Hikmat Allah
Serie 3
I. Untuk semua perintah Tuhan dan prinsip-prinsip yang ada di dalam Alkitab kita harus mentaatinya.
contoh:
1. Kekudusan (1Petr. 1: 15- 16, Ibr. 12: 14)
2. Kesucian (1Yoh. 3: 3)
3. Kasih (Ef. 5: 1- 2)
4. Pengampunan (Mat. 6: 14)
5. Murah Hati (Luk. 6: 36)
6. Memberi (2 Kor. 9: 6-7)
7. Bertekun dalam iman (Ibr. 12: 1- 2)
8. Kebenaran (1Yoh. 3: 7)
Perintah Tuhan, yaitu
1. Yoh. 13: 17 , melakukan perintaNya supaya di ‘berkati’ (kata ‘bahagia’ disini kurang tepat).
2. 1Kor. 7: 19, taat akan hukum Allah yang terpenting.
3. Yos. 1: 8, merenungkan firmanNya, supaya kehidupan kita selalu beruntung.
4. Maz. 1: 1- 3, merenungkan FirmanNya, supaya perjalanan hidup kita berhasil.
5. 1Yoh. 5: 3, perintah Tuhan itu tidak berat.
II. Untuk hal-hal yang tidak terdapat di Alkitab, maka kita bebas memilih, sesuai dengan kehendak bebas kita, asalkan tidak bertentangan dengan firman Allah. Allah berkenan akan keputusan kita, selama tidak bertentangan dengan firman Allah.
*Kehendak bebas ini Tuhan berikan kepada manusia sejak pada mula penciptaan.
Prinsip dalam kehendak bebas, terdapat pada 1Yoh. 3: 4, “Dosa ialah pelanggaran akan hukum Allah”.
Jadi manusia itu bukanlah robot. Ketika Allah berfirman kepada Adam, “semua pohon boleh di makan kecuali pohon pengetahuan akan yang baik dan jahat.” Jadi Tuhan memberi kepada Adam kebebasan untuk makan pohon -pohon yang lainnya, tiap hari.
contoh: Makanan yang telah di persembahkan kepada berhala boleh dimakan asalkan tidak menimbulkan keberatan hati orang lain (1 Kor 8: 9- 13). Jadi kalau diundang oleh orang yang belum percaya, kita bebas untuk datang atau tidak.
Gambar:
III. Dalam keputusan yang tidak bersangkutan dengan moral, sebagai orang percaya kita harus memakai hikmat kita atas dasar demi kerohanian kita. Jadi atas alasan untuk kemanfaatan rohani, Kis. 20: 16.
Kalau kita lihat surat -surat rasul Paulus, seperti (a) bila perlu kalau kamu anggap layak (1Kor. 16: 3) dan (b) kalau ternyata penting (1Kor. 16: 4) lalu (c) aku memutuskan (Ti. 3: 12).
Kolose 4: 5, mengatakan “hiduplah dengan penuh hikmat” dan Ef 5: 15-16 memuat “hiduplah seperti orang arif/ bijaksana”.
Bagaimana supaya kita dapat beroleh hikmat?
Ada tujuh hal untuk beroleh hikmat:
a. Mencari dengan tekun ( Ams. 8: 17b)
b. Takut akan Tuhan ( Ams. 9: 10)
c. Minta pada Tuhan ( Yak. 1: 5- 6, Kol. 1: 9- 10)
d. Membaca Firman Tuhan ( Maz. 119: 97- 100)
e. Menyelidiki ( Neh. 2: 11- 16 ; Luk. 14: 28- 32 )
f. Penasehat/ Counselor yang bijaksana ( Ams. 13: 20 ; 15: 22)
g. Pengalaman pribadi ( Ibr. 5: 14: orang yang dewasa yang terlatih panca-inderanya untuk membedakan yang baik dan yang jelek)
contoh: Menentukan dimana kita berjemaat.
VI. Dalam semua keputusan kita, sebagai orang percaya, kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan, supaya Dia dengan kedaulatanNya ikut ambil bagian dalam setiap keputusan kita.
Pertanyaan: Sejauh mana hubungan kehendak Tuhan secara kedaulatan dengan kehendak bebas kita ?
Jawab:
Kalau kedaulatan Tuhan menentukan segala nya untuk apa kita mengambil keputusan. Kehendak Tuhan dalam kedaulatanNya ini (1) pasti digenapi, (2) lengkap, (3) rahasia dan (4) sempurna (Membawa kemuliaan bagi Allah). Cara Tuhan bekerja dalam kedaulatanNya sesuai dengan kehendak bebas kita dan karakter (nature) kita. Jadi setiap orang bertanggung jawab atas keputusan dan prilakunya.
contoh: Yudas
(Tuhan bekerja sesuai dengan situasi dan kehendak Yudas yang menentukan bagaimana Yudas akan mengexpresikan keinginannya yang jahat. Tuhan tahu Yudas akan berbuat hal itu dengan sukarela sesuai dengan cara yang tepat untuk menggenapi rencanaNya)
*Hubungan antara kehendak Tuhan karena kedaulatanNya dengan keputusan kita :
a. Kita tetap perlu berencana, tetapi kedaulatan Tuhan yang menentukan.
Contoh: Yak. 4: 13- 16
Starting time, lokasi, goal, target, tanggal untuk kompetisi.
Rencana Paulus selalu terlaksana, Kis. 18: 21. Demikian juga kalau kita berencana dengan baik. Apabila kita gagal, maka kita harus memeriksa kembali strategi dan motivasinya. Sebagai manusia kita sangat terbatas, oleh sebab itu kita perlu tekankan, “kalau Tuhan mengekehendaki”.
b. Karena rencana kedaulatan Tuhan tidak bisa di ketahui sebelumnya, sehingga ini tidak bisa diperhitungkan saat kita memilih atau membuat rencana. Walaupun kedaulatanNya menentukan keadaan dan kesempatan atau pintu terbuka, tetapi tetap perintah Tuhan dalam moral dan hikmat yang menentukan dalam keputusan -keputusan kita.
Contoh: Dengan tanda dan hikmat
Jual mobil kalau ada tawaran $2000 akan dijual, lalu doa dan minta suapay ada yang membeli. ternyata ada tawaran $1900; lalu dijual karena $1900 itu cukup dekat dengan $2000. jadi tidak harus $2000 persis.
Jadi kesimpulannya sebagai berikut, bahwa kedaulatan Tuhan itu harus menguasai sikap (attitude) kita dalam memutuskan sesuatu.
Ada lima cara rasul Paulus mengambil keputusan:
a. Tujuan/ goal = spiritual goal (sasaran rohani) , Rom.1: 11
b. Prioritas: Tujuannya di bagi, seperti
pertama, untuk orang-orang bukan Yahudi yang belum percaya, Rom. 11: 13
kedua, ke Yerusalem membawa persembahan untuk orang-orang kudus (harta duniawi), Rom. 15: 25
c. Rencana (Rom. 1: 13, ‘planing’ bukan ‘niat’): rencana untuk melaksana strategy
d. Berdoa (Rom. 1: 10) : melalui doa Paulus menyerahkan seluruh rencananya kepada Tuhan.
e. Tekun (Bila rencana Paulus mengalami kegagalan, Paulus percaya itu adalah kehendak Tuhan. Sehingga dia tidak kecewa, karena dia tahu bahwa hanya tunggu waktu Tuhan saja. Rom. 15: 22 , di mana Paulus terhalang untuk ke Jerusalem, dan ayat 20 mengatakan karena “dia harus menginjil diantara orang yang tidak percaya”. Lalu Rom. 8: 28, Paulus mengatakan bahwa “Dalam segala sesuatu Allah turut bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang dikasihiNya”.
Jadi cara rasul Paulus melaksanakan setiap keputusannya berdasarkan kehendak Allah dan dengan menerapkan hikmatnya.
Cara Tuhan memimpin umatNya di Perjanjian Lama & Baru:
Perjanjian Lama : Tuhan memberikan perintah secara terperinci dan specific.
contoh: makanan, persembahan, ukuran bangunan Bait Allah
Perjanjian Baru: Tuhan tetap memberikan perintah untuk moral, dan lebih banyak pilihan/ kebebasan.
Perjanjian Lama: Tuhan memperlakukan umatNya sebagai orang yang belum dewasa.
Perjanjian Baru: Tuhan memperlakukan kita sebagai orang yang dewasa, karena Yesus Kristus dan Roh Kudus.
Kelemahan-kelemahan didalam mencari kehendak Tuhan secara pribadi:
1. Untuk keputusan yang penting saja.
Dalam keputusan sehari-hari: Kita memakai hikmat kita. Makin penting keputusan yang diambil, makin banyak waktu dan energi yang diperlukan untuk pertimbangan. Karena itu untuk keputusan sehari-hari kita harus bisa putuskan dengan cepat dan tidak membuang-buang waktu (Ef. 5: 15- 17).
2. Pandangan hanya ada satu jawaban dari Tuhan.
Hikmat mengajar kita untuk mengucap syukur kepada Tuhan dengan Dia memberi kepada kita banyak kesempatan dan pilihan.
Rom. 4 : 15, “dimana tidak ada hukum disitu tidak ada pelanggaran.”
1Yoh. 3 : 4, “ dosa adalah pelanggaran hukum Allah”.
3. Cara mengatasi keputusan yang tidak dewasa.
a. Menghindari Tuhan bicara
Hikmat membuat kita lebih bisa melihat pada realitas.
Kis. 6 : 3, ...penuh Roh & hikmat
1Tim. 3 : 2, penatua = bijaksana = penuh hikmat
1Kor. 6 : 5, Paulus bertanya, tidak adakah diantaramu yang berhikmat ?
Jadi setiap keputusan harus ada alasan yang jelas. Kalau kita mengatakan:”Tuhan memimpin saya berbuat ini/itu” bisa salah, tanpa alasan yang jelas.
contoh: rasul Paulus.
b. Menghindari buang waktu
Dengan hikmat kita menghindari untuk buang-buang waktu. Kita pakai untuk mengumpulkan data-data dan kenyataan, termasuk keinginan kita, sehingga kita tidak membuang waktu dengan menunggu Roh Kudus berbicara.
c. Menghindarkan bahwa hanya ada satu kehendak Allah.
1 Kor. 7: 39 : Kalau suami menceraikan istri dan bebas kawin dengan siapa saja asalkan orang percaya. Jadi dengan hikmat kita memutuskan sesuai keinginan bebas kita dengan penuh ucapan syukur.
d. Menghindari keadaan mendikte.
Orang yang dewasa dan berhikmat akan menentukan keadaan yang mana yang bisa di pakai untuk tanda bukan sebaliknya.
*Kedewasaan yang penting didalam mengambil keputusan, karena hikmat iu bertumbuh sejalan dengan kedewasaan kita.
4. Subjektif
Subjektif ini berhubungan dengan ‘emosi’.
Ada dua macam emosi:
a. Emosi sebagai penggerak (initiator): Kalau kita jatuh cinta atau dalam pelayanan, emosi membuat kita berbuat salah. Emosi yang positif adalah sukacita sehingga mendorong kita untuk menolong orang lain.
b. Emosi sebagai reaksi: sakit, obat, hormon (hamil, periode), weather, dust dll.
Jadi kalau kita terlalu sering pakai perasaan seolah - olah Roh Kudus dalam diri kita berbicara, sangat bahaya, itu bisa salah.
Orang yang berjalan atas dasar perasaan dan suara hati yang dikira suara Tuhan, seperti diombang ambingkan angin (Yak.1: 6). Orang demikian sangat bahaya, karena dia bisa jauh dari Tuhan tanpa merasa bersalah atau bisa juga tidak merasa adanya hadirat Tuhan tanpa alasan.
Kesimpulan :
· Hikmat membawa kita percaya kepada Tuhan (2 Kor. 5: 7 : We walk by faith and not by sight).
· Firman Allah untuk mendidik dan menyatakan kesalahan dan untuk memperlengkapi setiap perbuatan baik (2Tim. 3: 16-17).
Jadi firman Tuhan tidak mengajar kita untuk mengambil keputusan dalam setiap masalah atau situasi, melainkan memberi kita hikmat supaya bisa memutuskan sesuai dengan prinsip Tuhan. Semakin kita dewasa dan beriman, maka semakin bertambah hikmat kita dan semakin kita juga mengerti prinsip-prinsip atau hal-hal yang menyenangkan Allah kita (Ibrani 5 : 14).
· It is God who is at work in you both to will and to work for His good pleasure (Fil. 2: 13). Mengerjakan berarti ‘energeo’ (bahasa Greek) yang dapat diartikan ‘motivasi’. Jadi Allahlah yang menimbulkan dorongan atau motivasi kita.
Contoh: Dalam hal mencari pasangan hidup !
Sehubungan dengan Ishak, sebenarnya Tuhanlah yang telah menentukan/ memilih jodoh bagi Ishak. Tetapi perhatikan, bukan berarti bahwa Tuhan akan memilihkan jodoh untuk setiap orang. Sebenarnya kalau kita menyelidiki ceritera nya dengan seksama maka karena janji Tuhan kepada Abraham (God’s covenant) bahwa dari dia akan lahir suatu bangsa yang besar. Dan Allah tidak dapat membatalkan covenantNya.
Syarat-syarat yang Alkitab berikan sehubungan dengan pasangan hidup :
1. Saudara yang seiman (2 Kor.6: 14)
2. Pasangan yang berhikmat (Ams. 2: 1- 6). Alasannya adalah karena supaya seimbang
3. Perkawinan itu merupakan ‘dua’ menjadi ‘satu’ atau menjadi ‘satu daging’ (Kej. 2: 24, Mat.19: 5, Ef. 5: 31)
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan:
a. Apa tujuan perkawinan?
b. Perintah Allah untuk suami isteri supaya dapat menggenapi tujuan perkawinan.
c. Tanggung jawab suaimi / isteri.
Tambahan:
1.Tujuan perkawinan dalam Tuhan untuk meningkatkan potensi dari pekerjaan Tuhan (pelayanan, atau panggilan Tuhan) di dunia ini.
Dalam memilih jodoh yang utama adalah apakah wanita atau laki-laki tersebut bisa memenuhi perintah Allah dan apakah dia bisa comimment dengan panggilan Allah dalam hidup bersama. Amsal 3: 10 mengatakan isteri yang cakap lebih berharga dari pada permata. Jadi moral dan kedewasaan rohani sangat penting dalam memilih jodoh.
Karena itu perlu (a) orang yang percaya dan (b) yang sanggup memenuhi kewajiban sebagai suami atau isteri (Ef 5: 22- 25) lalu (c) counsel dengan orang yang bijaksana dan (d) melihat fakta sesuai pemikiran sehat (ekonomi, latar belakang keluarga, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, persetujuan kedua orang tua dsb.) dan terakhir (e) keinginan pribadi yaitu mengutamakan kerohanian. Karena Roma 12: 2 mengatakan, “Jangan menjadi serupa dengan dunia ini”. Tetapi dalam masa memilih jodoh atau perkawinan selalu keinginan kita dipengaruhi oleh keadaan atau emosi kita (tertarik) dari pada oleh Tuhan.
2. Bagi orang tua yang melarang anak-anaknya ke gereja atau dibaptis:
a. Hormatilah orang tuamu (Ef. 6: 1- 3)
b. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, jiwamu, akal budimu dan kekuatanmu (Mar. 12: 30)
c. Kasih adalah panjang sabar, tidak memegahkan diri dan tidak sombong........dst. (1 Kor. 13: 4 -7)
d. Siapa yang mengasihi orang tuanya atau saudaranya lebih dari pada Aku, ia tidak layak bagiKu (Mat.10: 37)
Jadi dari segala prinsip-prinsip yang ada maka kita bisa dengan hikmat mengambil keputusan untuk dibaptis ataupun kegereja.