Bahan Komsel (May, 2001, minggu ke- tiga)
Pendahuluan.
Baca Matius 8: 18- 22 ; 10: 37 & Lukas 9: 57- 62 ; 14: 25- 26 !
Siapa yang menyangka bahwa ucapan itu keluar dari mulut Tuhan Yesus. Ucapan itu terdengarnya sangat kasar. Coba bayangkan jika kita sedang di timpa kedukaan karena kematian ayah. Dengan rasa sedih kita menyiapkan penguburan jenazahnya sebagai tanda cinta terakhir yang dapat kita perbuat untuk ayah. Tetapi seseorang berkata, “Mau apa kamu mengurus orang sudah mati?” Nah, kita pasti tersinggung mendengar ucapan itu.
Dan itulah ucapan Tuhan Yesus seperti yang dicatat Matius: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka” (Mat. 8: 22). Dan Lukas menekankan cara lain lagi, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah dimana-mana” (Luk. 9: 60).
Sebenarnya, ucapan Tuhan Yesus itu bagi telinga orang Yahudi pada zaman itu tidaklah terasa kasar, sebab ucapan itu sebenarnya berasal dari peribahasa Ibrani yang berbunyi: “Seperti membiarkan orang mati menguburkan orang mati.” Perbuatan itu berarti perbuatan yang sangat tidak bertanggung-jawab; sebab dalam masyarakat orang Yahudi mengurus pemakaman merupakan suatu tanggung-jawab kepada keluarga dan komunitas. Melakukan pemakaman secara baik dinilai sangat penting. Tidak akan ada anak dalam masyarakat Yahudi yang akan menelantarkan pemakaman orangtuanya. Sebagai anggota komunitas Yahudi, Tuhan Yesus tahu betul adat yang berlaku dalam hal ini: Penguburan orang meninggal adalah perkara yang sangat penting. Lalu disini Tuhan Yesus berkata, “Ikutlah Aku, biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Maksud Yesus disini adalah “menguburkan orang mati adalah sangat penting, dan mengikut Yesus adalah lebih penting lagi.” Dengan perkataan lain, mengikut Yesus adalah urusan yang lebih penting dari urusan yang paling penting.
Jadi, disini Tuhan Yesus sama sekali bukan bermaksud agar orang itu menelantarkan pemakaman ayahnya. Orang itu perlu memakamkan ayahnya dengan penuh khidmat dan hormat. Kalau pemakaman itu begitu bermakna, hendaklah di ketahui bahwa mengikut Yesus mempunyai makna yang lebih besar lagi. Mengikut Yesus tidak boleh dianggap sepele, seperti yang dilakukan banyak orang Kristen. Mengikut Yesus adalah perbuatan yang berada di atas perbuatan yang paling penting dalam hidup seorang Yahudi, yaitu menguburkan jenazah ayahnya.
Aplikasi:
Urusan apa yang paling utama dalam hidup anda? Sebutkan!
Ketahuilah, bahwa tidak ada urusan yang jauh lebih penting daripada mengikut Tuhan Yesus.
Ucapan lain yang sejajar dengan itu, yang hanya terdapat dalam Injil Lukas, adalah “Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Lukas 9: 62).
Ucapan ini pun termasuk ‘ucapan peribahasa’ Yesus.
Pada zaman itu ada peribahasa Ibrani yang berbunyi, “Seperti orang membajak dan menoleh ke belakang,” artinya ‘orang yang melakukan sesuatu tidak dengan sepenuh hati’. Dengan menggunakan peribahasa itu, Tuhan Yesus menanggapi orang yang berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku” (Lukas 9: 61).
Disini Tuhan Yesus bukan melarang orang itu berpamitan. Yang dikemukakan Yesus adalah: mengikut Yesus bukan perbuatan yang bisa dilakukan dengan setengah-setengah.
Memang tidak selalu mudah memahami ucapan Tuhan Yesus, lebih-lebih lagi ucapanNya yang termasuk “ucapan peribahasa.” Orang itu bertanya tentang menguburkan ayahnya, tetapi Tuhan Yesus tidak menjawab pertanyaan itu, melainkan dengan menggunakan sebuah peribahasa tentang menguburkan ayah. Yesus menekankan tingginya nilai mengikut Dia. Orang lain, bertanya tentang pamitan, tetapi Tuhan Yesus tidak menjawab pertanyaan itu, melainkan dengan menggunakan peribahasa tentang pembajak ladang. Yesus menekankan kesungguhan hati dalam mengikut Dia.
Ada pula kemungkinan bahwa orang yang membaca kedua ucapan itu dengan mengira bahwa Tuhan Yesus menuntut ketaatan yang radikal. Sebenarnya, pokok bahasan disini bukanlah tentang ketaatan yang radikal, melainkan tentang kesungguhan yang radikal. Kedua ucapan itu menantang kesungguhan para pengikutNya, juga termasuk anak-anak di IPC: apakah kita mengikuti Yesus dengan kesungguhan? Apakah hal mengikut Yesus itu, kita tempatkan sebagai perkara yang paling utama, sehingga pikiran, perkataan dan perbuatan kita selalu terfokus kepadaNya.
Ucapan yang lain, dikemukakan kembali dalam Matius, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10: 37).
Lukas menuliskan lebih keras lagi, “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu” (Lukas 14: 26).
Sekali lagi, bukan maksud Tuhan Yesus agar orang membenci orangtua dan keluarganya. Hal ini sungguh bertentangan dengan perbuatan Yesus sendiri. Sampai detik-detik terakhir dalam hidupNya ia masih memikirkan kesejahteraan ibuNya. Yesus prihatin tentang siapa yang akan merawat ibuNya setelah Ia disalibkan; sebab itu Ia menitipkan ibuNya kepada Yohanes (Yohanes 19: 26- 27).
Budaya Yahudi sangat bersifat komunal dan menjunjung tinggi kuatnya pertalian keluarga, baik dengan kerabat sedarah maupun kerabat nikah. Setiap orang terikat kepada komitmen kekerabatan. Komitmen itu antara lain tampak pada adat bahwa seorang adik laki-laki harus menikah dengan istri kakaknya, jikalau kakaknya meninggal dunia. Keterlaluan!
Lalu dengan ucapanNya itu, Tuhan Yesus memberi pesan bahwa diatas komitmen kekerabatan yang sangat tinggi tersebut masih ada komitmen yang lebih tinggi lagi, yaitu komitmen orang yang mau mengikuti Dia.
Mengikuti Yesus memang merupakan keputusan yang menentukan dan perbuatan yang akan mempengaruhi seluruh kehidupan kita. Mengikut Yesus adalah lebih luhur dari apa yang selama ini kita hargai sebagai yang paling luhur, yaitu menghormati orang tua dan mencintai keluarga kita. Mengikut Yesus meminta komitmen dan kesungguhan melebihi segala komitmen dan kesungguhan……..
Diskusi:
Ada tiga points yang kita peroleh dari perikop diatas, yaitu:
Selama ini kita belum sungguh-sungguh di dalam keseluruhannya,
Contoh:
Setelah anda membaca perikop diatas, apakah anda berani mengatakan bahwa anda termasuk murid Yesus yang radikal? Bukankah perikop ini telah berbicara bagi kita semua?
Keputusan apa yang anda akan lakukan untuk menjadi murid Yesus yang memiliki kesungguhan yang radikal dan komitmen yang tinggi? Sebutkan tiga keputusan anda untuk itu.