Empat Sikap Yang Dimiliki Seorang Perwira

(Iman yang Menyembuhkan)

 

 

Pendahuluan.

Semua orang tentu menyukai apa yang dinamakan ’pujian’. Pujian orang lain yang ditujukan kepada diri kita tentunya akan membuat hati kita senang bukan? Nilai pujian akan lebih tinggi lagi kalau orang yang memberi pujian itu mempunyai kedudukan yang tinggi.

Contoh:

·      Bapak Pendeta

·      President, dsb.

 

Dan tentu pujian akan menjadi amat sangat bernilai apabila yang memberi pujian itu bukan manusia biasa, tetapi Tuhan Yesus! Siapakah dia yang pernah dipuji oleh Tuhan Yesus?

Ternyata ia adalah seorang perwira Romawi yang dipuji imannya oleh Tuhan Yesus.

 

Baca Matius 8: 5- 13!

 

Ketika Tuhan Yesus datang di Kapernaum, Ia bertemu dengan seorang perwira Roma yang memohon, agar Tuhan Yesus menyembuhkan hambanya yang sakit. Yesus mau datang kerumah perwira itu, namun ia berpendapat lain. Sebagai perwira ia adalah orang yang biasa menerima perintah atasannya. Maka ia juga berpikir hal seperti itulah yang Yesus dapat lakukan. Tak usah datang kerumah, cukup katakan saja sepatah kata, maka hamba yang sakit itu akan sembuh.

Melihat iman seperti itu, Yesus memuji iman yang besar dalam diri perwira Roma ini, dan kemudian terjadilah mujizat kesembuhan hamba perwira ini tanpa Yesus datang kerumahnya! Ini jelas merupakan satu mujizat yang sifatnya lain daripada yang lain karena terjadi dari jarak jauh dan hanya melalui kata- kata saja.

 

Dalam kejadian ini, kita dapat menarik suatu pelajaran mengenai iman yang menyembuhkan.

Ada empat sikap yang dimiliki oleh perwira Roma :

 

I.                    Memiliki pikiran yang positif ditengah-tengah kekerasan hidup

Apabila kita meneliti setiap golongan dari pengikut Yesus, maka kita akan surprise, karena pengikut Yesus itu terdiri dari pelbagai golongan: nelayan (Petrus, Yohanes), pemungut cukai (Matius, Zakheus), ahli agama (Nekodemus), pemuka masyarakat (Yusuf Arimatea), kaum ibu (Yohana, Maria Magdalena). Namun yang sangat menarik  disini adalah bahwa Yesus juga mempunyai pengikut dari golongan tentara Roma.

 

Tentara Roma pada zaman dahulu terkenal keseluruh dunia karena disiplinnya yang amat keras. Disiplin baja itulah yang menjadikan mereka amat perkasa dalam pertempuran sehingga dapat menjajah wilayah yang amat luas (Seluruh Eropa, Afrika Utara dan Asia kecil).

Struktur tentara Roma adalah sbb.:

Mereka dibagi dalam legion-legion, dimana satu legion terdiri dari 6000 tentara yang dibagi lagi dalam 60 century yang terdiri dari 100 orang. Satu century dipimpin oleh Centurion yang merupakan perwira yang telah mendapat latihan khusus. Biasanya orang yang begini sudah terbentuk dengan satu attitude yaitu ‘amat percaya diri’ Namun Centurion ini lain: Ia punya iman yang bertumbuh ditengah- tengah kekerasan hidup sebagai seorang perwira Roma!

Aplikasi: Berapa banyak diantara kita, yang ditengah-tengah kekerasan hidup, imannya justru bertumbuh.

contoh:

Alkitab dengan jelas menunjukkan dalam 2 Timotius 3: 1-5 bahwa pada akhir zaman akan terjadi suatu masa yang sukar. Tanpa banyak komentar kita semua tahu dan mengerti bahwa keadaan yang sedang kita alami sekarang ini benar-benar kegenapan dari nubuat Firman Allah. Mari kita melihat lebih jelas:

·      Orang hanya mencintai diri sendiri (selfish banget)

·      Menjadi hamba uang- demi uang orang mau berbuat apa saja

·      Menyombongkan diri- merasa paling penting

·      Suka memfitnah - menyebar issyu, gossip, memecah belah

·      Berontak terhadap orang tua- roh pemberontakan

·      Tak tahu berterima kasih-  maunya menuntut terus

·      Tak perdulikan agama - Yunani ‘anosios’= suka yang najis

·      Tak tahu mengasihi - tepatnya tidak punya naluri yang wajar

·      Tak mau berdamai- maunya pakai kekerasan terus

·      Suka menjelekkan orang - roh penyebar perpecahan

·      Tak dapat mengekang diri-  seenaknya, tidak menyukai peraturan/ disiplin

·      Garang - ganas, suka menimbulkan kekerasan

·      Tak suka yang baik - yang tidak benar malah populer

·      Suka mengkhianat - tak suka kesetiaan

·      Tidak pikir panjang - Yunani ‘propeteis’ = kepala batu

·      Berlagak tahu - Yunani ‘tuphoo’ sepertinya tahu tapi sebetulnya bodoh

·      Lebih turuti hawa nafsu - promosi hawa nafsu besar-besaran

·      Ibadahnya hanya lahiriah saja - tanpa kekudusan yang nyata

 

II.                  Memberi perhatian kepada orang lain

Siapa yang sakit? Bukan anaknya, juga bukan familinya. Hanya seorang hamba. Pada zaman dahulu, seorang hamba itu tidak ada artinya sama sekali. Jadi apabila seorang budak sakit, dan kemudian mati, maka sang majikan dapat membeli budak yang lain lagi.

Aplikasi: Berapa banyak diantara kita yang memiliki iman atau perhatian bagi orang lain?

contoh: Bukankah kita selalu memperhatikan diri kita terlebih dahulu, kemudian teman-teman dekat kita?

Baca Filipi 2: 1-1-7 !

 

III.                Mengerti otoritas rohani

Ketika Yesus mau pergi kerumah perwira ini, ia menolak secara halus. Ia berkata, cukup kalau Yesus bersabda satu patah kata saja, sebab ia juga biasa menerima perintah seperti itu. Jadi kesembuhan ini terjadi tanpa jamahan tangan Tuhan Yesus, melainkan hanya melalui kata-kata saja.

Sebagai seorang tentara atau Perwira Romawi tentunya ia mengenal otoritas. Penundukkan diri terhadap otoritas (terhadap orang –tua, atasan, pemimpin, dsb.) dapat mempengaruhi pengenalan kita atas otoritas rohani, sehingga kita dapat menghargai otoritas rohani (pendeta, pemimpin kelompok sel, Koordinator, dsb.)

 

Aplikasi: Berapa banyak orang Kristen yang belum mengenal otoritas rohani. Apabila ia sakit dan di doakan oleh pendetanya, tanpa penompangan tangan, maka ia merasa belum di doakan secara serius. Bukankah orang demikian selalu bersandar dengan perasaan?

contoh: Kalau tidak ditumpangin tangan secara langsung, maka seolah-olah kita belum terima urapan atau kesembuhan.

Bandingkan Tomas (Yoh. 20: 24- 29)

 

IV.               Iman yang mewakili orang lain

Hamba centurion ini sakit parah sudah lama terbaring dalam keadaan tidak berdaya. Dalam keadaan seperti itu tentu saja sulit untuk meminta sihamba itu beriman kepada Yesus. Jadi, dalam kasus ini, yang beriman adalah majikannya, Centurion tersebut!

Baca kejadian dalam Matius 15: 21

 

Aplikasi: Berapa banyak diantara kita yang memiliki iman supaya teman atau orang-tua kita bertobat?

Contoh: Berapa banyak diantara kita yang terus berdoa untuk orang tua atau teman kita yang belum menerima keselamatan

 

 

Konklusi: Kenapa saya berbicara mengenai perwira Roma ini?

Mungkin ada diantara anda yang:

1.

2.

3.

4.