Pendahuluan.
Baca Lukas 15: 25- 31 !
Dalam perikop ini ada empat hal yang dapat kita simpulkan:
1. Si Sulung ini tidak mengasihi adiknya
2. Si Sulung ini iri- hati terhadap adiknya
3. Si Sulung ini meragukan kebijaksanaan ayahnya (merasa diperlakukan tidak adil)
4. Si Sulung ini tidak menyadari akan haknya sebagai anak.
Banyak orang- orang Krsiten yang tidak sadar akan haknya sebagai anak atau lebih tepat lagi sebagai pewaris kasih karunia yang berhak menerima janji Allah (Galatia 3: 29).
Contoh: Seorang anak dusun yang pergi ke luar negeri dengan kapal laut.
Bagaimana caranya supaya kita dapat menghindari hal tersebut?
Ada tiga hal yang harus kita lakukan untuk menghindari hal tersebut:
Contoh 1: Gideon (Hakim 6: 11- 12)
Terangan terangan dikatakan bahwa Gideon sedang mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur agar tersembunyi bagi orang Midian. Jadi, Gideon bukanlah seorang pahlawan, melainkan seorang pengecut. Tetapi ketika Malaikat Tuhan (Tuhan) bertemu dengan Gideon, Ia mengatakan : “Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”
Dari sini kita belajar satu hal bahwa yaitu cara Allah memandang kepada seseorang itu berbeda dengan cara kita melihat kepada orang tersebut:
· Abraham adalah seorang pengecut (ingat ketika ia sedang dalam pengungsian di Mesir, Kej. 12: 11- 13), tetapi Allah dapat memakai orang seperti Abraham yang akhirnya menjadi bapak orang beriman.
· Musa adalah seorang yang tidak fasih dalam berbicara, tetapi Allah dapat memakai Musa menjadi pemimpin yang terbesar dalam sejarah orang Yahudi.
· Rahab wanita seorang pelacur non Yahudi, tetapi Allah dapat memakai Rahad, yang akhirnya dari garis keturunan Rahad lahirlah Yesus.
· Daud adalah seorang pengembala domba, tetapi Allah dapat memakai Daud menjadi raja terbesar dalam sejarah Israel.
· Paulus adalah pembunuh besar dalam sejarah gereja mula- mula, tetapi Allah dapat memakai Paulus menjadi rasul yang besar.
Contoh 2: Yosua dan Kaleb
Perhatikan bahwa 12 pengintai itu mempunyai banyak sekali persamaan diantara mereka. Mereka sama- sama dalam:
· Kedudukan (semuanya kepala suku)
· Pengalaman masa lalu (semua menjadi budak bangsa Israel)
· Pengalaman mujizat Tuhan (semua keluar dari Mesir melintasi laut Teberau yang dikeringkan)
· Menikmati berkat Tuhan (semua minum air di Mara, makan kurma di Elim, makan roti manna dan makan daging burung puyuh dari surga)
· Tugas (mengintai negeri Kanaan)
Dengan begitu banyak persamaan latar belakang, mengapa 12- orang ini bisa membawa laporan yang berbeda?
Jawab: Karena mereka menggunakan ‘pandangan mata’ yang berbeda.
* Cara kita melihat kepada sesuatu itu sangat menentukan sikap kita.
Baca Kejadian 13: 14- 15 , “What you see is what you get”
Kesaksian:
· Seorang Ibu dari Korea
· Seorang pemuda yang kena kanker
Contoh: Woodduck
Wood duck adalah sejenis bebek yang apabila mau bertelur, ia akan mencari sebuah pohon dan kemudian melubangi pohon tersebut (kurang lebih 30 m dari tanah) dan membuat sarang di dalam pohon tersebut. Telurnya di kerami untuk selama 11- hari. Selama induk mengerami telurnya, ia berkomunikasi dengan anaknya yang masih belum sempurna. Komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting bagi bebek kayu ini. Dan apabila sudah tiba waktunya untuk menetas, maka sang induk memerintahkan kepada setiap anak, yang di dalam telur, untuk memecahkan kulitnya sehingga mereka boleh keluar dari telur tersebut. Setelah menetas dua puluh empat jam, maka sang induk turun dari sarang dan kemudian memerintahkan supaya setiap anaknya melompat kebawa, dengan ketinggian 30- m. Anak- anaknya mendengar panggilan sang induk, dan kemudian melompat/ terjun dari sarang (bayangkan anak bebek yang masih kecil mungil harus melompat setinggi 30- m). Ketaatan berarti hidup dan tidak taat berarti mati bagi anak- anak bebek kayu ini.
Apabila mereka tidak taat, mereka akan tinggal di lubang sarang dan mati kelaparan atau apabila mereka terlambat terjun, maka mereka akan ketinggalan dan menjadi mangsa binatang buas.
Hasil penyelidikan menyatakan:
1. Apabila sang induk, setelah bertelur, dipisahkan dari telurnya, maka setelah telur tersebut menetas anak- anak bebek kayu ini tidak akan mentaati sang induk, karena tidak ada komunikasi sebelumnya.
2. Apabila bebek kayu yang sudah dewasa tidak pernah mentaati suara sang ibunya, maka keturunan/ generasi mereka tidak akan servive, karena mereka tidak berhasil untuk mendidik anak- anak mereka didalam ketaatan.
Jadi ketaatan adalah faktor hidup dan mati bagi bebek kayu! Ketaatan dimulai dari semasa di dalam telur.
Kepada siapa Tuhan memerintahkan kita harus taat?
Kesaksian:
· Istri dari seorang Missionari di Belanda
· Watchman Nee (Desa Mei-hwa, dewa Ta- Wang, Festival, 11 January, 286 tahun)
Baca Yohanes 12: 24 !
Kesaksian:
· Ratu Elisabeth
·
Konklusi:
Kita tidak akan menjadi serupa dengan anak yang Sulung apabila kita memiliki kesadaran bahwa kita sebagai orang percaya adalah pewaris kasih karunia.