Bagaimana Membalikkan Kekalahan Menjadi Kemenangan
Pendahuluan.
§ 1Samuel 28: 1- 2
§ 1Samuel 29: 1-4, 11
§ 1Samuel 30: 1- 20
Suatu kali Daud memutuskan untuk melarikan diri ke negeri Filistin, karena Daud berpikir, bahwa suatu kali kelak ia akan binasa oleh tangan Saul. Jadi, Daud memutuskan untuk tinggal di negeri orang Filistin, supaya Saul berhenti untuk mengejarnya. Daud membawa kedua istrinya dan 600 pasukannya beserta keluaganya masing-masing. Daud diterima oleh salah seorang raja Filistin, dan kepada mereka raja Akhis memberikan sebuah tempat yang bernama Ziklag.
Tidak lama setelah nabi Samuel mati, suatu kali orang Filistin mengerahkan tentaranya untuk berperang melawan orang Israel. Saul pada saat itu merasa ketakutan dan sangat gemetar. Lalu Saul datang kepada Tuhan tetapi Tuhan sama sekali tidak menjawab doa Saul, karena Roh Allah telah meninggalkannya. Akhirnya, Saul memutuskan untuk memanggil pemanggil arwah (dukun) untuk mendapat kepastian apakah orang Isreal akan menang dalam peperangan ini.
Melalui seorang wanita peramal di En-Dor, hari itu roh Samuel muncul dari dalam bumi, dan kemudian Samuel berkata kepada Saul bahwa dalam waktu dua puluh empat jam Saul bersama dengan anak-anaknya akan mati ditangan orang Filistin.
Pada kesempatan lain, Daud yang pada waktu itu bersama 600 serdadunya ikut bergabung dengan tentara Filistin untuk berperang melawan orang Israel. Tetapi ketika salah seorang panglima Filistin yang sedang memeriksa barisan tentara Filistin melihat Daud, maka ia menolak Daud untuk bergabung dan menyuruh supaya Daud pulang ke tempatnya. Lalu kembalilah Daud bersama-sama seluruh pasukannya ke Ziklag. Ketika Daud serta orang-orangnya sampai ke Ziklag pada hari yang ketiga, orang Amalek yang telah menyerbu Ziklag membakar habis kota tersebut dan menawan seluruh keluarga (anak-anak dan istri) mereka. Melihat kejadian itu, Daud sangat tertekan dan menjadi dipresi. Alkitab mengatakan Daud bersama dengan serdadunya menangis dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis (1Sam. 30: 4).
Pristiwa itu terjadi, dalam kurun waktu 24-jam sebelum Saul mati ditangan orang-orang Filistin. Seandainya Daud mengetahui bahwa roh Samuel telah mengatakan bahwa umur Saul hanya tinggal 24-jam, mungkin Daud tidak akan mengalami tekanan dan dipresi pada waktu itu.
Apa yang dapat kita belajar dari kejadian ini?
I. Setiap kejadian kita haruslah memeriksa hati
Jangan selalu mencari kambing hitam!
Apabila kita kembali kepada kepercayaan orang Yahudi: Mereka percaya bahwa setiap kesukaran atau malapetaka (tragedy)yang terjadi ditengah-tengah mereka atau dalam keluarga atau disebuah kota, adalah merupakan pertanda hukuman dari Tuhan.
Contoh:
§ Ayub
Dari ketiga temannya masing –masing mengatakan demikian:
Yang pertama, mengatakan bahwa Ayub pasti melakukan suatu kesalahan, karena tidak mungkin orang benar itu mengalami penderitaan semacam ini.
Yang kedua, mempertanyakan hubungannya dengan Tuhan, karena orang yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan tidak mungkin mengalami penderitaan semacam ini.
Yang ketiga, mengatakan bahwa Ayub memiliki hati yang jahat, karena hanya orang yang memiliki hati yang jahat akan mengalami penderitaan semacam ini.
Dengan kata lain, apa yang terjadi dengan Ayub adalah merupakan pertanda hukuman dari Tuhan.
Jauh sebelum Yesus lahir (600- tahun) dan mengalami penderitaan di kayu salib, nabi Yesaya telah menubuatkan demikian:
“ Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah “ (Yesaya 53: 4).
Dengan kata lain, apa yang terjadi dengan Yesus ketika Ia berada di kayu salib, bagi orang Yahudi, adalah merupakan pertanda hukuman dari Tuhan.
§ Janda di Sarfat
Suatu kali ketika nabi Elia bertemu dengan seorang janda di Sarfat dan setelah janda ini memberinya makan, kemudian Tuhan melakukan seperti apa yang nabi Elia katakan kepada janda tersebut yaitu memberkati kebutuhan janda tersebut. Tetapi suatu kali, ketika anak janda tersebut sakit keras dan hampir mati, nabi Elia kembali kerumah janda ini. Lalu janda ini berkata kepada nabi Elia: “Apakah maksudmu datang kemari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” (1Raja 17: 17-18).
Dengan kata lain, apa yang terjadi dengan anak janda di Sarfat ini, adalah merupakan pertanda hukuman dari Tuhan.
Jadi, orang Yahudi percaya bahwa setiap kesukaran atau malapetaka (tragedy)yang terjadi ditengah-tengah mereka atau dalam keluarga atau disebuah kota, adalah merupakan pertanda hukuman dari Tuhan.
Tidak selalu penderitaan, tragedy atau masalah dalam hidup kita yang terjadi itu merupakan pertanda hukuman dari Tuhan.
Dibalik setiap masalah selalu ada maksud yang baik.
Baca 1Samuel 30: 21-25: Dari pristiwa ini Daud menetapkan suatu keadilan ditengah-tengah orang Israel. Dengan kata lain, Daud memperoleh kembali integritasnya.
II. Jangan mempercayai manusia lebih dari pada Tuhan (1Sam.30: 6)
Apa yang Daud alami pada waktu itu?
Bukan saja ia menangis dengan nyaring tetapi Daud sangat terjepit, karena pada saat itu seluruh rakyat (serdadunya) ingin melempari Daud dengan batu (1Sam. 30: 6).
Apabila kita kembali kepada 1Samuel 18, disitu dikatakan bahwa raja Saul membenci Daud dan ingin membunuhnya. Akhirnya Daud melarikan diri dari suatu tempat ketempat yang lain. Suatu kali Daud sampai ke sebuah goa namanya Adulam (1Samuel 22: 1- 2), dan disana ada 400 orang yang ikut bergabung dengan Daud. Mereka adalah orang-orang yang dalam kesukaran (dikejar-kejar tukang piutang dan sakit hati). Mereka sangat loyal terhadap Daud, karena mereka tahu bahwa Daud adalah orang yang diurapi Tuhan. Tetapi pada hari itu mereka berbalik dari pada Daud, dan ingin melempari dia dengan batu. Kita bisa bayangkan perasaan dan keadaan Daud pada waktu itu. Akhirnya, Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan (1Sam. 30: 6).
Jangan pernah percaya kepada orang sekalipun ia orang yang terdekat dengan kita, karena suatu kali ia akan berbalik dari pada kita.
Allah itu adalah Allah yang cemburu.
Contoh:
Baca Mazmur 118: 8- 9 !
III. Daud bertanya kepada Tuhan (1Sam. 30: 7- 8)
Dalam keadaan terjepit, Daud meminta kepada imam Abyatar supaya kepadanya diberikan baju efod. Baju efod itu adalah pakaian kudus para imam. Baju itu terdiri dari emas, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus. Pada dada tepat diatas jantung dari pakaian efod itu ada dua belas batu permata yang melambangkan masing-masing suku Israel. Didalam tutup dada pernyataan keputusan terdapat Urim dan Tumim, yang melambangkan keputusan bagi orang Israel.
Kemudian Daud bertanya kepada Tuhan. Tuhan menjawab Daud.
Zaman sekarang kita dapat mengetahui kehendak Tuhan melalui 3-cara:
§ Kehendak Tuhan secara mutlak
§ Kehendak Tuhan secara moral
§ Kehendak Tuhan secara individu
Contoh:
IV. Tuhan memberi petunjuk melalui orang yang hina (1Sam.30: 11, 15, 16)
Ketika dalam perjalanan mengejar gerombolan Amalek, Daud dan rombongannya bertemu dengan seorang budak Mesir.
Orang Yahudi tidak akan meminta petunjuk atau pertolongan kepada orang Mesir, kecuali dalam keadaan terdesak sekali. Mereka menganggap rendah/ hina kepada orang-orang Mesir. Tetapi Tuhan memakai budak Mesir ini sebagai instrumentNya untuk memberikan petunjuk kepada Daud.
Jangan pernah menghina orang kecil. Karena merekapun dapat dipakai Tuhan sebagai instrumentNya untuk keberhasilan kita.
Contoh:
Konklusi:
Apabila kita ingin membalikkan kekalahan menjadi kemenangan maka ada empat hal yang harus kita lakukan:
§ Periksa hati kita
§ Percaya kepada Tuhan (Amsal 3: 5)
§ Berdoa
§ Membuka diri sehingga kita dapat melihat petunjuk dari Tuhan