Pendahuluan.
Baca I Samuel 7: 3- 12!
Kehidupan ini ibarat suatu perjalanan, yang harus melewati lembah, mendaki bukit atau gunung, menyeberangi sungai. Kadang – kadang jalannya lurus, kadang berliku, bahkan ada kerikil dan berbatu, dimana kita bisa jatuh, tersandung dan ada kalanya babak belur. Ada saat tertentu kita ‘berhenti’, untuk beristirahat, disaat ini biasanya kita mengevaluasi keadaan kita dengan mempelajari peta, dimana kita berada, berapa jauh jarak yang harus kita tempuh, dan sudah berapa jauh kita berjalan.
Samuel, ketika menjabat sebagai hakim untuk bangsa Israel, dia mengadakan perjalanan bukan suatu perjalanan rekreasi, melainkan perjalanan untuk mempertahankan kedaulatan Israel terhadap serangan orang Filistin. Pada suatu saat, ketika Tuhan habis mengacaukan orang Filistin, sehingga mereka menjadi bingung dan dapat dikalahkan oleh bangsa Israel, Samuel berhenti dan mendirikan suatu Batu dengan menamainya “Eben Haezer” artinya ‘sampai disini Tuhan menolong kita’ (1 Sam. 7 : 12).
Saat pergantian tahun, adalah salah satu perhentian dalam kehidupan kita dimana kita mengevaluasi kehidupan kita, mengadakan debit dan kredit dalam hidup kita. Saat demikian ini, bila kita melihat kembali kepada lembah – lembah yang sudah kita lalui, bisa berupa kegagalan dalam usaha, kegagalan dalam sekolah, sakit penyakit, atau saat melahirkan anak, dengan nafas lega kita bisa mengatakan Eben Haezer, yaitu sampai disini Allah telah menolong kita, sehingga kita bisa dengan selamat.
Jadi, kita perlu untuk melihat kembali kebelakang hanya semata- mata untuk mengevaluasi kehidupan kita dan mengatakan ‘Eben Haezer.’
Tetapi, disatu pihak lain, alkitab menegaskan bahwa kita tidak boleh menoleh kebelakang!
Lukas 9 : 62, Yesus berkata : ”setiap orang yang siap untuk membajak, tetapi menoleh kebelakang, tidak layak untuk kerajaan Allah”
Jadi, alkitab menegaskan bahwa kita tidak boleh menoleh kebelakang!
Jangan menoleh kebelakang, artinya:
1. Kita jangan melihat kembali kepada dosa – dosa kita yang sudah diampuni
1 Yohanes 1 : 9 : ’Jika kita mengaku dosa kita, maka Dia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.’
Dengan demikian, kita tidak pernah bisa terus bertumbuh dan maju, bahkan kita akan kehilangan berkat yang Tuhan sediakan.
Banyak orang tidak mau pelayanan karena merasa masih berdosa. Ada yang mengatakan aku masih suka bohong, aku masih merokok, aku masih suka marah. Atau aku masih terikat ini dan itu. Seharusnya adalah tantangan untuk kita dengan melayani, kita dipaksa untuk berubah.
Daud menjadi raja yang berkenan kepada Tuhan, dan Petrus menjadi penginjil yang berani karena mereka percaya bahwa dosanya sudah diampuni.
2. Jangan menoleh kepada kegagalan yang lalu sehingga membuat kita merasa sebagai orang yang gagal
Setiap orang pasti ada kegagalan dimasa lalunya, kecuali orang yang tidak pernah mencoba mengerjakan sesuatu akan bebas dari kegagalan.
Melihat kepada kegagalan itu perlu, untuk mengkoreksi diri, supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama, sehingga kita mempunyai moto bahwa ‘kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda’, tetapi jangan melihat kepada kegagalan yang membuat kita merasa kalah atau gagal.
Contoh:
Kalau kita mengalami kegagalan dalam pekerjaan, sekolah, pelayanan, menjadi orang tua, menjadi suami atau isteri, maupun dalam hal melepaskan diri dari ikatan apapun, jangan sekali – kali kita menjadi orang yang kalah, tetapi berusaha terus, sampai berhasil seperti Yefta.
3. Jangan melihat pada konflik atau perselisihan yang lama, sehingga menimbulkan kepahitan
Ibrani 12 : 15b ………”Jangan timbul akar yang pahit, sehingga menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang.”
Para psycholog mengatakan bahwa setiap kali ada hubungan yang rusak, selalu dimulai dengan diri orang tersebut, biasanya ada pada masa lalunya. Sebenarnya apa yang dibuktikan oleh psycholog itu sudah tercantum di Alkitab, Tuhan mengatakan saling mengampuni supaya kamu sembuh, jangan jauhkan diri dari kasih karunia, supaya kamu jangan menyimpan akar yang pahit.
Banyak orang yang kecewa dengan orang lain, sebenarnya karena ada akar yang pahit dalam dirinya.
Contoh: Racun penyembuh
Kalau kita mengalami relationship problem atau masalah dengan orang lain, sebaiknya kita mengkoreksi diri dan belajar mengampuni, itu adalah jalan keluarnya.
- Banyak suami- isteri mengalami masalah dalam pernikahan, karena ada masa lalu yang belum diselesaikan, baik itu masalah dengan pacarnya yang dulu maupun masalah dengan orang tuanya.
- Ada seorang anak merasa kecewa dengan Tuhan dan orang gereja, tetapi setelah diselidiki ternyata dia punya pacar bukan orang percaya, dan dia berdoa supaya Tuhan membuat pacarnya bertobat tetapi tidak terjadi, sehingga dia meninggalkan Tuahn dan gereja.
4. Jangan melihat kepada ‘masa lalu’ dan melihat itu lebih baik dari yang sebenarnya
Pengkhotbah 7 : 10, Salomo mengatakan : ”Janganlah mengatakan, mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang, karena bukan berdasarkan hikmat engkau menanyakan itu.”
Orang Israel selalu menggerutu bahwa di Mesir mereka tidak pernah kekurangan makanan, padahal mereka di Mesir menjadi budak dengan kerja paksa.
Aplikasi:
Kita sering tidak puas dengan keadaan kita dan membandingkan keadaan sekarang dengan masa lalu. Dalam hal ini kita sering sekali tidak realistik, karena nostalgi selalu manis.
Contoh:
Yusuf, Sadrakh, Mesakh dan Abednego
5. Jangan melihat kepada ‘keberhasilan’ masa lalu sehingga kita merasa bahwa kita sudah mencapainya
Di Filipi 3 : 13 - 14; Paulus mengatakan, …….” aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada dihadapanku dan berlari – lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah………”
Ada pepatah mengatakan,
“If what you did yesterday still looks big to you, you haven’t done much today”
“The greatest enemy of tomorrow’s success is today’s success”
- Sering kita mendengar kesaksian dulu oom ditolong Tuhan luar biasa,…..bagaimana sekarang?
- Dulu saya menjadi ketua KKR di Indonesia,……..bagaimana sekarang? Sekarang saya tidak bisa berdoa dan membaca Alkitab.
- Dulu saya melayani di Sunday School; dulu saya menjadi ketua kaum muda, dulu saya pernah mendoakan orang sembuh……..bagaimana hari ini?
Alkitab mencatat, kita hanya boleh menoleh kebelakang untuk membuat batu Eben Haezer, yaitu mengatakan sampai disini Tuhan sudah menolong, sehingga kita bisa mengucap syukur kepada Tuhan, seperti salah satu dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus, dia kembali menoleh kebelakang untuk mengucap syukur kepada Yesus.
Kehidupan kita yang berupa perjalanan, akan mengalami perubahan demi perubahan.
Herakletus, filsuf Yunani, yang hidup sekitar 200-tahun sebelum Pengkotbah, mengatakan: “Panta rhei, ouden menei”, artinya : “Segala sesuatu mengalir, tidak ada yang tetap.”
Kalau kita melihat kepada tahun depan, maka kita mungkin merasa tidak menentu karena tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita diliputi ketidak pastian. Dan rasa tidak pasti selalu kurang menyenangkan. Rasa tidak pasti mengakibatkan kita gelisah, reash, kuatir, takut, bingung dan tidak menentu.
Perayaan tahun baru yang sangat meriah asalnya dari tradisi China kuno: Menurut kepercayaan orang China, masa pergantian tahun banyak sekali roh jahat yang keluar dan mengganggu penduduk desa, khususnya para petani, sehingga mempengaruhi hasil panen di- tahun depan. Kalau roh jahat datang mengganggu mereka, maka selama satu tahun itu akan terjadi banyak malapetaka.
Oleh sebab itu, pada masa pergantian tahun mereka mencegah kedatangan roh-roh jahat, dengan berusaha merayakan dengan semeriah mungkin, dengan menaruh lentera didepan rumah, karena roh jahat itu takut kepada terang. Namun itu belum cukup, untuk menakut-nakuti roh-roh jahat itu, mereka memainkan bunyi yang keras seperti gendang, seruling, trompet dll. Ketika mereka telah menemukan petasan dan kembang api maka inipun dipakai untuk merayakan tahun baru, supaya roh jahat tidak datang mengganggu di-tahun depan.
Jadi, sebenarnya yang mereka usir bukan hanya roh jahat, melainkan perasaan tidak pasti tentang tahun yang baru.
Suatu kali, ketika orang Israel menghadapi pembuangan di Babel mempunyai perasaan yang demikian, takut, kuatir, serba tidak pasti apa yang akan terjadi. Saat – saat demikian, Tuhan berbicara melalui nabi Yeremia, dalam Yeremia 31 : 3: ‘Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setiaKu kepadamu’
Kasih Allah tidak bersyarat. Waktu terus berjalan, kehidupan kita penuh dengan perubahan, seperti yang dikatakan oleh Herakletus: Segala sesuatu mengalir, tidak ada yang tetap, tetapi penulis Ibrani mengata-kan, “Yesus Kristus tetap sama kemarin, hari ini dan sampai selama – lamanya (Ibr. 13: 8).”
Konklusi:
1. Jangan menoleh kebelakang.
2. membuat Eben Haezer dalam masa pergantian tahun seperti ini.
3. Memandang tahun depan, membuat kita merasa tidak pasti, sehingga menjadi takut, kuatir atau cemas. Kita menengadah kepada Tuhan kita yang memberikan kepastian akan kasihNya.