(Serie 2: Kemiskinan menimpa si pemalas)

 

Cara Mengatasi Kemalasan

 

I.                   Jika tidak bekerja tidak makan

a.      2 Tesalonika 3: 10, “….Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.”

b.      Amsal 28: 19, “Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan.”

c.       Kejadian 3: 19, “…..dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah….”

 

Ada tiga karakteristik orang yang tidak perlu ditolong:

2 Tesalonika 3: 10- 11, “….Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.”

2 Tesalonika 3: 14, “Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakaa dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia….”

Amsal 28: 22“Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.”

 

Jadi,  Allah tidak memberkati mereka yang malas.

 

II.                Pergi kepada semut

Amsal 6: 6, “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadiklah bijak.”

 

Apa yang dapat kita pelajari dari seekor semut?

  1. Semut tidak mempunyai pemimpin

 

  1. Semut menyediakan makanan pada waktu musim panas

 

  1. Semut saling mengorbankan diri demi kebutuhan

 

III.             Kemalasan merupakan suatu product

Amsal 24: 30-34, “Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh. Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran. Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring, maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.”

 

Kemalasan itu bertumbuh secara bertahap di dalam diri seseorang. Itu dimulai dari orang-orang yang membiarkan dirinya menyerah kepada kemauannya dan tidak mampu melawan kemauannya. Dan pada akhirnya, menimbulkan suatu kelumpuhan dalam hidupnya.

Cara mengatasi: Orang tersebut harus diberi tanggung –jawab dalam suatu pekerjaan serta dituntut untuk itu.

 

IV.              Belajar disiplin untuk bangun pada waktunya

Amsal 6: 9, “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?”

Disini Salomo berbicara mengenai waktu yang terlalu banyak digunakan untuk tidur.

 

Kata ‘diligently’ (rajin & tekun) di dalam bahasa Ibraninya diterjemahkan ‘to be up early at a task’ (bangun pagi untuk mengerjakan sesuatu).

 

V.                 Belajar untuk menghargai waktu

Setiap waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Jangan selalu menunda-nuda pekerjaan. Kerjakan sampai tuntas segala sesuatu yang telah dimulai. Nasib bergantung kepada kita bukan kita kepada nasib (artinya kita yang menentukan nasib hidup kita sendiri bukan hidup ditentukan oleh nasib).

 

Konklusi:

 

Tangan Tuhan selalu pada orang yang rajin:

Amsal 10: 4, “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya”

Amsal 12: 24, “Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa”

Amsal 12: 27, “Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga”

Amsal 13: 4 “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan”

Amsal 21: 5, “Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan”

Amsal 22: 29, “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan dihadapan orang-orang yang hina”