Counselling
Pertanyaan 1: Apakah tujuan dari pada Counselling?
Jawab: Membantu seseorang untuk menghadapi persoalan dengan cara yang lebih efektif dan membawa orang tersebut kepada kedewasaan rohani (discipleship).
Pertanyaan 2: Kenapa counselling diperlukan?
Jawab: Dibutuhkan supaya ada orang yang bisa mendengarkan masalahnya (Yak. 1: 19; good listener).
Pertanyaan 3: Orang yang bagaimana membutuhkan counselling?
Decision, depression, grief, guilt, crisis, conflict, sins, disobedient, significant dan security.
I. Dasar Alkitab mengenai counselling:
baca Efesus 4: 1- 16
1. Kesatuan dalam panggilan (ay. 3 & 4)
2. Kesatuan dalam pelayanan (ay.7): Karunia yang berbeda (Rom 12: 8) akan dipersatukan dalam pelayanan, supaya tiap bagian mengerjakan dengan efektif. 1 Thes.5 ;14 Encourage, be patient, help, comfort, warn
3. Kesatuan dalam hidup bersama sebagai orang-orang percaya (ay. 16): relationship sangat memegang peranan yang penting untuk saling melengkapi dan mengisi dalam pelayanan.
4. Satu tujuan , yaitu kedewasaan iman (ay. 13 & 15):
· Saling mengasihi (Yoh. 13: 34-35)
· Saling menanggung beban (Gal. 6:2)
II. Beberapa Prinsip didalam counselling:
2.1. Roh Kudus sebagai counsellor & comforter (Yoh. 14: 16- 17)
Jadi harus terbuka dengan kuasa & karunia Roh
2.2. Alkitab memberi pengarahan untuk masalah- masalah hidup (2 Tim. 3: 16- 17). Segala kebutuhan manusia dapat dijawab oleh firman Allah (harapan, kasih, arti hidup); Oleh sebab itu seorang counsellor harus menguasai dan memahami Alkitab.
Karena Alkitab tidak memberikan secara detail, maka diperlukan juga prinsip-prinsip psychology.
2.3. Doa (Yak. 5: 16)
Doa (sebelum dan selama counselling) dan firman Allah sangat pegang peranan penting. Tetapi bagi mereka yang belum didalam Tuhan kita harus sensitif terhadap waktu Tuhan (Peng. 3: 1- 8). Perlu juga diperhatikan hal-hal yang sehubungan dengan etika.
2.4. Tujuan utama counselling yaitu permuridan, membawa orang tersebut menuju kepada kedewasaan.
2.5. Kwalitas personal sebagai seorang counselling:
Seorang cousellor harus mempunyai inisiatif untuk berbuat baik. Ia juga seorang yang memiliki pengetahuan akan firman Allah, menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari (Rom. 15: 14; Col. 3: 16).
2.6. Sikap dari client, motivasinya dapat menentukan apakah counselling akan menolong atau tidak. Client yang mau ikut aktif dalam therapy, tidak defensif akan mengalami perubahan besar.
2.7. Hubungan antara client & Counsellor akan mempengaruhi jalannya counselling:
- respek, berbicara secara specific, realitas, mengatakan sebagai mana adanya, immediacy (keterbukaan)
- Jay Adam: Tidak cukup dengan kata-kata, melainkan juga harus dengan tindakan (seperti minta maaf, reconcilation)
2.8. Proses counselling dari membicarakan masalah yang ada (perasaan, kelakuan, pikiran) menuju kepada pengertian dan mengambil tindakan untuk berubah.
2.9. Counsellor sadar akan keterbatasannya, baik pengetahuan, maupun kemampuan untuk menolong. Refering sangat perlu.
III. Tiga Bentuk Counselling:
a. informal
b. informal organized (supervised)
c. formal organized (larger Churches)
IV. Syarat-syarat sebagai seorang counsellor:
4.1. Dewasa dalam rohani (Gal. 6:1)
Fasih dalam Alkitab; Menerapkan prinsip Alkitab dalam hidup sehari- hari, berdoa secara teratur.
4.2. Psychological stability: bukan emotional yang tidak stabil, tetapi yang dapat bersifat terbuka dan vulnerable.
4.3. Mengasihi, murah hati, hangat dan penuh perhatian terhadap orang.
4.4. Spiritual Gifts: Hikmat, pengetahuan, membedakan roh, murah hati dan kesembuhan
4.5. Cukup pengalaman (tidak terlalu muda)
4.6. Availability & Teach ability (Training & School)
4.7. Bisa menjaga rahasia.
V. Hal- hal yang perlu diperhatikan oleh seorang counsellor:
5.1. Motivasi counsellor
Yang salah: mencari partner bicara, ingin mengontrol orang, mencari informasi, memenuhi kebutuhan sendiri (kesembuhan sendiri)
5.2. Counselling yang effektif: mengerti karunianya
5.3. Beberapa peranan yang salah: tidak respek, defensif, jugmental, memberi perintah-perintah, gampang terpengaruh secara emosi (tidak objektif), tidak sabar
5.4. Kegagalan, apabila
· counselling dimanipulasi oleh client
· counsellee tidak mau berubah.
· countertransference
5.5. Sexual attraction
5.6. Etika
5.7. Confidentiality
5.8. Pandangan yang salah (dari gereja):
Seorang Counselor atau pastor sering berpikir bahwa kita bertanggung jawab untuk merubah kehidupan seseorang atau jemaat, sehingga kita cenderung membawa orang untuk mengikuti cara hidup kita. (contoh: pastor yang isterinya bekerja, menganjurkan orang lain demikian).
Karena dosa, gambaran Allah dalam diri manusia menjadi rusak. Maka melalui counselling kita membantu orang tersebut untuk memulihkan gambaran Allah ini (Rom.8: 29; 2 Cor 3:18; Ep.4: 23- 24; Col.3: 10; 2 Pet. 1: 4). Dengan kata lain, kita membantu orang untuk menerima diri sendiri dan mengerti bahwa kita adalah ciptaan Allah yang unik, artinya:
a. Kita milik Allah; b. Kita mempunyai hubungan yang erat dengan Allah; c. Kita berharga dihadapan Allah.
Menurut research 90-95% dari manusia mengalami masalah harga diri. Manusia sulit untuk menerima dan mengerti diri sendiri. Sulit untuk memahami “siapa saya?”. Oleh karena itu counsellor, pertama-tama, haruslah mengerti tentang “tentang dirinya sendiri”, dengan jalan bisa menerima dan respect terhadap diri sendiri.
Manusia diciptakan Allah dengan tujuan sbb. :
( baca Kej. 1 & 2, Ep 2:10)
1. Mengenal dan mengasihi Allah.
2. Taat kepada Tuhan (Joh.14:15).
3. Hidup harmonis oleh pengampunan.
4. Hidup dan berkuasa (Rom 5: 17, NIV).
Orang yang membutuhkan counselling disebabkan karena ia gagal didalam satu atau dua hal tersebut diatas.
Pandangan yang salah tentang Tuhan dapat dipengaruhi oleh :
1. Pengalaman masa kecil.
2. Trauma dalam hidup (sexabuse, penyakit, tertipu dll.).
3. Kecewa dengan teman (gereja, sekolah)
Manusia terdiri dari :
Tubuh : untuk berkomunikasi dengan dunia sekitar.
Jiwa : keinginan, pikiran dan perasaan sebagai perantara tubuh dan
roh.
Roh : yang berhubungan dengan Tuhan dan di pulihkan waktu lahir baru.
Orang sering hanya menghubungkan problem dengan hal-hal yang rohani saja, sedangkan jiwa dan tubuh tidak dipertimbangkan.
Ingat: Problem itu tidak selalu timbul karena ‘iman’, ‘dosa’ atau ‘Iblis’.
Jiwa adalah bagian yang penting dari manusia, tempat pertemuan antara tubuh dan roh, sehingga menjadi satu kesatuan. Dan Jiwa yang mengkontrol kelakuan dan iman kita. Tuhan selalu berbicara melalui roh kita, diterima oleh jiwa dan diterjemahkan ke tubuh dan iman, demikian juga tubuh menerima informasi melalui lima (5) indera, mengirimkan ke jiwa, lalu jiwa memberi perintah untuk supaya tubuh kita ‘bersikap’ atau ‘bertindak’. Jadi pembrontakan terhadap Allah bukan berkenaan dengan hal yang rohani tetapi adalah akibat dari jiwa kita (Yak.1:14, 15: keinginan kita yang mencobai kita).
Jiwa dalam menterjemahkan informasi yang diterima dipengaruhi oleh:
1. Pengalaman masa kecil atau masa lalu, lingkungan, orang tua, pendidikan, ekonomi, kebudayaan dll.
2. Keterbatasan pikiran kita mengenai kebenaran, sehingga kita sering mempunyai tanggapan yang salah (assumptions), yang membuat kita tidak berfungsi baik dalam kehidupan.
Wahyu dari pada Allah kita saring dengan tanggapan yang salah sehingga kita ragu terhadap firman Allah. Akibatnya kita selalu menyesuaikan firman Tuhan dengan kehidupan kita. Seharusnya adalah sebaliknya. Karena itu Alkitab sangat menekankan pembaharuan jiwa seperti ayat: Rom 12:2; Ep 4:22-24; Col 3:5; 1Pet 1:14,15.
Kebenaran yang baru sering bertentangan dengan assumption kita, akibatnya:
1. Kebenaran ditolak.
2. Orang cenderung untuk mengganti tanggapan lama dengan kebenaran baru sehingga problem baru timbul.
Contoh: Orang yang beranggapan semua orang jahat, karena sering dimanipulasi. Tetapi, setelah bertobat, orang tersebut berubah dengan beranggapan bahwa semua orang harus dikasihi. Tetapi satu kali sehingga dia kena tipu dan disakiti.
3. Menggantikan sebagian dari pikiran yang lama dengan yang baru.
Contoh: Dalam hal mengampuni, orang sering lebih mudah mengampuni orang yang belum bertobat dari pada saudara seiman.
Albert Ellis:
A B C D E
Event belief consequence Pikiran baru emosi baru
Orang sering datang kepada counselling dengan tujuan supaya masalahnya segera diselesaikan tanpa melihat perlu adanya pembaharuan pikiran. Inilah tugas seorang Counsellor.
Beberapa hal yang berbahaya sehubungan dengan counselling digereja:
1. Counsellor mencoba untuk menyeleseikan masalah secara rohani, tidak memperhatikan jiwa dan tubuh Counselee.
2. Orang yang minta pertolongan selalu ingin diberi tahu bagaimana supaya masalah cepat diatasi tanpa mau ikut bertanggung jawab dengan perubahan.
Contoh : dengan meminjamkan uang pada orang dan tidak tahu latar belakangnya. Hal ini membuat orang tersebut tidak berubah.
Beberapa contoh mengenai kebutuhan dasar manusia :
1. Seorang wanita yang tidak puas dengan berganti-ganti pacar.
2. Orang yang ingin menunjukkan bahwa dia mampu dan bergaul dengan orang kaya sehingga sering dia berhutang dari teman ke teman untuk menutupi kebutuhannya.
3. Ibu rumah tangga yang putus-asa, karena anak-anaknya sudah menikah dan meninggalkan rumah, sedangkan suaminya sering bepergian karena pekerjaan.
Perhatikan : Sebenarnya ada sesuatu yang tersembunyi dibalik ini semua.
Didalam diri mereka ini ada suatu kebutuhan yang mereka sendiri tidak jelas.
Sebagai manusia yang normal, dialam bawah sadar kita, kita selalu mencari kepuasan untuk ‘harga diri’ dan ‘rasa dapat diterima’.
Kebutuhan dasar ini yaitu significance (rasa penting, seperti: sukses dalam pekerjaan, berpengaruh) dan security (dikasihi dan diterima).
Bagi seorang wanita dan pria kedua hal tersebut sangat perlu. Tetapi bagi mereka, kaum lelaki, lebih mengutamakan significance sedangkan wanita security.
Dari contoh 1: Wanita tersebut berpikir bahwa dengan ‘cinta’ dia bisa mendapat suatu ‘security’. Dibalik itu sebenarnya dia merasa takut ditolak dan diketahui kelemahannya, sehingga tidak berani masuk dalam suatu hubungan yang bersifat commitment.
Dari contoh 2: Orang tersebut hanya diakui dan direcognize karena uang. Jadi goalnya adalah bahwa uang dapat membawa dia kepada harga diri dan rasa diperlukan. Jadi ‘significance’nya terletak pada uang. Orang ini memiliki pikiran yang salah dalam mencapai significance.
Dari contoh 3: Ibu ini dibutuhkan oleh keluarganya, berarti kemampuannya diakui oleh keluarganya. Dengan kepergian anak-anaknya dan suaminya, dia merasa tidak ada yang membutuhkan dia lagi. Jadi ‘security’nya terletak pada kemampuan bekerja dan melayani keluarga.
Pikirannya yang salah :”Aku secure kalau aku bisa menunjukkan kemampuanku dan aku dibutuhkan sehingga orang bergantung padaku atau dengan kata lain aku diterima kalau aku berbuat baik, kalau tidak bisa berbuat baik maka tidak diterima, tidak disayang dan tidak berharga”.
Orang yang semacam ini cenderung untuk tidak berbuat apa-apa, dia berpikir no decision - no failure; no failure - no rejection; no rejection - no hurt.
Orang yang semacam ini, sebenarnya, takut untuk mengaku salah. Tanpa di sadari, dia seperti membangun suatu tembok untuk
1. tidak berbuat salah, supaya tidak dikritik dan harga diri tidak dilukai.
2. orang demikian bisa menjadi galak untuk menutupi self-confidence yang rendah.
Ingat :Orang yang takut mengaku salah dan tidak berani bertanggung jawab, berpikir seolah-olah bisa menutupi kegagalan. No way !
Sebagai mahluk yang normal, kita semua membutuhkan ‘significance’ dan ‘security’ ini supaya punya rasa harga diri.
Amsal 18:14 “A wounded spirit who can bear?” . Manusia , pada umumnya, cenderung berbuat untuk melindungi perasaan tidak enak yang ditimbulkan oleh harga diri yang terganggu.
Kesimpulan:
Problem selalu timbul kalau kebutuhan akan ‘significance’ dan ‘security’ tidak dapat dipenuhi. Sebab di mana rasa ‘tidak significant’ dan ‘tidak secure’ itu timbul, corak hidup kita akan berusaha menutupi rasa itu.
Corak hidup yang salah berasal dari philosophy yang salah.
Contoh : orang cina bahwa uang itu penting supaya dipandang orang.
Amsal 23:7 “As a man thinketh in his heart so is he”.
Oleh sebab itu, seorang Counsellor harus mengkoreksi pikiran yang salah dan membantu orang tersebut untuk bisa melihat jalan yang benar (sesuai firman Allah) untuk mendapatkan significance dan security.
Orang Kristen sering hanya diberi ajaran, yaitu, ‘apa yang boleh’ dan ‘tidak boleh dilakukan’, sehingga apabila kita gagal maka kita akan merasa guilty. Seseorang itu tidak cukup dengan diajarkan untuk taat dan hidup dalam firman, tetapi harus diarahkan bagaimana mencapai significance dan security dalam Kristus.
Statement: “Aku merasa penting karena aku punya pengaruh terhadap orang lain dengan melayani mereka mengenal Kristus”. Sedangkan kebutuhan akan security terpenuhi oleh kematian Kristus. Dengan merasa diterima didalam Kristus membuat kita hidup bertanggung jawab.
Hanya diterima----------- hidup tidak bertanggung jawab dan berdosa.
Hanya bertanggung jawab--------- tertekan karena merasa dituntut berbuat baik.
A B C
Kebutuhan dasar Tanpa Tuhan long term
significance power violence
security pleasure immorality
Roma 1:28, “Karena tidak taat, Tuhan menyerahkan mereka pada pikiran terkutuk, sehingga mereka melakukan yang tidak pantas”.