Biar Awet Muda

 

Pendahluan.

Baca Yesaya 43: 19!

 

Ada sebuah mythos di zaman Yunani kuno: Dewi Eos jatuh cinta pada Tithonos. Tetapi cinta ini menimbulkan soal, sebab Eos adalah dewi yang hidup abadi sedangkan Tithonos adalah manusia biasa yang fana. Sebab itu Dewi Eos meminta pada Dewa Zeus agar mengaruniakan hidup abadi kepada Tithonos. Permohonan dikabulkan. Tithonos tidak akan meninggal dunia.

Tetapi beberapa puluh tahun kemudian ternyata Tithonos menjadi tua. Tubuhnya makin lemah. Apa karunia hidup itu bohong? Oh, tidak. Karunia itu berlaku terus. Thitonos akan hidup abadi. Tetapi, tubuhnya tetap fana. Ternyata dulu Dewi Eos khilaf, ia meminta hidup yang abadi namun lupa untuk juga meminta tubuh yang abadi. Akibatnya Tithonos menderita, ia masih terus bernafas namun siang malam ia terkapar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ini gara-gara minta awet umur namun, lupa minta awet muda.

 

Sama seperti Tithonos, semua orang ingin awet muda. Karena itu ada jamu awet muda. Ada pula senam kebugaran yang menjanjikan awet muda. Di tiap toko ada banyak macam krim yang mencegah kulit menjadi keriput. Salon kecantikan menawarkan perawatan muka dengan masker. Dan bagi mereka yang beruban tersedia banyak semir atau cat rambut. Semua itu membuat kita tampak sekian tahun lebih muda.

Segala upaya untuk tetap bugar dan awet muda tentu baik saja. Silakan senam. Silakan semir rambut. Silakan merawat muka. Biar awet muda.

Nah, yang menjadi persoalan adalah bila upaya awet muda itu dibayangi ketakutan menjadi tua. Banyak orang memandang proses penuaan sebagai hantu yang menakutkan. Sebenarnya, proses menjadi tua adalah tanda perkembangan dalam diri kita. Tubuh kita berkembang, demikian juga kemampuan berpikir, kemampuan membuat pertimbangan, kemampuan membedakan mana yang baik dan yang buruk, dan sebagainya.

 

Seandainya kita tidak menua dan berkembang, maka seumur hidup kita terus menjadi bayi. Maukah kita seumur hidup berwajah bayi, merangkak seperti bayi dan bertingkat- pikir seperti bayi?

 

Banyak orang mengira bahwa proses penuaan terjadi kalau orang sudah tua. Padahal proses penuaan sudah dimulai pada waktu kita masih bayi. Proses menjadi tua adalah bagian dari penciptaan Allah atas diri kita. Kita cenderung menganggap bahwa kita diciptakan Tuhan ketika kita dikandung dan dilahirkan. Tetapi coba kita simak. Dalam tubuh kita terdapat jutaan sel. Dari jutaan sel itu tiap hari ada ribuan sel yang baru. Karya penciptaan Tuhan terjadi pada diri kita bukan hanya pada waktu kita dikandung dan dilahirkan, melainkan setiap hari sepanjang umur kita. Itulah penciptaan ulang. Tuhan bukan hanya menciptakan, melainkan juga menciptakan ulang : Kreasi (artinya Penciptaan)  disusul dengan rekreasi (penciptaan ulang) yang bersifat membaharui.

 

Berita tentang penciptaan di Alkitab juga disusul dengan janji tentang penciptaan ulang. Nabi Yesaya mencatat proses penciptaan ulang sebagai bentuk nyata penyertaan Allah terhadap umatNya:

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya.”

 

Dalam tubuh kita tiap hari terjadi proses penciptaan ulang dan pembaruan. Tuhan belum berhenti dalam upayaNya menciptakan kita. Tiap hari Tuhan menciptakan ulang ribuan sel yang baru dalam tubuh kita.

Tetapi bukan berarti bahwa tubuh kita bisa abadi. Tidak ada yang tetap dan abadi. Segala sesuatu berputar terus. Roda musim berputar: Musim semi, musim panas, musim rontok, dan musim dingin. Roda hidup manusia juga berputar: masa anak, masa remaja, masa dewasa dan masa lanjut usia. Tiap musim dan tiap masa ada keindahannya masing-masing. Seindah-indahnya suatu musim, kita tidak bisa meminta agar musim itu berhenti di situ. Demikian juga dengan masa usia kita.

 

Masa muda memang indah. Tetapi kita tidak bisa minta masa muda kita berhenti dan menjadi abadi. Awet muda memang menarik, tetapi kalau selama-lamanya awet muda, akibatnya juga bisa runyam.

Kalau anda tidak percaya, silakan bertanya pada Dayang Sumbi (sebuah mythos dari zaman dahulu, di Bandung). Dayang Sumbi tinggal di utara kota Bandung. Ia seorang wanita yang amat cantik. Walaupun sudah ada umur, ia tetap awet muda. Pada suatu hari seorang pemuda singgah. Kedua insan itu jatuh cinta. Mereka sehati untuk menjadi suami –istri. Tetapi pada malam menjelang pernikahannya, Dayang Sumbi terkejut bukan kepalang. Ternyata pemuda itu adalah Sangkuriang, puteranya yang sudah sekian belas tahun meninggalkan rumah. Tidak mungkin menikah dengan putera kandung sendiri. Maka Dayang Sumbi mengajukan suatu syarat yang mustahil bisa dilaksanakan oleh siapapun juga. Ia minta Sangkuriang membendung sungai menjadi danau sebelum fajar menyingsing dan membuat perahu untuk berbulan madu. Demi cinta Sanguriang menyanggupi. Bagaikan raksasa ia langsung bekerja. Dengan tenaga gaib ia memindahkan bukit demi bukit dan menggotong balok-balok kayu. Dayang Sumbi terkagum melihat kegaiban tenaga Sangkuriang. Dalam beberapa jam saja Sangkuriang berhasil membuat bendungan yang menahan aliran sungai Citarum. Danau itu hampir rampung. Padahal hari masih malam. Lalu Dayang Sumbi mengubah langit yang masih malam mendadak menjadi siang. Melihat hal itu Sanguriang naik pitam. Lalu perahu itu di terbalikkannya. Sampai hari ini perahu itu masih ada di tepi jalan Bandung- Subang sebagai saksi yang berucap, “Biar awet muda, tetapi jangan terlalu awet.” Nah, lu…..

 

Bagi kaum wanita di IPC, jangan terlalu spending uang terlalu banyak untuk alat-alat make-up. Itu bukan tempat menabur yang tepat. Yang penting kita bisa jaga stamina rohani kita, supaya dari dalam terpancar sinar cahaya terang Yesus, itu yang membuat kita awet muda, seperti ko Agus dan Cik lily.

Selamat hari ibu. Tuhan memberkati.