Celebrating Christmas on the Outside
Pendahuluan.
Beberapa tahun yang lalu, ketika kami sekeluarga dalam sebuah perjalanan (dengan kendaraan) dari Los Angeles menuju ke Las Vegas, kami melalui padang gurun Nevada. Setelah beberapa jam melewati padang gurun yang kering dan tandus tersebut, kendaraan kami mendekati sebuah kota kecil. Tanda-tanda kehidupan mulai terlihat: beberapa rumah-rumah penduduk, lampu-lampu jalanan, dan anak-anak kecil sedang bermain di playground. Semakin kendaraan mendekati pusat kota tersebut, lampu-lampu lalu lintas dan kendaraan serta suara kebisingan dari penduduk setempat mulai terdengar. Kota tersebut dihiasi dengan berbagai jenis lampu yang berwarna-warni, dengan bangunan yang sangat menarik, serta permainan jetcoster dan kolam renang yang mempunyai plosotan. Kami memasukki sebuah kota yang cukup indah. Setelah menggendari kurang lebih 5 menit, kami tiba ke ujung kota tersebut dan kemudian perjalanan kami kembali seperti semula, yaitu, padang gurun yang kering dan tandus.
Saya menggambarkan Natal seperti perjalanan dari Los Angeles ke Las Vegas. Pada pertengahan bulan November, tiba-tiba kita melihat dekorasi di Shopping centre sudah berbeda dari sebelumnya. Hiasan-hiasan Natal yang sangat kreatif dan menarik perhatian, terlihat hampir di semua Shopping centre. Kartu-Kartu Natal, bingkisan kado-kado dengan corak gambar hiasan Natal serta kebutuhan –kebutuhan untuk perayaan Natal terlihat di setiap toko-toko yang besar. Suasana Natal lebih terasa lagi, ketika memasukki bulan Desember, pada mana pohon-pohon Natal dan lagu-lagu Natal di kumandangkan pada setiap Shopping centre.
Tetapi…. setelah tanggal 25 December, suasana Natal tersebut berubah kembali seperti suasana sebelumnya. Tidak lagi kelihatan hiasan Natal dimana-mana.
Jadi, sama seperti dalam suatu perjalanan dengan sebuah mobil yang tiba-tiba kendaraan kita melewati sebuah kota kecil, lalu tidak lama kemudian meninggalkan kota tersebut, demikian Natal bagi banyak orang: Mereka memasukki Natal dan kemudian meninggalkan Natal tersebut. Dan yang sangat menyedihkan adalah, mereka tidak mengetahui sama sekali ‘arti’ Natal tersebut. Ketika saya melewati kota kecil di tengah –tengah perjalanan dari Los Angeles ke Las Vegas, saya tidak tahu sama sekali nama kota tersebut (karena tidak ada tertulis sama sekali) dan untuk apa kota tersebut dibuat.
Demikian Natal bagi banyak orang. Mereka memasukki Natal kemudian melewati Natal, tanpa mengetahui banyak tentang Natal tersebut. Dengan kata lain, mereka hanya merayakan Natal dari luar saja bukan dari dalam.
Apakah kita yang hadir hari ini akan merayakan Natal sebagai outsiders atau sebagai Insiders?
Tentunya ada perbedaan yang sangat nyata, antara outsider dan insider. Hal itu terjadi, bila kita sedang berada dalam sebuah pristiwa.
Contoh:
Jadi ada perbedaan yang sangat nyata antara insiders dan outsiders dalam sebuah pristiwa. Demikian halnya dalam peristiwa Natal, tentunya ada perbedaan antara orang-orang yang merayakan Natal sebagai insiders dan sebagai outsiders.
Apabila kita kembali kepada firman Tuhan, maka kita akan menemukan banyak orang yang merayakan Natal, sebagai insiders. Tetapi hari ini kita akan melihat dua orang yang merayakan Natal sebagai outsiders.
I. Pemilik Motel
Lukas 2: 6-7, “Ketika mereka (Maria dan Yusuf) di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka dirumah penginapan.”
Yesus lahir pada waktu itu disebuah kandang binatang. Tentunya, kelahiran Yesus ditempat seperti itu, bukanlah pilihan dari Maria ataupun Yusuf. Apabila mereka boleh memilih tentunya mereka akan memilih agar Yesus lahir di rumah bersalin atau paling tidak disebuah tempat yang bersih dan nyaman.
Tetapi kenyataannya tidak demikian. Alkitab mengatakan bahwa pada waktu Maria dan Yusuf tiba di Betlehem, maka semua tempat penginapan sudah penuh. Akhirnya, pemilik dari sebuah penginapan menyarankan mereka untuk bermalam di sebuah kandang yang sudah tidak dipakai lagi. Karena tidak ada pilihan lagi bagi mereka, maka mereka menerima saran tersebut. Tetapi, pada malam itu juga, tibalah saatnya bagi Maria untuk bersalin. Nah, seandainya pemilik Motel tersebut tahu siapa yang akan lahir malam itu, tentunya ia tidak akan memberikan kepada Maria dan Yusuf untuk tinggal di kandang binatang tersebut. Ia akan memberikan private roomnya. Tetapi sangat disayangkan. Pemilik Motel ini telah kehilangan kesempatan yang terbaik. Inilah yang dikenal sebagai outsider. Yesus telah lahir diluar tempat tinggal dari pemilik Motel tersebut. Dan yang sangat menyedihkan adalah, Alkitab mengatakan, pada waktu kelahiran Yesus, para malaikat Tuhan memberitahukan berita gembira ini kepada para kawanan domba setempat. Bukan kepada pemilik Motel tersebut. Mungkin ia sedang tidur pulas, pada malam itu. Pemilik Motel ini dikenal sebagai outsider pada Natal pertama.
Aplikasi: Apa yang dapat kita pelajari dari kejadian ini?
Setiap kali dalam perayaan Natal tentunya, ada sekelompok orang seperti pemilik Motel tersebut. Seandainya ia tahu bahwa pada malam itu yang lahir adalah Juru Slamat dunia (Mesias), tentunya ia akan mempersilakan supaya kamar pribadinya dipakai oleh Maria dan Yusuf.
Banyak orang yang tidak tahu arti dari Natal. Mereka merayakan Natal sebagai outsiders. Seandainya mereka tahu arti Natal, tentunya mereka akan membuka pintu hati mereka supaya Yesus tinggal dalam hidup mereka.
Dalam tulisan sebuah artikel, ‘The Age’, yang lalu, tanggal 19 December 2003, dikatakan, di Australia, Natal dirayakan bukan lagi secara rohani melainkan secara sekuler. Di sekolah-sekolah pemerintah, dan Council perayaan Natal tidak lagi dirayakan dengan merenungkan arti Natal, bahkan nama Yesus dicabut dari perayaan Natal. Nama Yesus tidak lagi pernah disebut di sekolah seperti itu. Nama Yesus merupakan nama yang tabu, bahkan menjadi swear word bagi orang-orang Australia. Natal bagi mereka merupakan festival season. Sungguh menyedihkan.
Berita tentang Kristus tidak lagi di kumandangkan, pada hari Natal di Australia. Mereka makan, dan minum, serta mengeluarkan hadiah-hadiah yang kemudian saling menukar satu dengan yang lain. Natal bagi orang-orang kafir adalah hanya sebuah party.
II. Herodes
Selain pemilik Motel yang merupakan outsider pada Natal pertama, Alkitab juga menuliskan outsider yang kedua, yaitu raja Herodes.
Matius 2: 8, “Kemudian ia (Herodes) menyuruh mereka ( orang-orang majus) ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.””
Ketika orang-orang majus melihat kepada bintang di Timur, maka mereka memutuskan untuk pergi ke Yerusalem untuk menyembahNya. Tetapi ketika mereka kehilangan arah, maka mereka datang kepada Herodes untuk meminta petunjuk. Setelah Herodes memanggil para imam dan ahli Taurat bangsa Yahudi, dan mendengar pendapat mereka tentang nubuatan yang telah disampaikan oleh para nabi, dan mengetahui tempat di mana Mesias akan dilahirkan, maka ia mengutus orang –orang majus tersebut untuk menyelidikinya. Herodes menyuruh supaya orang-orang majus tersebut kembali kepadanya setelah menemukan tempat dimana Mesias dilahirkan. Hal itu dilakukannya, bukan seolah-olah ia turut gembira dan ingin datang menyembah Mesias, seperti yang dikatakannya, melainkan ia ingin membunuh Yesus yang baru lahir tersebut. Herodes telah mengenal kebenaran dari para imam dan ahli Taurat bangsa Yahudi, tetapi menolak untuk menerima kebenaran tersebut. Herodes ini dikenal sebagai outsider pada Natal pertama.
Aplikasi: Apa yang dapat kita pelajari dari kejadian ini?
Setiap kali dalam perayaan Natal tentunya, ada sekelompok orang seperti Herodes tersebut. Ia tahu bahwa pada malam itu yang lahir adalah Juru Slamat dunia (Mesias), tetapi ia tidak bersedia datang dengan kerendahan hati dan membuka hatinya untuk menyembah Yesus. Banyak orang yang tahu arti dari Natal, tetapi mereka merayakan Natal sebagai outsiders. Mereka takut untuk membuka hati menerima Yesus sebagai Juru S’lamat pribadi. Dengan kata lain, mereka takut untuk berubah.
Konklusi:
Ada dua kelompok orang pada Natal pertama, yang disebut sebagai outsiders:
Dua langkah yang harus diambil supaya kita menjadi insider (Baca Yohanes 1: 10-12):
Minggu ini saya harap tidak ada diantara kita yang merayakan Natal sebagai outsider.
Mari kita renungkan kembali arti Natal. Tuhan datang ke dunia ini dengan mengambil rupa sebagai seorang manusia bahkan seorang hamba. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia (Yesus) telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Ia datang untuk menebus dosa kesalahan kita, supaya kita semua dapat kembali kepada Bapa di sorga.