37: 5,
“Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak”.
Ada dua hal yang dituntut dari kita disini:
1. Kita harus menyerahkan hidup........ (berbicara suatu komitmen)
2. Kita harus percaya ............ (berbicara mengenai menaruh kepercayaan)
Jadi sikap mempercayai timbul apabila di dahului oleh komitmen.
Contoh: Mendepositkan uang ke Bank
Sebelum seseorang mendepositkan uangnya ke suatu Bank, terlebih dahulu ia harus menanda tanagai sebuah kontrak (hal itu berbicara suatu komitmen). Baru kemudian kita menyerahkan sejumlah uang yang akan kita depositkan kepada Bank tersebut. Dan kita tidak perlu kuatir lagi mengenai uang kita, karena itu adalah urusan Bank, bukan lagi urusan kita.
Lucunya, kebanyakan orang dengan mudah percaya bahwa uangnya akan lebih aman di sebuah Bank dari pada persoalannya di tangan Tuhan.
Bertolak dari illustrasi diatas, maka di simpulkan sbb. bahwa sifat mempercayai itu (baik itu terhadap Tuhan atau seseorang) dapat bertumbuh apabila di mulai dengan sesuatu yang sangat penting, yaitu “komitmen”.
2.2. Iman Dalam Arti: Dapat Dipercaya
Jika kita mengartikan iman sebagai sifat dapat dipercaya, sesungguhnya hal itu di dasarkan atas sifat dapat di percayainya Allah. Mungkin tidak ada sifat Allah yang lain, yang lebih sering di tekankan di dalam seluruh Alkitab, daripada sifat Allah yang dapat di percaya itu.
Ada hubungan yang erat antara sifat dapat dipercaya yang terdapat pada Allah dan kata- kata yang keluar dari mulut Allah sendiri. Ada dua hal yang tidak pernah dilakukan oleh Allah, yaitu melanggar janjiNya, dan mengingkari apa yang pernah di katakanNya.
Daud mengajukan dua pertanyaan kepada Tuhan.
Mazmur 15: 1,
“Tuhan siapa yang boleh menumpang dalam kemahMu/ Siapa yang boleh diam digunungMu yang kudus?”
Kemudian Daud menjawab sendiri pertanyaan tersebut dengan memberikan 11 hal yang menjadi ciri orang itu. Persyaratan yang kesembilan, yang terdapat di bagian akhir ayat 4 adalah, “Yang berpegang pada sumpah walaupun rugi”.
Sifat dapat di percayai ini sangat penting dalam hidup kita sebagai orang kristen. Baca Yohanes 2: 23- 25, dan Matius 7: 21- 23 !
Jadi, Allah menghendaki agar orang percaya tetap setia kepada komitmennya biarpun mendatangkan kerugian bagi diri sendiri. Orang kristen yang tidak bisa dipegang kata- katanya dan tidak setia pada komitmentnya sesungguhnya belum memiliki sifat dapat dipercaya. Allah menghendaki agar kita menunjukkan sifat dapat dipercaya ini dalam hubungan kita dengan sesama manusia, terutama terhadap saudara seiman.
Konklusi:
Dari pelajaran mengenai iman sebagai buah Roh, dalam arti mempercayai dan dapat dipercayai, kita dapat simpulkan demikian:
Untuk seseorang dapat bertumbuh sehingga memiliki sifat mempercayai, maka ia harus terlebih dahulu memiliki komitmen. Setelah ia bertumbuh dengan memiliki sifat mempercayai, maka melalui proses ia akan memiliki sifat yang dapat dipercaya.