Apabila Allah Tidak Berbicara Sama Sekali

 

Pendahuluan.

Banyak masalah dalam kehidupan yang sering menimbulkan rasa frustasi. Dan bukan hanya masalah dalam hidup saja yang menimbulkan frustasi melainkan juga masalah dalam kekristenan, yaitu ketika Allah tidak berbicara sama sekali kepada kita.

Apabila selesai berdoa dan mencurahkan seluruh isi hati kita kepada Tuhan, kita selalu berharap supaya Tuhan memberikan sedikit tanggapan.

Selama hampir dua puluh tahun saya menjadi orang Kristen, banyak kalanya saya menangis dan merasa sedih dengan pristiwa dalam hidup, terutama ketika setelah selesai kuliah dan kembali ke Indonesia. Susah untuk terlupakan ketika kami masih sangat baru dalam kepemimpinan, sebagai pendeta dalam gereja IPC, saya sering merasa sedih dan menangis dihadapan Tuhan, dan berharap sekali supaya Tuhan berbicara dengan kata-kata penghiburan. Tetapi kenyataannya, Allah tetap diam saja.

Kadang kala, saya berharap supaya Tuhan mengirim malaikatNya untuk menjawab beberapa pertanyaan saya yang sederhana.

Seandainya Tuhan mau muncul sebentar saja, dan berkata, “I am still in control”, maka hal itu sangat menolong sekali. Tetapi kenyataannya Tuhan tetap diam saja.

 

Yang menambah lagi kekesalan dalam hati, yaitu ketika kita membaca firman Tuhan, dan menemukan dimana Tuhan berbicara kepada karakter-karakter yang tertulis dalam firman tersebut:

-         Di kala Petrus ditangkap dan di penjarakan, lalu seluruh jemaat berdoa, dan tiba-tiba malaikat Tuhan muncul, lalu menepuk bahu Petrus sambil berkata,”Bangunlah segera” (Kis. 12 5 -7).

-         Dikala Paulus dalam menghadapi kesulitan di Korintus, maka malam itu, Tuhan berfirman kepadanya, “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umatKu dikota ini” (Kis. 18: 9- 10).

 

Kelihatannya tidak fair. Disatu pihak Tuhan berbicara kepada mereka, dipihak lain Tuhan membisu terhadap kita.

Bagi kita, apabila Tuhan membisu, maka hal ini akan menambah penderitaan kita, karena secara theologis kita diajarkan bahwa Tuhan itu sebagai ‘Bapa’ dan sangat merindukan suatu komunikasi dengan kita sebagai anak-anakNya. Berkali-kali kita diajarkan, bahwa menjalin komunikasi dengan Allah itu sangat penting, karena untuk itulah kita diciptakan. Tetapi ketika kita berdoa dan mencurahkan isi hati kita, ternyata Tuhan membisu.

Ø      Mungkin ada diantara kita yang masih terus mencari pasangan hidup, dan telah berdoa bertahun-tahun, sambil menantikan jawaban Tuhan. Tetapi tidak ada jawaban sama sekali.

Ø      Mungkin ada diantara kita yang masih terus mencari pekerjaan, dan telah berdoa berbulan-bulan, sambil menantikan jawaban dari Tuhan. Tetapi tidak ada jawaban sama sekali.

Ø      Mungkin ada diantara kita yang masih terus mencari jawaban mengenai kemalangan yang terjadi dalam keluarga (perceraian, kematian, sakit, dll.). Anda telah berdoa terus menerus, sambil menantikan jawaban dari Tuhan. Tetapi tidak ada jawaban sama sekali.

Contoh:

 

Kadangkala kita bertanya, benarkan Tuhan itu ada? Benarkan Allah itu memperdulikan saya?  Ruang keraguan mulai timbul dalam hati kita.

Kadangkala kita tidak hanya membutuhkan keterlibatan Tuhan dalam segala sesuatu yang kita kerjakan, tetapi lebih dari pada itu, yaitu pengarahan (direction) dari padaNya.

 

Hari ini kita akan belajar memahami, “Apakah Allah masih perduli dengan kita ketika kita dalam penderitaan?” Setelah kita memahami hal ini, marilah kita menghapuskan segala keraguan tentang kasih dan perhatian Tuhan dalam hidup kita.

 

Saya akan ambil dari kehidupan Yusuf. Apabila saudara belajar tentang kehidupan Yusuf, jangan sekali-kali menyelusuri ceritera ini mulai dari belakang.

 

Yusuf adalah keturunan keempat dari Abraham.

Kepada Abraham, Allah selalu menyatakan rencanaNya, bahkan Abraham disebut sahabat Allah. Lalu, kepada Ishak pun Allah telah berfirman secara langsung. Yakup pun demikian, dimana Allah telah sewaktu-waktu datang kepada Yakup dalam mimpi dan berfirman kepadanya. Tetapi kepada Yusuf, belum pernah Allah datang secara personal dan berfirman kepadanya. Oleh sebab itu, ceritera Yusuf sangat menarik perhatian serta memberi jawaban kepada mereka yang merasa Tuhan tidak pernah berbicara kepadanya.

(Salah satu karunia yang diberikan Tuhan kepada Yusuf adalah karunia menafsirkan mimpi, tetapi itu hanya berupa karunia. Sama seperti kita yang memiliki karunia seperti musik, bernyanyi, mengajar, memimpin, dll.)

 

Apabila kita belajar tentang karakter dalam Alkitab, maka kita harus berfokus kepada  ‘prosesnya’, yaitu suatu perjalanan rohani dari karakter tersebut. Hasilnya tidak seberapa penting! Tetapi proses yang dialami oleh karakter tersebut itulah yang sangat penting. Semua proses tersebut menuju kepada rencana Tuhan dalam hidup seseorang.

 

Ada lima bagian yang Yusuf alami dalam spiritual journey:

 

I.                   Ketika Yusuf sangat membutuhkan pertolongan Tuhan

Suatu kali, Yakub menyuruh Yusuf untuk melihat keadaan kakak-kakaknya.

Baca Kejadian 37: 12- 14 !

Setelah Yusuf tiba di Sikhem, ia tidak menemukan mereka disana. Lalu ia bertanya kepada seseorang disekitar daerah tersebut, apakah mereka mengetahui tentang kakak-kakaknya.

Baca Kejadian 37: 17!

Ketika kakak-kakaknya melihat Yusuf, maka timbullah niat jahat mereka untuk membunuhnya.

Baca Kejadian 37: 20!

Salah satu dari kakaknya, Ruben, menghalangi yang lain untuk membunuh Yusuf, dan memberikan jalan keluar, sehingga Yusuf dimasukkan kedalam salah sumur tua yang kering.

Baca Kejadian 37: 24!

 

Feedback 1: Coba bayangkan apabila kita dalam posisi Yusuf.

Yusuf pergi mencari kakak-kakaknya karena mentaati ayah. Setelah sampai di Sikhem, ia tidak menemukan mereka, lalu ia meneruskan perjalanannya 25 miles extra supaya dapat menemukan kakak-kakaknya di Dotan. Jadi, tidak masuk akal!  Apabila Yusuf dikasihi oleh ayahnya lebih dari pada kakak-kakaknya, itu pilihan ayahnya. Dalam kejadian ini, pasti Yusuf sangat berharap intervensi Tuhan, walaupun bukan kelepasan, tetapi paling tidak satu kalimat yang mengatakan, “Jangan takut! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau.”

Ketika itu Yusuf sangat membutuhkan pertolongan Tuhan, tetapi Allah membisu!

 

II.                Ketika Yusuf jauh dari rumah dan tanah airnya

Ketika kakak-kakaknya sedang duduk makan, mereka melihat seorang kalifah sedang lewat menuju ke Mesir. Lalu mereka memutuskan untuk menjual Yusuf kepada kalifah tersebut.

Baca Kejadian 37: 27- 28!

Sesampainya di Mesir, adapun Yusuf ia dijual oleh kalifah tersebut kepada Potifar, seorang kepala pengawal raja. Yusuf diperlakukan sebagai budak oleh Potifar.

Pertama-tama, Yusuf di pekerjakan di ladang. Selang beberapa lama kemudian, Potifar, merasa kagum akan segala yang dikerjakan oleh Yusuf, karena Tuhan selalu

menyertai Yusuf, sehingga ia di pekerjakan di dalam rumah untuk melayani dia. Karena Tuhan, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, lalu diangkat menjadi domestic manager dalam rumah tangga Potifar.

Baca Kejadian 39: 6!

 

Feedback 2: Coba bayangkan apabila kita dalam posisi Yusuf.

Yusuf bekerja dalam rumah tangga Potifar dalam kurun waktu 5- 10-tahun.

Untuk menjadi domestic manager bukanlah terjadi dalam waktu sebulan atau setahun. Ingat Yusuf adalah orang asing: kebudayaan dan bahasanya pun berbeda. Sekalipun Yusuf selalu beruntung dalam careernya, tetapi Yusuf tetap budak. Dia tetap jauh dari orang-tuanya. Yusuf sangat merindukan untuk kembali kepada orang-tuanya. Tetapi Tuhan tetap membisu!

 

III.             Segalanya tidak bertahan lama

Alkitab mengatakan bahwa Yusuf mempunyai sikap yang manis dan elok parasnya.

Sering sekali, istri Potifar memperhatikan Yusuf, dan ingin bersetubuh dengannya. Dalam suatu kesempatan, ketika tidak ada orang didalam rumah, kecuali ia bersama Yusuf, maka ia memaksakan Yusuf untuk bersetubuh dengannya. Yusuf menolaknya dan lari daripadanya. Tetapi karena malu, maka istri Potifar membuat rekayasa, dan akhirnya Yusuf dimasukkan kedalam penjara.

Baca Kejadian 39: 20!

 

Feedback 3: Coba bayangkan apabila kita dalam posisi Yusuf.

Setiap kali Yusuf diajak tidur oleh istri Potifar, ia menolak dan suatu kali Yusuf mengatakan imannya kepada istri Potifar, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej. 39: 9).

Ketika Yusuf berada dalam penjara, maka Yusuf mulai bertanya dalam hatinya, “Aku tidak melakukan sesuatu yang jahat dimata Tuhan. Aku menghindari untuk berbuat yang najis dan berjalan sesuai dengan firman Tuhan, tetapi koq bisa menjadi begini?”

 

Yang sangat menyedihkan serta merasa terkhianati adalah ketika kita melakukan yang benar dimata Tuhan tetapi bukan pujian atau promosi yang kita peroleh melainkan sebaliknya:

-         Kadangkala kita bertanya, “Tuhan, aku sudah berlaku jujur dalam business, koq malah kerugian yang kuperoleh?”

-         Kadangkala kita bertanya, “Tuhan, bukankah aku tidak minta dilahirkan dalam keluarga ini, koq malah aku sekarang menderita sedemikian?”

-         Kadangkala kita bertanya, “Tuhan, aku sudah berbuat baik kepada teman-temanku, koq malah mereka memfitnah aku?”

-         Kadangkala kita bertanya, “Tuhan, aku sudah berlaku setia kepada perusahaan ini, koq malah aku dikeluarkan dari pekerjaan?”

-         Kadangkala kita bertanya, “Tuhan, aku sudah setia terhadap suamiku, koq malah dia meninggalkan aku dan anak-anak?”

Banyak orang yang menjadi berbalik setia kepada Tuhan, karena tidak mendapat jawaban sama sekali. Mereka merasa telah berbuat yang benar tetapi yang diterima bukan yang baik malah sebaliknya.

Yusuf dimasukkan kedalam penjara Mesir. Sebagai orang asing, dengan status budak, ia tidak diperbolehkan untuk naik banding dengan perkaranya. Tidak ada seorangpun yang mengunjunginya.  Bahkan Tuhan tetap membisu!

 

IV.              Berharap kepada manusia mendatangkan kesia-siaan

Yusuf berada didalam penjara lebih dari dua tahun. Ada kemungkinan sampai 5-tahun. Selang beberapa lama kemudian, Yusuf diangkat menjadi wakil dari kepala penjara, karena Tuhan menyertainya. Suatu kali, ada dua orang dari pegawai istana yang dimasukkan kedalam penjara, untuk ditahan beberapa waktu lamanya, sambil menunggu kasus mereka diproses. Yang satu juru minum raja dan yang satu lagi adalah tukang roti.

Suatu kali, keduanya mendapat mimpi. Lalu Yusuf menterjemahkan mimpi mereka.

Baca Kejadian 40: 9-13!

 

Feedback 4: Coba bayangkan apabila kita dalam posisi Yusuf.

Yusuf selalu berharap untuk bisa keluar dari penjara. Oleh sebab itu, ia berpesan kepada juru minum tersebut.

Baca Kejadian 40: 14-15!

Tetapi Alkitab mengatakan, “Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya” (Kej. 40: 23).

Sekalipun, Yusuf selama di penjara tetap berlaku setia kepada Tuhan dengan mengatakan, “Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi?” (Kej. 40: 8), namun demikian, ia menaruh harapan dimana satu-satunya jalan keluar supaya dapat dilepaskan dari penjara adalah berharap kepada manusia.

-         Mungkin ada diantara kita mengatakan, “Saya selalu aktif melayani dan terus berdoa kepada Tuhan agar suami saya berubah, tetapi kenyataannya sama sekali tidak ada perubahan.”

-         Mungkin ada diantara kita mengatakan, “Saya sudah berdoa dan berpuasa untuk dilepaskan dari kebiasaan yang buruk (pornografi, obat-obatan, sex, dll.), tetapi kenyataannya sama sekali tidak ada perubahan.”

 

Yusuf pun menghadapi kenyataan yang demikian. Setiap kali pintu penjara dibuka, dimana salah seorang pengawal dari raja datang untuk membawa keluar seorang tawanan, hati Yusuf berdebar-debar. Ia selalu menantikan gilirannya.

 

Suatu kali, didalam penderitaannya, Ayub ingin bertemu dengan Tuhan untuk mengutarakan keluh kesahnya. “Ayub mencari Tuhan di utara, Ia tidak nampak, Lalu Ayub berpaling ke selatan, disitupun Allah tidak kelihatan.” Allah membisu (Ayub 23: 2-9).

Daud pun pernah berdoa kepada Tuhan dan tidak dihiraukan oleh Tuhan. Sehingga didalam keluh kesahnya Daud bertanya kepada Tuhan, “Berapa lagi Engkau melupakan aku, berapa lama lagi Engkau menyembunyikan wajahMu?” (Maz. 13: 2).

 

V.                 Mimpi Firaun

Setelah lewat dua tahun kemudian, bermimpilah Firaun. Dan tidak ada seorangpun yang berhikmat diseluruh Mesir yang dapat menterjemahkan mimpi tersebut.

Pada kesempatan itu, juru minuman raja, yang pernah ditahan dipenjara sambil menunggu kasus dalam mencoba membunuh raja melalui makanan & minuman,  menceriterakan kepada raja bahwa ada seorang Ibrani didalam penjara yang telah menafsirkan mimpi mereka dan persis apa yang dikatakannya demikianlah terjadi.

Akhirnya, Yusuf dipanggil, dan Allah memberikan hikmat kepadanya untuk  menafsirkan mimpi Firaun tersebut. Kemudian, Yusuf diangkat menjadi penguasa di Mesir.

Baca Kejadian 41: 38- 41 !

 

Konklusi:

Inilah spiritual journey Yusuf : Dari seorang anak kesayangan, dijual menjadi budak, dipenjara tanpa kesalahan, kemudian diangkat menjadi penguasa di Mesir. Sekalipun Yusuf tidak melakukan yang jahat dimata Tuhan dan tetap berlaku setia kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak pernah memberi jawaban atas semua pergumulan Yusuf. Hingga akhir hidupnya, Allah tetap membisu. Tetapi ditengah-tengah kebisuanNya, Ia sedang mengatur jalan hidup seseorang yang tetap percaya dan berharap kepadaNya.

Keterlibatan atau intervensi Allah didalam hidup kita tidak dapat diukur dengan situasi yang kita alami, tetapi selalu diukur dengan dua hal, yaitu:

*      Perkembangan karakter dari seorang

*      Memenuhi rencanaNya

Justru melalui penderitaan demi penderitaan Allah dapat menggenapi rencanaNya dalam hidup seseorang.

 

Illustrasi:

 

Hari ini, mari kita hilangkan rasa keraguan akan kasih dan perhatian Tuhan kepada kita. Kita harus berfokus kepada  ‘proses’, yaitu suatu perjalanan rohani bersama Tuhan. Hasilnya tidak seberapa penting! Tetapi proses yang dialami oleh masing-masing kita itulah yang sangat penting. Semua proses tersebut akan menuju kepada rencana Tuhan dalam hidup seseorang.

He may be silent, but He is not still.

 

Firman tambahan:

Baca Mazmur 13:2, Mazmur 77: 8- 92Tawarikh 32: 31 !