Gideon’s Principle

 

Pendahuluan.

 

Hari ini kita mau belajar dari pristiwa Gideon, bagaimana prinsip Allah dalam memakai sesuatu yang sedikit tetapi menghasilkan yang maximal.

 

Sebelumnya kita membaca Hakim 7: 1-8!

Latar belakang:

Setiap kali bangsa Israel berbalik setia dari pada Tuhan, maka Allah memakai bangsa-bangsa lain untuk menindas mereka. Pada, zaman Yerubaal (dikenal dengan Gideon), Allah memakai orang -orang Midian untuk menindas bangsa Israel.

Pada suatu kali, teriak orang-orang Israel sampai kepada Tuhan dan akhirnya, Allah memilih Gideon sebagai hakim atas bangsa Israel yang sekaligus dibawa pimpinannya mengadakan perlawanan terhadap orang-orang Midian.

 

Dari perikop ini kita dapat belajar dua hal terlebih dahulu:

I.                   Mathematika Allah

Sebelum orang-orang Israel maju ke medan peperangan, maka Gideon berhasil menggumpulkan 32.000 tentara. Tetapi Tuhan berfirman kepada Gideon, bahwa jumlah itu terlalu banyak. Akhirnya Gideon mengatakan kepada rakyatnya, bahwa barangsiapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang kerumahnya. Lalu pulanglah 22.000 orang dari rakyat itu dan tinggal 10.000 orang (ayat 2-3).

Tetapi Tuhan berfirman lagi kepada Gideon, masih terlalu banyak rakyat yang bersama dia ikut berperang. Akhirnya, setelah diadakan seleksi, maka tinggallah 300 orang dari 10.000 tadi (ayat 4-7).

Dengan jumlah 300 tentara, Gideon berhasil dalam peperangan mengalahkan orang-orang Midian.

Seandainya, Gideon membawa 32.000 tentaranya untuk berperang, pastilah Gideon kalah. Namun, dengan jumlah yang kecil (sedikit) ia berhasil mengalahkan suatu pasukan yang besar.

 

The Gideon’s Principle ini berlawanan dengan “Conventional Thinking”:

v     The Gideon’s Principle : Dengan sedikit kita dapat mengerjakan yang maximal

v     Conventional Thinking: Dengan sedikit kita hanya menghasilkan sedikit, tetapi dengan banyak kita menghasilkan yang banyak.

 

Apabila kita kembali kepada Perjanjian Baru, Yesus pun pernah melakukan hal yang similar.

Matius 15 mengatakan, ketika Yesus memberi makan kepada empat ribu orang lelaki (tidak termasuk anak-anak dan wanita), Ia hanya membutuhkan 7 roti saja. Setelah mereka makan sampai kenyang, sisa yang dikumpulkan sebanyak 7 bakul.

Matius 14, mengatakan, ketika Yesus memberi makan kepada lima ribu orang lelaki (tidak termasuk anak-anak dan wanita), Ia hanya memerlukan 5 roti saja. Setelah mereka makan sampai kenyang, sisa yang dikumpulkan sebanyak 12 bakul.

 

Apabila kita menghitung secara matematika Allah, maka sbb.:

Ø      7 roti untuk 4000 orang, sisanya 7 bakul

Ø      5 roti untuk 5000 orang, sisanya 12 bakul

Ø      3 roti untuk 6000 orang, sisanya 17 bakul

Ø      1 roti untuk 7000 orang, sisanya 22 bakul.

 

Jadi, generasi Gideon dan murid-murid Yesus pernah melihat kemungkinan semacam ini, yaitu dengan sedikit dihasilkan sebanyak-banyaknya.

 

Dalam suatu krisis, ‘The Gideon’s principle’ sangat berguna bagi orang –orang yang mempercayai Tuhan untuk melakukan perkara-perkara yang besar.

 

II.                Kenapa Sedikit?

Kenapa kepada Gideon, Allah meminta dengan jumlah yang sedikit untuk menghasilkan kemenangan?

 

Ada tiga alasan untuk itu:

  1. Supaya orang-orang Israel tidak memegahkan diri (ayat 2)

Seandainya Gideon membawa 32.000 tentaranya untuk berperang melawan orang-orang Midian, dan menang, maka demikianlah yang akan mereka katakan, ”Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku”.

 

Aplikasi:

Allah selalu memakai cara yang tidak terpikirkan oleh manusia untuk mendatangkan kemuliaan bagi namaNya. Apabila kita kembali kepada pahlawan-pahlawan iman dalam Perjanjian Lama (Abraham, Yakub, Yusuf, Saul, Salomo, Daud, Nehemia, Daniel, dan semua raja-raja serta hakim hakim yang telah terpilih), maka kita akan melihat bagaimana Allah memakai mereka dengan jalan merendahkan hati mereka sehingga tidak ada yang dapat mengatakan, bahwa tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku.

Baca Ulangan 8: 17!

 

Dalam hidup kita sekalipun (suatu perjalanan rohani bersama Tuhan), Allah sering mendatangkan hal-hal yang tidak sejalan dengan pikiran atau pilihan kita. Hal ini dilakukan-Nya semata-mata untuk menunjukkan kemuliaanNya.

Contoh:

 

Baca Mazmur 139: 17!

 

Jadi, alasan pertama kenapa Allah menolak dalam jumlah yang banyak adalah supaya orang-orang Israel tidak memegahkan diri mereka.

 

  1. Ada dua kelompok yang ditolak Tuhan

 

2.1. Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang (ayat 3)

Bagaimana kita dapat berperang dan meraih kemenangan apabila tentara yang ikut serta adalah orang yang takut dan gentar terhadap musuh?

Dalam hal ini, mereka adalah sekelompok orang-orang yang mempunyai keinginan tetapi tidak ‘bersedia’.

 

Aplikasi:

Di gereja sekalipun ada orang-orang yang selalu mempunyai keinginan tetapi tidak ‘bersedia’.

Contoh:

v     Mereka ingin ikut dalam pelayanan, tetapi tidak bersedia untuk dikoreksi

v     Mereka ingin ikut dalam pelayanan, tetapi tidak bersedia untuk Bible class

v     Mereka ingin diberkati, tetapi tidak bersedia untuk memberi persembahan persepuluhan

v     Mereka ingin ini dan itu, tetapi tidak bersedia…….

 

Jadi, alasan kedua kenapa Tuhan menolak dalam jumlah yang banyak, disebabkan oleh karena banyak orang-orang Israel yang punya keinginan untuk ikut berperang tetapi tidak mempunyai kesungguhan hati (kesediaan hati).

Allah menolak orang-orang Kristen yang hanya punya keinginan tetapi tidak bersedia untuk membayar harganya untuk keinginan tersebut.

 

2.2. Pisahkan antara mereka yang minum air dari tangan dengan minum air dengan lidahnya menjilat (ayat 5-6)

Apa perbedaan antara mereka yang minum air dari tangan dengan minum air dengan lidahnya menjilat. Bedanya adalah sbb.: Yang satu membawa air ke dalam mulutnya, yang lain membawa mulutnya kedalam air.

Orang yang membawa mulutnya kedalam air adalah orang-orang yang tidak memiliki keperdulian sama sekali (orang-orang yang cuek).

Bagaimana kita dapat berperang dan meraih kemenangan apabila tentara yang ikut serta adalah orang yang tidak mempunyai keperdulian sama sekali?

Jadi, Allah bukan saja menolak mereka yang mempunyai keinginan tanpa kesediaan, melainkan Allah juga menolak mereka yang bersedia tetapi tidak mempunyai keperdulian sama sekali.

 

Illustrasi:

Giraffes adalah binatang yang sangat unik, karena lehernya yang sangat panjang. Apabila seekor Giraffe minum air dari sebuah danau, di Afrika, maka binatang ini mengkesampingkan kedua kakinya, sehingga tubuhnya bisa mendekat ketanah, lalu kemudian ia menurunkan lehernya yang panjang kedalam danau tersebut dan menjilat air untuk beberapa teguk. Setelat itu, Giraffe tersebut berdiri lagi, dan beberapa saat kemudian ia mengkesampingkan kedua kakinya lagi, sehingga tubuhnya dekat dengan tanah dan menurunkan lehernya yang panjang ke danau tersebut dan menjilat beberapa teguk air, kemudian ia berdiri lagi… demikian yang dilakukannya sampai ia melepaskan dahaganya.

Kenapa Giraffe melakukan hal yang demikian?

Hal ini disebabkan oleh karena, ketika Giraffe sedang minum air di sebuah danau, pada saat itu posisinya sangat rawan dan biasanya pada kesempatan demikian, musuhnya (harimau, singa) selalu menyerangnya dari belakang.

 

Posisi minum air dari sebuah danau, yang paling rawan adalah ketika kita memasukkan mulut kita ke dalam air. Pada posisi tersebut, musuh dapat menyerang kita dan mengalahkan kita. Oleh sebab itu, Allah menolak orang-orang Israel yang membawa mulutnya ke dalam air. Mereka ini tergolong orang-orang yang tidak ‘berpedulian’.

 

Aplikasi:

Di gereja sekalipun ada orang-orang yang bersedia tetapi tanpa ‘keperdulian’.

Contoh:

v     Mereka bersedia  ikut dalam pelayanan, tetapi tidak mempunyai keperdulian terhadap peraturan-peraturan dan nilai-nilai firman Tuhan

Contoh: Datang telat, pakaian yang tidak tepat, kebersihan, dll.

 

v     Mereka bersedia untuk memakai alat-alat musik yang bagus, tetapi tidak mempunyai keperdulian dengan pemeliharaannya

Contoh: Alat-alat yang tidak pernah dibersihkan

 

v     Mereka bersedia  ini dan itu, tetapi tidak memiliki keperdulian sama sekali…….

 

Jadi, alasan ketiga kenapa Tuhan menolak dalam jumlah yang banyak, disebabkan oleh karena banyak orang-orang Israel yang punya kesediaan untuk ikut berperang tetapi tidak memiliki keperdulian sama sekali.

Allah menolak orang-orang Kristen yang hanya punya kesediaan tetapi tidak memiliki keperdulian sama sekali.

Bagi Allah, jumlah tidak menjadi masalah, yang diperlukan adalah orang-orang yang memiliki keinginan + kesediaan dan kesediaan + keperdulian.

 

Konklusi: Bagaimana kita beroleh yang maximal dari yang sedikit

Baca Kitab 2 Raja 4: 1- 7!

(Dengan minyak yang ada dalam sebuah buli-buli, Allah membayar seluruh hutang seorang janda serta mencukupi seluruh kehidupannya, hingga akhir hidupnya)

 

Dari perikop ini kita hanya ambil dua prinsip dasar untuk beroleh yang maximal dari yang sedikit:

 

  1. Memakai apa yang  kita sudah miliki (ayat 2)

Miracle is not magic, but multiplication. Jadi mujizat itu selalu di hubungkan dengan kelipatan.

Dan Miracle itu selalu di mulai dengan sesuatu yang ada pada diri kita. Bukan dengan sesuatu yang tidak kita miliki.

Nabi Elisa bertanya kepada janda miskin ini, ”beritahukan apa- apa yang kau punya di rumah?”   Elisa tidak bertanya kepada sesuatu yang tidak ada pada janda miskin ini, melainkan sesuatu yang ia miliki.

 

Allah memberikan kepada setiap manusia tiga resources:

o       Waktu

Orang dunia sering berkata bahwa, “waktu adalah uang”. Pepatah ini bodoh sekali. Karena kalau waktu adalah uang, maka berarti kita bisa menukar waktu dengan uang. Pepatah yang tepat adalah: “Lebih mudah mencari uang dengan waktu, tetapi tidak mudah dengan uang mencari waktu.”

Kalau waktu bukan uang, bagaimanakah kita harus memandang waktu itu?

Waktu adalah kesempatan. Waktu harus digunakan semaximal mungkin untuk menghasilkan sesuatu yang maximal.

 

o       Uang

Uang tidak dapat membeli keselamatan, kebahagiaan, dll. Uang, pada dasarnya, diperlukan untuk menyediakan kebutuhan dasar (pokok).

Yesus selalu berbicara mengenai benih yang ditanam bukan buah yang dipetik (dinikmati). Jadi, Uang, selain diperlukan untuk menyediakan kebutuhan dasar (pokok), juga merupakan investasi. Dengan jalan demikian, kita akan lebih banyak menuai di hari depan (2Kor. 9: 6, Ams. 22: 9, Peng.11: 1-2)

 

o       Pekerjaan

Kerja bukan merupakan kutuk, karena sebelum dosa masuk kedalam dunia, Allah telah memberikan Adam pekerjaan (memelihara seluruh tanaman dan semua binatang di Firdaus). Bagi orang Yahudi, kata ‘worship’ dan ‘pekerjaan’ adalah sama, yaitu “Avodah’. Bagi orang Yahudi tidak ada pekerjaan yang secular dan yang sacral (kudus), melainkan kedua-duanya sama, yaitu sacral (Avodah = worship to God).

Jadi, bertolak dari kata ‘Avodah’, pekerjaan merupakan suatu anugerah dari Tuhan. Kita harus mempunyai sikap (attitude) bahwa, “kerja bukan untuk sekedar mencari uang, melainkan kerja merupakan suatu kehormatan “.

 

B.     Menutup pintu keraguan (ayat 4)

Setelah nabi Elisa memerintahkan janda miskin ini pergi untuk meminjam botol- botol kosong dari tetangganya, maka ia memerintahkan supaya janda ini menutup pintu rumahnya. Hal ini untuk menghindari rasa ingin tahu dari tetangga- tetangganya. Mereka pasti menduga bahwa janda ini sudah gila. Oleh sebab itu, nabi Elisa memerintahkan supaya janda ini menutup pintu rumahnya setelah ia dan anak- anaknya mendapatkan botol- botol kosong. Hal ini berbicara mengenai pintu keraguan.

Ada tujuh sumber keragu-raguan:

-  Faktor intelektuil

-  Faktor kekecewaan

-  Faktor pergolakan emosi (semak duri yang terbakar, tetapi tidak hangus)

-  Faktor kesombongan

-  Mempunyai pandangan yang salah mengenai Allah

-  Pondasi kekristenan yang sangat lemah