Rasa Puas (Contentment)

 

Pendahuluan.

Contoh dalam PL, dalam Hakim 17: 10-11: “Lalu kata Mikha kepadanya: Tinggalah padaku dan jadilah bapak dan imam bagiku; maka setiap tahun aku akan memberikan kepadamu sepuluh uang perak, sepasang pakaian serta makananmu. Orang Lewi itu setuju (menerima dengan segala kondisi yang ada) untuk tinggal padanya…” (The Levite was content to dwell with the man).

 

Contoh dalam PB, dalam Ibrani 13: 5, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah (dengan kondisi yang ada) dirimu dengan apa yang ada padamu…..” (Be content with such things as ye have…….).

 

Ada dua hal yang sehubungan dengan rasa puas yang dapat menghindari kita dari dosa dan kematian.

 

I.                   Rasa puas terhadap bentuk tubuh jasmani dapat menghindari kita dari rasa rendah diri (inferiority) atau rasa keunggulan (superiority)

Apabila seseorang menolak atau tidak merasa puas dengan bentuk rupa (wajah) atau tubuh jasmaninya, maka orang tersebut gampang sekali memiliki rasa rendah diri (Inferiority). Pada umumnya, orang yang demikian sangat egois dan cenderung mengejar status dalam masayarakat, seperti kekayaan, kedudukan dan pengaruh.

Apabila kita kembali kepada Lukas 19: 1-10, kita akan melihat sebuah contoh dari diri seseorang yang tidak puas terhadap bentuk tubuh jasmaninya.

 

Alkitab mengatakan, Zakheus adalah seorang yang bertubuh pendek, sehingga untuk melihat Yesus ia harus memanjat sebuah pohon. Tetapi yang menarik dari Zakheus adalah kariernya. Ia dikenal sebagai kepala pemungut pajak, khususnya di wilayah Yerikho. Tentunya ia adalah seorang yang sangat kaya- raya, karena pada waktu itu hingga zaman sekarang, kepala pemungut pajak selalu mendapat keuntungan dari hasil kecurangan mereka.

Pada zaman dahulu, dibawa pemerintahan kerajaan Romawi, pemerintah menetapkan jatah pajak (pajak tanah, pajak export-impor, pajak pendapatan, pajak jalanan, pajak kemewahan, pajak kendaraan, dsb.)  Para pemungut pajak harus mengembalikan jatah yang sudah ditentukan. Apabila mereka menagih pajak lebih banyak dari jatah yang telah ditentukan, maka kelebihan tersebut diberikan kepada mereka, sebagai bonus. Oleh sebab itu, setiap pemungut pajak tidak pernah menagih sesuai dengan yang telah ditentukan melainkan lebih banyak. Makanya Yohanes Pembaptis memperingatkan, para pemungut pajak, ”Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu” (Luk. 3: 13).

Jadi, pada umumnya pemerintah dan kepala pemungut pajak selalu berbuat curang. Nah, bayangkan Zakheus dalam posisi sebagai kepala bagian pajak wilayah kota Yerikho. Tentunya, ia sangat kaya raya.

 

Tetapi, sekalipun Zakheus sangat kaya raya dan mempunyai pengaruh serta kedudukan ditengah-tengah masyrakat pada waktu itu, banyak orang yang tidak merasa senang kalau namanya disebut. Ia sangat dibenci oleh bangsanya sendiri. Ketika ia sedang melalui sebuah jalan, maka orang-orang disekitar jalanan tersebut menyingkir dari tempat itu.

Inilah kehidupan Zakheus sebelum Yesus masuk ke dalam hidupnya.

 

Mungkin anda tidak mempunyai bentuk tubuh yang pendek seperti Zakheus. Tetapi anda memiliki muka (wajah) yang tidak menarik atau jelek sama sekali. Mungkin anda tidak memiliki bentuk tubuh yang pendek seperti Zakheus. Tetapi anda berasal dari latar belakang yang tidak bahagia, atau keluarga miskin atau keluarga yang abusive.

 

Dalam 2Korintus 10: 12, rasul Paulus mengatakan, alangkah bodohnya mereka yang selalu membandingkan dirinya dengan orang lain.

“Memang kami tidak berani mengolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!”

 

Orang yang suka mengadakan perbandingan dalam hidupnya adalah orang yang tidak pernah merasa puas dengan dirinya atau orang yang tidak secure.

Pada umumnya, orang yang demikian sangat egois dan cenderung mengejar status dalam masyarakat, seperti kekayaan dan pengaruh dengan jalan yang curang.

Allah mau supaya kita menerima keberadaan diri kita. Allah mau supaya kita dapat mengucap syukur dengan keadaan diri kita: walaupun kita tidak sepintar orang lain, walaupun kita tidak secakap orang lain, walaupun kita tidak setinggi orang lain, walaupun kita tidak selincah orang lain, walaupun…walaupun.

 

Belajar dari Burung Dendang (Turkey Vulture)

Burung Dendang adalah jenis burung yang tidak menarik dalam bentuknya. Burung ini tidak lincah seperti burung-burung lainnya atau kuat perkasa, seperti burung rajawali. Burung ini tidak bisa berkicau seperti burung kenari. Bahkan para ahli memberikan nama burung ini, burung pembersih: Burung-burung Dendang ini tidak dapat menangkap bangsa, melainkan selalu memakan atau membersihkan sisa-sisa dari binatang-binatang yang sudah mati.

Nah, walaupun burung ini tidak menarik sama sekali dalam penampilan, sepertinya cacat,  dan selain itu bau, tetapi burung ini sangat membawa keberuntungan bagi kehidupan manusia, karena ia menghindari manusia dari penyakit berbahaya yang menular melalui bakteri dari daging lembu-sapi, dan biri-biri:  Pada umumnya binatang, lembu-sapi, atau biri-biri yang ditangkap oleh mangsanya yang kemudian dimakan, tetapi tidak sampai habis. Umumnya sisa-sisa daging yang tertinggal tersebut dapat membawa penyakit menular melalui bakteri ke-dalam tubuh manusia. Jadi, burung Dendang inilah yang selalu membersihkan semua sisa-sisa daging tersebut sehingga tinggal tulang rangka belaka.

Jadi, burung Dendang ini, sekalipun kelihatannya buruk, tidak menarik sama sekali, bau, tetapi mendatangkan suatu keuntungan bagi hidup manusia.

 

Aplikasi:

Sekalipun wajah kita tidak menarik seperti orang lain, kita tidak sepintar orang lain, tidak selincah orang lain, tidak secakap orang lain, atau tidak sebanding dengan yang lain….tetapi Allah mempunyai rencana bagi hidup kita. Hidup kita pasti dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Karena apa? Karena kejadianku dahsyat dan ajaib.

Baca Mazmur 139: 13-14!

 

 

II.                 Rasa puas terhadap apa adanya dapat menghindari kita dari ketamakan (expectation yang berlebihan)

Apabila seseorang tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada padanya atau tidak merasa puas dengan pendapatannya, maka orang tersebut gampang jatuh kepada ketamakan.  Pada umumnya, orang yang demikian cenderung mempunyai expectations yang berlebihan.

Apabila kita kembali kepada Yosua 7, kita akan melihat sebuah contoh pada diri seseorang yang tidak mempunyai rasa puas terhadap materi dan akhirnya membawa ia bersama seluruh keluarganya kedalam dosa dan kematian. Rasa keinginan untuk memenuhi expectations-nya, membawa Akhan melanggar ketetapan Allah.

 

Allah telah berjanji dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub bahwa Ia akan  memberikan negeri Kanaan kepada keturunan mereka. Negeri Kanaan adalah sebuah negeri yang terkenal kaya dengan hasil tanahnya, sehingga orang-orang Israel dapat hidup berkelimpahan di negeri tersebut. Sebelum orang-orang Israel masuk dan merebut negeri tersebut, maka Allah berpesan kepada Yosua, agar supaya orang-orang Israel menjaga diri mereka dari barang-barang yang dikhususkan oleh Tuhan.

Baca Yosua 6: 18- 19 !

 

Melalui Musa, Allah telah memberikan suatu ketetapan kepada orang-orang Israel supaya mereka memberikan sepersepuluh dari seluruh penghasilan mereka.  Dan bukan hanya saja persepuluhan tetapi mereka harus membawa hasil pertama dari penghasilan mereka (buah sulung).

Nah, sebelum mereka masuk dan merebut negeri Kanaan dari tangan orang-orang Kanaan, kota yang pertama yang mereka harus duduki adalah kota Yerikho. Allah berfirman kepada Yosua, supaya seluruh orang-orang Israel tidak mengambil satupun barang-barang yang ada di Yerikho, sekalipun itu barang-barang yang sangat mahal dan berharga, kecuali emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi yang akan dikhususkan untuk perbendaharaan Tuhan atau tabernakel. Jadi, seluruh barang-barang  harus dimusnahkan dan termasuk kota Yerikho sendiri harus dibakar habis. Hal itu dilakukan sebagai persembahan buah sulung kepada Tuhan sebelum mereka menduduki negeri Kanaan.

Dengan jalan demikian, Allah mengajar bangsa yang masih muda ini (karena hampir semua dari mereka lahir di padang gurun) untuk mentaati ketetapanNya, serta bersandar kepadaNya sebagai sumber dari kemakmuran.

Ternyata, ada seorang yang tidak mentaati apa yang Tuhan pesan kepada Yosua. Ketika peperangan sedang berlangsung, Akhan mengumpulkan barang-barang yang sangat berharga (emas, perak, jubah-jubah indah, dsb.) yang kemudian ia kuburkannya di dalam kemahnya dalam tanah.

Kenapa Akhan sembunyikan barang-barang tersebut ke dalam tanah di kemahnya? Karena ia berpikir, setelah nanti orang-orang Israel mengalahkan kota-kota lain, dan menjarah seluruh kekayaannya, maka ia akan memberitahukan kepada teman-temannya bahwa seluruh barang-barang tersebut adalah hasil jarahan. Jadi tidak ketahuan kalau ia telah berbuat curang. Akhan bisa membohongi manusia tetapi ia tidak bisa membohongi Tuhan.

Kenapa Akhan melanggar ketetapan Tuhan? Kita lihat dalam Yosua 7: 21,

“Aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil…”.

 

Rasa ketidak- puasan terhadap materi membawa Akhan ke dalam dosa dan kematian. Rasa keinginan untuk memenuhi expectations-nya, membawa Akhan melanggar ketetapan Allah.

 

Aplikasi: Bukankah ada diantara kita berlaku demikian?

Karena ingin kaya, maka mereka melakukan apa saja, sekalipun harus meninggalkan keluarga (istri, dan anak-anak). Mereka lupa bahwa sumber kekayaan, kemakmuran dan berkat itu berasal dari Allah sendiri. Mereka memilih untuk melanggar ketetapan Tuhan demi expectations mereka.

Contoh:

 

Allah mengajar bangsa yang masih muda ini dengan harga yang sangat mahal: Selain Akhan bersama segenap keluarganya mati dengan jalan dilempari batu, juga 36 orang-orang Israel (tentara) mati didalam peperangan ketika merebut kota Ai.

 

Pemazmur mengatakan, “Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu” (Maz. 128: 2).

Ø      Jadi, pemazmur tidak mengatakan, apabila engkau memakan hasil jerih payah orang lain, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu….tidak, melainkan terkutuklah engkau….!

Ø      Pemazmur juga tidak mengatakan, apabila engkau meninggalkan keluarga mu, demi expectationsmu,  berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu….tidak, melainkan terkutuklah engkau….!

 

Belajar dari Burung penangkap Oyster

Suatu kali seekor burung penangkap Osyter sedang berada di-lepas pantai untuk mencari makanan baginya. Ketika burung tersebut melihat seekor siput atau keong atau kijing (limpet) sedang berada diantara dua batu karang, maka ia mencocokkan paruhnya yang panjang ke dalam limpet tersebut. Tiba-tiba limpet tersebut mencepit parunya sehingga burung ini tidak dapat melepaskan diri dari jepitan limpet tersebut, karena limpet tersebut terjepit diantara dua batu karang. Semakin burung ini berusaha untuk menarik paruhnya bahkan dengan bantuan gerakan terbang, semakin kuat jepitan dari limpet tersebut.

Nah, bagaimana caranya burung penangkap Osyter ini melepaskan diri dari jepitan limpet tersebut? Dengan jalan bantuan ombak laut: Ketika ombak laut menimpa karang tersebut, maka burung ini menjadi kaget dan seketika itu juga burung ini diam sebentar, dan pada saat ia diam dalam posisi menyerah, maka limpet tersebut melepaskan paruhnya.

 

Justru dalam posisi diam dan menyerah, burung ini mendapat kelepasan.

 

Amsal Soleman mengatakan,

Ø      “Janganlah bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu itu. Kalau engkau mengamat-amatinya lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang keangkasa seperti raja wali” (Amsal 23: 4-5); Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Amsal 10: 22)

 

Jangan pernah mengejar kekayaan, karena ia mempunyai sayap. Ketahuilah bahwa berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya. Hindari keinginan-keinginan materi yang dapat mendatangkan dosa dan kematian.

Baca Ibrani 13: 5, Filipi, 4: 11, 19 !

 

Konklusi: