Hukum Tabur Menuai

(Bagian 1, 2)

 

Pendahuluan.

Pada suatu kali, ada seorang Professor dari sebuah University, department Psychology, mengadakan suatu riset: Ia menyuruh seluruh murid- murid dikelasnya untuk, mengambil sebuah kertas dan menuliskan semua orang- orang yang mereka tidak sukai, dalam waktu lima menit. Selang waktu dua menit ada yang baru menuliskan dua nama, tetapi ada yang sudah empat belas nama. Setelah selesai dengan semuanya, maka kesimpulan Professor ini adalah sbb.: “Ternyata orang yang banyak membenci orang lain, ternyata orang tersebut banyak dibenci orang.”

 

Baca Lukas 6: 31 (Golden Rule!), lanjutkan ayat 37- 38 !

 

Ketika Allah menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya, Ia telah menetapkan sebuah hukum yang berlaku  dialam ciptaanNya, yaitu Hukum tabur- tuai. Semua tumbuh- tumbuhan dibumi akan berbuah melalui suatu proses yang dikenal sebagai tabur- tuai.

Suatu ketika Allah murka terhadap manusia, karena perbuatan mereka, (Kejadian 6), maka didatangkan-Nya air bah untuk memusnahkan semua mahkluk termasuk tumbuh- tumbuhan di bumi ini, kecuali nabi Nuh dan keluarganya beserta sepasang- sepasang segala jenis binatang.

Setelah air bah menjadi surut kembali, dan Nuh keluar dari Bahteranya, lalu Nuh mempersembahkan korban kepada Tuhan. Sewaktu Allah mencium bau persembahan itu dan pada saat itulah Allah berfirman dalam hatiNya. Baca Kejadian 8: 20- 22!

 

Alkitab menegaskan bahwa hukum tabur tuai itu tidak hanya berlaku bagi tumbuh- tumbuhan saja melainkan juga berlaku bagi manusia. Baca Galatia 6: 7- 8 !

 

 “Apa yang akan ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal.6: 7).

 

Sekarang kita akan melihat aplikasi dari hukum tabur tuai:

 

Bagian Ia (Aspek negatif): Kita menuai apa yang telah ditabur terlebih dahulu (sesuatu yang kita tidak tabur)

 

Contoh: Mazmur 51: 7, mengatakan “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.”

Dalam hal ini mau tidak mau, kita menuai dosa yang telah ditabur oleh Adam dan yang diteruskan kepada anak cucu kita.

Jadi, Adam menabur kesalahan- keturunannya menuai dosa!

 

Aplikasi:

·        Seorang ibu yang menolak kandungannya. Anak tersebut lahir dengan rasa tertolak.

Jadi, si ibu menabur, sianak menuai!

 

·        Pria jalang yang membujuk kekasihnya untuk ditiduri, kemudian setelah gadis itu kehilangan keperawanannya, si pria meninggalkan si kekasihnya.

Jadi, si pria jalang menabur, sang kekasih menuai!

 

Bagian Ib (Aspek negatif): Kita menuai apa yang ditabur para pemimpin negara

 

Contoh: Raja- raja yang memerintah di Perjanjian Lama

·        Raja Yerobeam (Israel Utara)

·        Raja Manasye (Raja Yehuda)

 

Setiap kali raja-raja pada Perjanjian Lama telah berbuat dosa di hadapan Tuhan, maka rakyatnya yang ikut menuai akibatnya.

Jadi, Raja menabur kesalahan, rakyatnya menuai kesengsaraan!

 

Aplikasi:

·        Kerajaan Romawi

Edward Gibbon (1787) menuliskan  sebuah buku berjudul, “Kejatuhan Kerajaan Romawi.” Dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa kejatuhan Romawi disebabkan oleh  pemimpin-pemimpinnya:

1.      Lembaga pernikahan tidak dihargai lagi- terjadi banyak penyimpangan dalam rumah tangga

2.      Hidup berfoya- foya dengan hawa nafsu

3.      Memakai serdadu bayaran

4.      Agama menjadi ritual

Jadi, pemerintah Romawi menabur moral yang bejat, rakyatnya menuai kehancuran!

 

·        Indonesia

Pemerintah menabur ambisi yang salah, rakyatnya menuai kesengsaraan!

 

Bagian IIa (Aspek positif): Kita menuai apa yang telah ditabur terlebih dahulu (sesuatu yang tidak kita tabur)

 

Contoh: Baca Yohanes 3: 16 !

Jadi, Yesus telah memberikan hidupNya bagi kita semua, di Golgota, supaya kita beroleh pengampunan akan dosa kita. Tuhan menabur dengan memberikan Anak TunggalNya, kita menuai kehidupan kekal.

 

Aplikasi:

Banyak orang yang berusaha untuk masuk ke Sorga dengan berbagai macam cara ritual. Tetapi hanya satu jalan saja yang telah ditentukan untuk masuk ke Sorga, yaitu melalui Tuhan Yesus. Baca Yohanes 14: 6 !

Jadi, Yesus menabur dengan kematianNya dikayu salib, kita menuai pengampunan dosa.

 

Bagian IIb (Aspek positif): Kita menuai apa yang ditabur oleh orang lain

Contoh: baca Yohanes 4: 37- 38!

Alkitab juga menekankan bahwa ada seorang yang menabur dan yang lain hanya menuai.

 

Aplikasi:

Orang tua yang telah berhasil dan kemudian mantunya yang menuai.

Jadi, mertua yang berusaha (menabur) dan anda yang memetik hasil usaha mereka (menuai)!

 

Bagian III: Kita menuai persis sama dengan apa yang kita tabur

Apabila kita menabur pepayah, maka kita akan menuai pepayah. Apabila kita menabur kejahatan, maka kita akan menuai kejahatan. Apabila kita menabur kebaikan, maka kita akan menuai kemurahan.

 

Contoh:

·        Yakub

Apabila kita membaca kitab Kejadian  27, maka ada suatu pristiwa yang menarik, yaitu Yakub,  dimana ia menipu ayahnya, Ishak, hanya untuk beroleh berkat sebagai anak yang sulung. Sebenarnya Yakub bukan anak yang sulung, melainkan Esau. Tetapi, suatu kali ketika Ishak sudah menjadi tua dan matanya menjadi sangat rabun, maka Ishak hendak menurunkan berkat keatas kedua anaknya. Sementara Esau pergi berburu untuk membuat makanan bagi Ishak, Yakub bersama Ribka mencoba untuk merebut berkat sulung itu, dengan cara yang sangat menarik. Baca Kejadian 27:14- 17!

 

Setelah lewat beberapa tahun kemudian, Yakub mempunyai 12 anak lelaki, dan salah satu diantaranya bernama Yusuf. Yakub sangat mengasihi Yusuf. Dan suatu kali kakak- kakak Yusuf menemukan Yusuf, disebuah padang rumput dan mereka berusaha untuk membunuhnya. Tetapi akhirnya mereka memutuskan untuk memasukkan Yusuf kedalam sumur. Dan ketika mereka melihat saudagar-saudagar dari Midian lewat, mereka mengangkat Yusuf dari dalam sumur dan menjual Yusuf kepada saudagar- saudagar Midian tersebut. Lalu apa yang mereka perbuat untuk memastikan kepada Yakub, mengenai kematian Yusuf? Baca Kejadian 37: 31- 35!

 

Apa yang Yakub telah perbuat puluhan tahun yang lalu, ketika ia masih muda, demikianlah diperbuat anak-anaknya kepadanya. Dengan kata lain, apa yang Yakub tabur, ia menuai yang sama.

Jadi, Yakub menabur dengan kambing, ia menuai juga dengan kambing!

 

 

Bagian IV: Kita menuai lebih banyak daripada waktu menabur

Apabila kita menanam satu benih mangga, maka kita akan menuai ratusan buah mangga selama jangka waktu beberapa– tahun.

Hukum ini juga berlaku bagi manusia dalam hidup sehari- hari. Baca Hosea 8: 7a!

 

Contoh:

·        Daud

Apabila kita membaca 2 Samuel 11, maka kita akan mendapati satu bagian dari lembaran hidup raja Daud yang penuh dengan noda hitam: Daud berzinah dengan Batsyeba, istri Uria, salah satu prajurit Daud. Tidak cukup hanya demikian, Daud kemudian mengadakan rekayasa sehingga Uria mati dalam peperangan. Dengan berbuat demikian Daud telah melanggar 5 dari sepuluh perintah Allah:

·        Hukum ke VII- Jangan kamu berzinah (2 Sam.11: 4)

·        Hukum ke X- Jangan kamu mengingini istri orang lain (2 Sam.11: 2- 3)

·        Hukum ke VI- Jangan kamu membunuh (2 Sam.11: 15

·        Hukum ke VIII- Jangan engkau mencuri (2 Sam.11: 4)

·        Hukum ke IX- jangan engkau bersaksi dusta (2 Sam.11:8, 21)

 

Apakah Tuhan membiarkan Daud terlepas dari semua yang ia tabur?

Jawab: Tidak sama sekali! Sekalipun Daud adalah seorang yang sangat dikasihi oleh Allah, dan Allah mengampuni Daud dari perbuatannya tersebut (2 Sam.12: 13) tetapi ingat baik- baik, Tuhan tidak membiarkan diriNya dipermainkan, oleh siapapun, sekalipun raja Daud. Apa yang ditabur orang itu juga yang akan dituainya (Gal. 6: 7-8).

Daud berusaha menyembunyikan dosa- dosanya ini hampir satu tahun lamanya, sampai Tuhan mengutus nabi Natan datang kepadanya. Daud sangat terkejut karena dosa- dosanya dibuka secara demikian gamblang oleh nabi Natan. Tetapi Daud tidak mengeraskan hatinya. Ia bertobat dengan sungguh- sungguh dan merendahkan dirinya dihadapan Tuhan (2 Samuel 12).

Tuhan mengampuni Daud, tetapi apa yang telah Daud tabur, tetap ia harus menuainya. Nabi Natan menjelaskan kepada Daud sehubungan dengan apa yang telah Daud tabur (Baca 2 Sam.12: 10- 12):

·        Pedang- Pembunuhan dan sekaligus darah akan tertumpah dalam keluarga Daud.

·        Sex – Istri- istri Daud akan ditiduri oleh orang secara terang- terangan.

 

Daud telah menuai lebih banyak dari pada apa yang ia telah tabur:

 

I.                   Anaknya yang dilahirkan Batsyeba mati (2 Sam.12: 14- 19)

Daud sudah berdoa dengan sungguh- sungguh, bahkan disertai dengan puasa untuk keselamatan bayi ini, namun Tuhan tidak mengabulkan doanya. Bayi itu mati!

 

II.                Amnon memperkosa Tamar (2 Sam.13: 14- 15)

Amnon adalah anak sulung Daud. Ia, suatu kali jatuh cinta dengan adik tirinya sendiri, Tamar. Yonadab, teman Amnon memberikan sebuah cara supaya Amnon bisa meniduri Tamar. Dengan rekayasa yang sangat licik, akhirnya Amnon berhasil memperkosa adik tirinya.

 

III.             Absalom, kakak Tamar membunuh Amnon (2 Sam.13: 23- 32)

Kakak Tamar, yaitu Absalom menunggu dua tahun lamanya untuk membalaskan dendam adiknya kepada Amnon.Pada suatu kali, Absalom mengundang Amnon kesebuah pesta. Amnon datang kepesta tersebut tanpa menaruh curiga sama sekali. Didalam pesta itulah Absalom membalas dendam dan membunuh Amnon.

 

IV.              Absalom membrontak, Daud kemudian melarikan diri (2 Sam.16: 5- 14)

Suatu kali, Absalom membuat sebuah strategi untuk dapat mengeser posisi ayahnya. Ketika strategi itu berhasil, maka Daud melarikan diri dari Yerusalem. Ketika melarikan diri, Daud dicaci maki oleh Simei.

 

V.                 Absalom meniduri gundik- gundik Daud di muka umum (2 Sam.16: 20- 23)

Absalom mempunyai penasehat bernama Akhitofel. Ketika Daud telah melarikan diri dari Yerusalem, maka Akhitofel memberikan saran kepada Absalom supaya meniduri gundik- gundik ayahnya didepan umum.

 

VI.              Absalom mati dibunuh oleh panglima Daud, Yoab (2 Sam.18: 9- 15)

Walaupun Absalom telah mengkhianati ayahnya sendiri, tetapi Daud tetap mengasihi Absalom. Oleh sebab itu, Daud berpesan kepada Yoab supaya jangan membunuh Absalom. Namun, Yoab tidak memperdulikan pesan Daud. Dalam suatu peperangan, ketika Absalom melarikan diri, ia tergantung pada sebuah pohon, lalu Yoab menikam Absalom dengan lembingnya.

 

VII.           Salomo membunuh Adonia (1 Raja 2: 13- 25)

Ketika Daud sudah lanjut usia, ia memutuskan untuk mengangkat Salomo, anaknya dari Batsyeba untuk menjadi raja. Hal ini tentu saja tidak membuat hati Adonia senang, sebab ia adalah anak- laki- laki Daud ke –empat. Tentu saja Adonia merasa lebih berhak dari Salomo, sebab ia jauh lebih tua dan juga lebih syah secara kekeluargaannya. Ia lalu mengangkat dirinya sendiri sebagai raja, tetapi Batsyeba bertindak cepat dan membujuk Daud supaya segera mengurapi Salomo (1 Raja 1).

Tetapi ternyata mayoritas rakyat telah mendukung Salomo, sehingga Adonia merasa takut dan memohon ampun, supaya ia tidak dibunuh. Setelah Daud meninggal dunia, Adonia meminta kepada Salomo supaya kepadanya diberikan Abisag, wanita muda yang telah menemani Daud sewaktu Daud usia lanjut, untuk menjadi istrinya. Hal ini menimbulkan murka Salomo dan akhirnya Adonia di bunuh dengan hukuman pancung kepala.

 

Jadi, Daud telah menabur dengan darah dan sex, ia menuai lebih daripada apa yang telah ia tabur.

 

Aplikasi:

·         

 

·         

 

Bagian V: Kita menuai pada musim yang berbeda dengan musim pada waktu menabur

Kembali kepada tumbuh- tumbuhan, seperti jagung, mangga ataupun durian. Kita menabur benih tersebut pada musim yang berbeda dengan pada waktu kita menuai. Jadi, kita menabur pada musim yang berbeda dengan musim pada waktu kita menuai. Apabila kita melihat Pengkotbah 3:1- 8 (mengenai waktu), maka dapat disimpulkan sbb.: “Untuk segala sesuatu pasti ada waktunya. Ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk menuai “(Pengk. 3: 2).

 

Jadi, ada selang waktu antara menanam dan menuai!

 

Contoh 1: Menuai Kejahatan pada musim yang berbeda

Seseorang yang menabur kejahatan pada masa sekarang, tidak langsung menuai minggu depan. Karena selalu ada selang waktu antara masa menabur dan masa penuaian!

Pengkotbah mengatakan: “Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat” (Pengk. 8: 11).

Apabila seseorang telah berbuat jahat, dikiranya ia tidak akan menuai apa- apa. Tetapi Tuhan tidak dapat dipermainkan! Orang tersebut akan menuai pada musim yang yang telah ditentukan baginya.

 

·        Izebel

Izebel adalah istri dari seorang raja Israel (Samaria), Ahab. Izebel adalah seorang wanita yang sangat jahat, yang melalui dia, orang- orang Israel menyembah berhala. Suatu kali, raja Ahab mengingini kebun anggur Nabot, tetangganya dan kemudian Izebel yang merekayasa pembunuhan atas Nabot, sehingga kebun anggurnya dapat dimiliki oleh Ahab.

Lalu, nabi Elia datang kepada Ahab dan Izebel dan mengatakan suatu nubuatan (Baca 1 Raja 21: 17- 19, 23). Nubuatan ini tidak terjadi dalam waktu dua bulan, melainkan beberapa tahun kemudian:

·        Raja Ahab mati pada tahun ke- 3, setelah nubuatan itu disampaikan. Darahnya dijilat oleh anjing(1 Raja 22: 34- 38)

·        Izebel mati pada tahun ke-13, setelah nubuatan itu disampaikan. Dagingnya di makan oleh anjing- anjing (2 Raja 9: 30 – 37).

 

Jadi, Ahab dan Izebel menuai perbuatan mereka dalam musim yang berbeda.

 

Contoh 2: Menuai yang baik pada musim yang berbeda

Alkitab mengatakan bahwa

“Janganlah kita jemu- jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah (Gal. 6: 9).

 

Aplikasi:

Tiga alasan kenapa orang menjadi jemu untuk menabur yang baik:

·        Menabur kebaikan adalah sesuatu yang berat

·        Karena tidak segera melihat hasilnya

·        Setan selalu menganggu pikiran kita

 

Dua alasan kenapa orang itu menjadi lemah:

·        Karena selalu mendengar suara orang lain

·        Karena Tidak mempercayai dan mengalami firman Tuhan

 

Jadi, apabila kita menabur yang baik, kita akan menuai hasilnya, pada musim yang telah ditentukan oleh Tuhan.

 

Konklusi:

Saulus, yang dikenal dengan rasul Paulus, adalah seorang Farisi yang sangat bengis terhadap orang Kristen: Saulus mempunyai filosofi, bahwa kalau ia menganiaya orang Kristen, dia berbuat baik terhadap agamanya. Suatu kali, dalam perjalanannya untuk menganiaya orang Kristen, Tuhan menemukannya di tengah jalan. Saulus bertobat.

Pertanyaan: Apakah Saulus, atau rasul Paulus menuai apa yang telah ia perbuat, dahulu?

Jawab: Ya! Sekalipun ia dipanggil dan diurapi dan diutus 

Sebagai rasul besar pada zamannya, ia tetap harus menuai apa yang telah ia tabur sebelum ia bertobat: Saulus menabur kebencian dan kekerasan, dan hal semacam itu juga yang harus ia tuai/ derita sebagai rasul.

 

Baca 2 Korintus 11: 23- 29 (penderitaan rasul Paulus sebagai pemberita Injil):

·        Di penjara berulang- ulang kali

·        Terancam maut berulang kali

·        Satu kali dilempari

·        Hukuman dera sebanyak tiga kali

·        Disesah sebanyak lima kali (5x 39)

·        Bahaya banjir, bahaya dikota, bahaya dilautan, bahaya digurun, bahaya penyamun

·        Ancaman terhadap kalangan Yahudi dan non- Yahudi

·        Sering kelaparan, bahkan tanpa pakaian

·        Tiga kali karam kapal

 

Tetapi apa rasul Paulus menyerah? Tidak sama sekali!

Baca Filipi 3: 12- 14!

 

I. Melupakan semua pengalaman yang pahit dimasa lalu

Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap apa yang telah kita tabur dimasa lalu. Semua sudah terjadi.

Mari kita melupakan semuanya.

 

II. Mengarahkan pandangan kedepan

Hari kemarin sudah lewat. Sekarang kita harus mengarahkan pandangan kita kedepan: mulai menabur yang baik dengan kesungguhan hati, supaya kita menuai berkat yang besar dimasa mendatang.