Menemukan apa yang terbaik bagi Allah dalam hidup

 

Pendahuluan.

Baca Efesus 2: 10 !

 

Hidup dengan memiliki suatu tujuan berarti hidup dengan mengetahui yang terbaik dari Tuhan.

Mengetahui tujuan hidup sangat penting dalam kehidupan kita, terutama bagi yang masih muda, mengapa?

Orang yang tidak memiliki tujuan yang hidup jelas, kehidupannya akan disibukkan oleh berbagai hal dan orang lain atau keadaan sekitar akan menentukan kehidupannya.

§         Banyak orang tujuan hidupnya ditentukan oleh pekerjaan dan  kariernya, sehingga

sibuk sekali bertelepon, travelling, akibatnya keluarga dan pelayanan terlantar.

Contoh: John Gilmore

§         Ada orang yang tujuan hidupnya ditentukan oleh keadaan keluarga dan lingkungan. Untuk menyesuaikan diri dengan mereka yang mampu, orang tua memaksakan anaknya les ini dan itu, mengirim anak keluar negeri, tidak tahu apa yang terbaik untuk masa depan anaknya.

§         Mark seorang Lawyer bekerja dari jam 5 pagi, supaya mempunyai waktu untuk isteri dan anaknya, karena tinggal didaerah prominent, dia sibuk dengan mengantarkan anaknya les, sampai minggu pagi harus mengantarkan anak soccer, minggu sore shopping dengan isteri dan anak, waktunya penuh dan stress.

§         Sebagai student, belajar, bekerja sibuk sekali, lalu lulus mencari pekerjaan, berumah tangga, mempunyai anak, sampai umur setengah abad, mulai berpikir kembali, sebenarnya aku hidup untuk apa.

 

Banyak orang Kristen kegereja dan bahkan aktif dalam pelayanan, tetapi imannya tidak menentukan tujuan hidupnya.

 

Waktu kita bertobat, lahir baru, kita bersemangat, mencintai Tuhan dan bercita-cita untuk melakukan sesuatu yang baik bagi Tuhan, tetapi setelah beberapa waktu kita melihat kembali perjalanan hidup kita, ternyata kita penuh kesibukan dan bertanya apa yang selama ini sudah kulakukan? dan berakhir dengan rasa tidak puas. Karena

kita kehilangan sesuatu yang terbaik yang Tuhan sediakan bagi kita.

 

Setelah kejadian 11 September 2001, banyak orang ingin memiliki tujuan hidup yang lebih jelas, karena kematian yang mendadak dan mengerikan.

 

Dunia dengan ekonomi globalisasi, hampir diseluruh dunia, Mall yang besar menjual barang-barang merk yang sama dengan harga yang hampir sama.

§         Dunia sedang menyakinkan kita bahwa harga diri dan identitas kita ditentukan oleh merk (brand) pakaian kita, jenis mobil, lingkungan tempat tinggal kita, maka untuk menyamakan taraf hidup secara international, kita bekerja keras dan menyibukkan diri untuk memenuhi kebutuhan kita. Rata-rata penduduk Amerika bekerja 55 jam seminggu.

§         Target pemasaran barang bukan saja orang dewasa tetapi juga anak-anak, motonya  “Kalau kita bisa mendapatkan anak-anak, maka kita akan mendapatkannya untuk beberapa tahun mendatang!”.  Anak-anak gemar dengan permainan game, TV, video, internet, rata-rata mereka menghabiskan waktu 37 jam perminggu untuk itu.

§         Anak remaja menjadi target pemasaran barang bermerk, mereka berusaha memakai merk-merk tertentu sesuai dengan teman-teman sebayanya. Tekanan

teman sebaya membuat pemasaran meningkat, ‘kalau seorang dalam kelas membeli, maka seluruh kelas akan membelinya!’

 

Untuk hidup bertujuan, maka kita harus memiliki visi yang jelas dalam kehidupan ini. Pertanyaan kita: ” Bagaimana Tuhan memakai saya untuk membuat perubahan dalam dunia ini?”

Tuhan memanggil kita supaya memiliki identitas dan tujuan hidup dengan pengharapan di dalam kebangkitan Yesus. Pada zaman postmodern ini (tidak ada kebenaran mutlak, tidak mengenal Tuhan dan dosa), manusia mencemaskan hal identitas diri dan tujuan hidup. Kebudayaan dunia dengan nilai yang tidak pernah memenuhi hal itu dan tidak pernah memberikan kepuasan.

 

Yesus dilahirkan didunia ini sama seperti kita, keadaan orang Yahudi yang sulit, pada waktu itu, karena dibawah pemerintahan Romawi, tetapi Yesus menjadikan visi Bapa sebagai visiNya, yaitu Lukas 4:18- 19 !

 

Yeremia 29:11

“For I know the plans I have for you”, declares the Lord, “plans to prosper you and not to harm you, plans to give you hope and a future”.

 

Hidup kita akan berarti bila kita menempatkan visi Bapa atau maksud Bapa sebagai pusat dari kehidupan kita.

Stephen Covey mengatakan: “Kuasa dari sebuah visi lebih besar dari pada kepribadian seseorang, bahkan akan mengalahkan, menutupinya, sampai muncul kepribadian yang dikenal untuk mencapai visi itu.”

 

Iman kita pada umumnya hanya mempunyai pengaruh kecil atau tidak berpengaruh karena kita tidak memiliki tujuan Tuhan untuk dunia ini, sehingga iman kita tidak bisa berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan dunia yang terluka.

Iman kita tidak mempengaruhi cara kita mengelolah uang kita, tetapi dipengaruhi oleh pekerjaan dan pendapatan kita. Bukan berarti kita beriman dengan tidak membuat perhitungan dalam keuangan, tetapi kita harus berani dalam memberi.

§         Orang yang memiliki tujuan atau goal yamg dari Tuhan, maka hubungannya dengan Tuhan dan dengan sesama akan berubah.

§         Kalau kita tidak menjadikan visi Tuhan sebagai tujuan hidup, maka kita akan dipengaruhi oleh kebudayaan orang sekitar kita.

Pada waktu orang Israel diMesir Tuhan bertujuan untuk membebaskan dan membawa mereka ke negara yang penuh susu dan madu dengan Dia sendiri menjadi Rajanya. Tetapi orang Israel setelah sampai di Kanaan merasa iri dengan bangsa sekitarnya, sehingga minta raja kepada Tuhan, akibatnya raja yang mambawa mereka sesat seperti Salomo, mereka sangat mengecewakan Tuhan, sampai mereka harus mengalami pembuangan ke Babylonia.

Padahal waktu Tuhan memerintah, orang Israel tidak dibedakan antara yang kaya dan miskin, karena Tuhan memberi peraturan untuk membebaskan hutang dan budak setiap 50 tahun, antara yang kaya dan miskin rumahnya sama.

 

Apapun yang kita kerjakan baik sebagai mahasiswa, pekerja, businessman maupun ibu rumah tangga, harus memiliki suatu tujuan, yaitu visi Tuhan untuk dunia ini.

Contoh:

§         Mengasihi Tuhan dan sesama kita.

Sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan maka kita lakukan tujuan ini.

Dari tujuan atau purpose yang jelas, maka kita bisa menentukan goal dan prioritas dalam hidup.

Tujuan pelayanan Paulus di dalam  Filipi  3:7-14:

§         Mengenal Tuhan lebih dekat.

§         Mengenal kuasa kebangkitanNya dan

§         Menjangkau jiwa sebanyak mungkin, secara cepat dan efisien.

Paulus seorang yang hidup dengan tujuan dan goal yang jelas, sebelum mengenal Kristus, Paulus bertujuan membinasakan orang Kristen, tetapi setelah bertobat berusaha membawa banyak jiwa mengenal Kristus.

 

Orang yang memiliki tujuan:

§         Hidupnya terarah, untuk mencapai tujuan itu, (Daud bertekad melawan Goliath)

§         Ada kegairahan,  bisa mengatasi emosi, rasa takut, kecewa.

§         Mengutamakan exellence, percaya diri (Daud menanyakan upahnya)

§         Kreatif dan aktif.

§         Bergantung kepada Tuhan

Contoh: Daud mengalahkan Goliath (1 Sam.17)

 

Kehidupan yang memiliki tujuan sesuai yang Tuhan kehendaki, maka akan mengalami tiga perubahan, yaitu dalam hal rohani, moral dan kebudayaan.

Murid Yesus mengalami 3 perubahan ini, secara kebudayaan mereka tidak lagi orang Yahudi atau kafir, tetapi kebudayaan dari surga dengan kekudusan (Rom.12:2). Dengan demikian menyatakan karakter Allah dan nilai kerajaan Allah dalam kegiatan yang kita lakukan.

Seperti team sepak bola, karena mereka bertujuan ingin menjadi juara dunia, maka membuat banyak goal untuk latihan yang mendukung sampai tercapainya tujuan itu.

 

Dengan mengetahui tujuan yang jelas, kita bisa membuat goal untuk:

§         Kahidupan kerohanian

§         Meningkatkan pengetahuan

§         Hubungan dengan orang sekitar, umpama kita bisa care 1 atau 2 orang, digereja sampai orang ini berubah dan bertumbuh.

§         Kreatifitas kita, seperti mengadakan perayaan atau makan bersama untuk menjangkau, menolong orang dalam kesibukan rumah tangga (Contoh: John Sudarma pernah ditolong oleh jemaat gereja saat isterinya melahirkan).

§         Penggunaan waktu dan uang kita, dengan ini kita bisa cepat keluar dari hutang dan penggunaan credit card. Yang membuat kita jatuh dalam hutang baik itu business, karena kita ingin mengerjakan sesuatu diluar kemampuan kita.

Sebagai pengelolah Kristen (stewardship) yang baik bisa memberkati orang lain yang membutuhkan, bukan kita memberi supaya mendapat berkat dan keberhasilan.

Yabez (1 Taw. 4: 9- 10), dalam doanya, dia minta diberkati supaya dia bisa memperbesar territory untuk memberkati yang lain, sehingga hidupnya berkenan lebih dari saudaranya.

Zakheus waktu bertobat dia berjanji mengembalikan 4x lipat orang yang dia peras dan separuh hartanya untuk orang miskin.       

Ron Sider dalam bukunya ‘Rich Christian in an age of Hunger’ mengajarkan untuk terus menambahkan perpuluhan kita, banyak orang yang melakukan hal demikian tidak berubah sedikitpun standard kehidupannya.

 

Contoh:

§         Jesse Boots, anak dari keluarga Boots yang membangun Boots Chemist di England, yang menjual ramuan dari tanaman yang mahal dan hanya melayani pelanggan yang kaya, karena mahal harganya. Setelah Boots mengambil alih toko obat itu, atas kesadaran akan tujuan Tuhan untuk dunia ini, maka dia berusaha membuat ramuan yang semurah mungkin, sehingga bisa menolong banyak orang yang kurang mampu.

§         Merle dan Randy Beck, ayah dan anak yang memiliki Style Mark Inc., tahun 1997 mereka buka di China, Yantai. Pabrik yang memproduksi alat penggilingan untuk komersial dan domestik. Karena memiliki tujuan yang terbaik untuk Tuhan, maka mereka berani membayar gaji pegawai dengan sangat baik, mereka membangun perumahan untuk pegawainya, bahkan meluangkan waktu untuk membantu masalah para pegawainya, sehingga banyak orang yang ingin bekerja untuk perusahaan ini.

§         Gary, sebagai director dari West Coast TV station, berusaha melaporkan sesuatu perubahan yang positif dari masyarakat untuk membangun masyarakat.

 

Konklusi:

§         Apakah setiap kita sudah menempatkan yang terbaik bagi Tuhan untuk menjadi tujuan hidup kita?

§         Membuat goal dan prioritas dalam setiap aspek kehidupan kita.

§         Apakah kita sudah memikirkan orang lain untuk membagi berkat yang Tuhan berikan?