Hak Kita Sebagai Anak Sulung

 

Pendahuluan.

Baca Lukas 15: 25- 31 !

 

Dalam perikop ini ada 5 hal yang dapat kita simpulkan:

1. Si Sulung ini kurang cinta terhadap adiknya

2. Si Sulung ini tidak bisa mengampuni

3. Si Sulung ini iri hati terhadap adiknya

4. Si Sulung ini meragukan kebijaksanaan ayahnya (merasa tidak diprelakukan secara adil)

5. Si Sulung ini tidak sadar akan haknya sebagai anak

 

Saya ingin membahas bagian ke lima, yaitu “Si Sulung tidak menyadari akan haknya sebagai anak.”

illustrasi: Seorang ibu yang memiliki anak yang sakit parah.

 

Bukankah banyak orang Kristen yang tidak sadar akan haknya sebagai anak Allah?

contoh: Yang satu suksess yang lain tidak.

 

Bagaimana caranya supaya kita dapat mengindari hal tersebut?

 

Ada tiga langkah supaya kita dapat menghindari hal seperti yang dialami oleh anak Sulung:

 

I. Kita harus punya pandangan yang benar

contoh: Tuhan melihat kepada Gideon (Hakim 6: 11- 12)

 

Cara kita melihat kepada sesuatu sangat menentukan sikap kita.

contoh: Pengalaman Yosua dan Kaleb

Perhatikan bahwa 12 pengintai itu mempunyai banyak sekali persamaan diantara mereka. Paling sedikit lima: Mereka sama - sama dalam

·      kedudukan (semuanya pemimpin / kepala suku)

·      pengalaman masa lalu (semua lahir di Mesir dan menjadi budak bagi orang Mesir)

·      pengalaman mujizat Tuhan (semua keluar dari Mesir dengan melintasi laut Teberiau)

·      menikmati berkat Tuhan (mereka minum air di Mara, makan kurma di Elim, makan roti manna, makan daging burung puyuh)

·      tugas (mengintai negeri Kanaan)

 

Dengan paling sedikit lima persamaan, mengapa 12 orang ini bisa membawa laporan yang berbeda?

Jawab: Karena mereka menggunakan pandangan mata yang berbeda. Cara kita melihat kepada sesuatu itu, sangat menentukan sikap kita.

contoh:

·      Ibu Korea

·      Pemuda yang kena kanker

 

II. Kita harus taat

contoh: Woodduck

Ketaatan merupakan faktor yang menentukan hidup atau mati bagi seekor bebek kayu.

Nabi Samuel pernah berkata kepada raja Saul: “Sesungguhnya ketaatan lebih baik dari pada pengorbanan” (1Sam. 15: 22b).

 

Kepada siapa Tuhan memerintahkan supaya kita harus taat?

1. Kepada Tuhan (Kis. 5: 29)

2. Kepada orang tua (Ef. 6: 1- 3)

3. Kepada pimpinan Gereja (Ibr. 13: 17)

4. Kepada pemerintah (Tit. 3: 1)

5. Kepada majikan (Kol. 3: 22)

6. Kepada hati nurani (Rom. 13: 5)

 

contoh: Missionari di negeri Belanda

 

III. Kita harus berani bekorban

Pengorbanan itu sama dengan menabur (Yohanes 12: 24 , biji gandum).

Kesuksesan seseorang sangat bergantung dengan harga yang harus dibayar.

contoh:

Ratu Elisabeth

 

Konklusi: