Pendahuluan.
Baca 2 Samuel 6: 1- 11 !
Yang menarik perhatian kita dalam pembacaan ini adalah, pada ayat 8- 9:
“Daud menjadi marah, karena Tuhan telah menyambar Uzar……..Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada Tuhan, lalu katanya: ‘Bagaimana tabut itu dapat sampai kepadaku’ (How can the ark of the Lord ever come to me).”
Disini raja Daud marah sebanyak dua kali kepada Tuhan.
Pertanyaan: Apakah seseorang boleh marah kepada Tuhan?
Banyak orang merasa bahwa adalah salah apabila kita marah kepada Tuhan.
Contoh:
Sharon yang telah kehilangan ibunya, neneknya (keduanya karena sakit) dan kedua anak perempuannya (keduanya karena kecelakaan) dalam waktu yang singkat.
Bukankah apabila kita mengalami hal semacam ini, kita akan bertanya? Dimanakah Tuhan? Apakah Tuhan benar-benar memperdulikan saya? Kenapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi?
Sering orang merasa bahwa adalah salah apabila ia marah kepada Tuhan.
Kadang kalanya ada orang, dimana mereka tidak tahu, bahwa mereka itu marah terhadap Tuhan.
Contoh:
Kadang kalanya ada juga yang tahu bahwa mereka sedang marah terhadap Tuhan tetapi mereka takut untuk memikirkan hal tersebut. Lalu mereka menyembunyikan perasaan tersebut dalam diri mereka.
Bukankah Tuhan tahu hati seseorang? Tuhan tidak memerlukan untuk mendengarkan doa kita terlebih dahulu, supaya Ia dapat mengerti hati dan perasaan kita.
Contoh:
Anak Ken Taylor yang berdoa dengan tidak jujur.
Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas, mari terlebih dahulu kita melihat definisi mengenai ‘marah’ (anger):
Ø Marah adalah sebuah ‘signal’
Ø Marah (secara natural) adalah suatu tanggapan dari perlakuan tidak adil.
Ø Harriet Lerner mengatakan marah adalah sebuah pesan yang menyatakan bahwa
Sering kita berasosiasi, bahwa marah itu dapat membuat permusuhan, jadi kita selalu menghindari marah., baik itu terhadap teman maupun terhadap Tuhan.
Dari definisi marah diatas, yaitu dimana marah adalah suatu tanggapan dari perlakuan tidak adil, maka paling tidak ada dua hal yang baik dari kemarahan:
v Allah yang memberikan kemarahan itu dalam emosi kita. Bukan berarti setiap kemarahan itu selalu suci, tetapi setiap kemarahan itu dapat di-mengerti oleh Allah.
v Kemarahan itu menuntut keadilan, karena marah itu berasal dari suatu kerinduan untuk diperlakukan secara adil.
Jadi, kemarahan itu diberikan Tuhan kepada kita untuk memperingatkan bahwa ada sesuatu yang salah.
Contoh: America under attack (12 September 2001)
Nah, apabila kita marah terhadap Tuhan apakah berarti kita menuduh bahwa Tuhan berbuat sesuatu yang salah? Apakah berarti kita menuduh bahwa Tuhan berbuat sesuatu yang tidak adil?
Yang pasti, pada umumnya, apabila kita marah terhadap Tuhan kita sedang merasakan bahwa Tuhan memperlakukan kita secara tidak adil.
Apabila kita kembali kepada Alkitab, maka kita akan melihat serangkaian pahlawan-pahlawan iman , seperti: Abraham, nabi Musa, nabi Samuel, raja Daud, nabi Elia, Ayub, nabi Yeremia, rasul Petrus dan rasul Paulus. Mereka semua pernah mengexpresikan kemarahan, frustasi, ketidak- setujuan, bahkan kekecewaan mereka di dalam hubungan mereka dengan Tuhan.
Martin Luther said that “ we must know God as an enemy before we can know Him as a friend.”
Selama kita mengerti bahwa kita dapat mengexpresikan perasaan-perasaan kita kepada Tuhan maka kita akan mengalami kesembuhan dalam hubungan kita dengan Tuhan.
Dalam kejadian dengan Sharon diatas, tidak ada hubungannya dengan teologi melainkan emosi. Dari pandangan psychology, Sharon memerlukan suatu dorongan untuk merasakan perasaannya yang dalam dan mengakui kemarahannya. Keterbukaan adalah kesembuhan yang paling cepat dalam kasus seperti Sharon ini.
Selama kita menganggap marah terhadap Tuhan itu sesuatu yang salah, maka hal itu merusak emosi kita dan bahkan mempengaruhi kepada hubungan kita dengan Tuhan, yaitu menjadi semakin renggang.
Contoh:
Suami- istri (Andreas & Yul) yang tidak pernah terbuka dengan masalah mereka
Apabila seseorang sedang dalam suatu masalah, kemudian ia share dengan kita, lalu karena ia tidak bisa mempersalahkan orang lain, maka ia menuduh Tuhan dan marah terhadap Tuhan. Yang sering kita lakukan adalah demikian: Kita cenderung berkata, “Kamu salah kalau marah terhadap Tuhan, karena Tuhan itu baik dan sempurna.” Dengan kata lain, apabila seseorang merasa dalam hatinya bahwa Tuhan tidak memperlakukannya dengan adil (fair), maka orang tersebut salah. Karena Allah itu sempurna, kudus dan adil, maka tidak masuk akal apabila kita marah terhadap Tuhan. Kedengarannya benar, tetapi yang harus di ingat adalah bahwa kemarahan itu tidak logic. Kemarahan itu timbul, disebabkan karena fokus kita, selalu kepada keadilan.
Daud dan nabi Yeremia adalah orang yang selalu marah dan bertanya kepada Tuhan,
v “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya Tuhan, dan menyembunyikan diriMu dalam waktu-waktu kesesakan” (Maz. 10: 1).
v “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.” (Maz. 22: 1)
v “Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? bangunlah! Janganlah membuang kami terus menerus! Mengapa Engkau menyembunyikan wajahMu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami?” (Maz. 44: 24- 25)
v “Ya Pengharapan Israel, Penolong di waktu kesusahan! Mengapakan Engkau seperti orang asing di negeri ini. Mengapakah Engkau seperti orang yang bingung, seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong? Tetapi Engkau ada diantara kami, ya Tuhan, dan namaMu diserukan di atas kami; janganlah tinggalkan kami!” (Yer. 14: 8- 9).
Bahkan dalam beberapa tulisan raja Daud, dalam Mazmur, ia mengungkapkan rasa ke heranannya kenapa Tuhan yang membiarkan orang-orang fasik diberkati sedangkan orang benar mengalami kekurangan.
Jadi, jangan merasa malu untuk bertanya kepada Tuhan mengenai keadaan yang menimpa diri kita. Utarakan secara terbuka perasaan kita kepada Tuhan, sekalipun kita tahu bahwa pandangan Tuhan sangat berbeda dengan pandangan kita. Walaupun kita selalu tidak dapat mengerti dengan apa yang Tuhan kerjakan, tetapi kita harus melakukan sesuatu dengan apa yang kita rasakan. Satu-satunya jalan untuk mengalami kesembuhan adalah dimana kita dapat terbuka dan mengexpresikan perasaan-perasaan kita kepada Tuhan.
Kasih dan kemarahan itu selalu berdampingan.
Kasih itu lebih dari pada suatu kumpulan-kumpulan perasaan yang positif terhadap seseorang. Kasih itu merupakan suatu komitmen yang membuat seseorang itu penting dalam hidup kita. Tetapi kemarahan itu tidak musti merupakan suatu penolakan terhadap diri seseorang.
Apabila seseorang itu penting bagi kita, maka kita akan berusaha supaya orang tersebut berbuat yang baik atau diperlakukan yang baik.
Contoh:
Jadi, kasih itu selalu menciptakan suatu relationship dan tentunya kita selalu berusaha memelihara relationship tersebut, sekalipun dengan suatu resiko, perselisihan atau kemarahan.
Suatu kali Tuhan mengizinkan Ayub, orang yang dikasihiNya, untuk dicobai oleh Setan: Disamping penderitaan Ayub yang sangat berat baik, secara emosi, mental dan fisik, Ayub tidak menyerah dan lalu mengutuki Tuhan, melainkan ia tetap mengasihi dan mempercayai Tuhan, dengan jalan mengutarakan seluruh perasaannya (kekecewaannya, kemarahannya) dan emosinya kepada Tuhan.
Ingat, kasih yang dimiliki oleh Allah itu cukup untuk bertahan terhadap kemarahan atau emosi kita. Dan jangan lupa, bahwa Ia yang menciptakan kemarahan itu dalam emosi kita. Alkitab berbicara mengenai Allah yang berdebat, bergulat dan mengusik orang.
Jadi, apabila kita menginginkan suatu hubungan yang baik dengan Tuhan maka kita harus terbuka dengan kemarahan kita, sebagaimana kita terbuka dengan kasih kita terhadap Tuhan.
Konklusi:
Selalu ada resiko untuk mengexpresikan perasaan kita secara jujur. Didalam hubungan antara sesama kita, mungkin bisa disalah mengerti, bahkan kemarahan kita dapat membuat orang lain jadi marah terhadap kita. Atau resiko yang lain adalah kita merasa sangat dipermalukan dengan suatu kenyataan bahwa ternyata kita yang salah.
Salah pengertian, ketidak sepakatan atau konflik tidak dapat dihindarkan dalam suatu relationship, terutama dalam suatu relationship dengan Allah yang tidak kelihatan, karena kita manusia yang pernah jatuh kedalam dosa. Tetapi apabila kita ingin memelihara suatu relationship yang murni dengan Tuhan maka kita harus berani bergulat atau berdebat dengan Tuhan dengan jalan bertanya, atau kontrontasi atau complain mengenai ketidak adilan, rasa kesakitan atau kemalangan yang menimpa diri kita.
Dalam sebuah puisi: “Ketika itu Tuhan menggedong Kita” , Margaret Fishback menuliskan kalimatnya berbunyi demikian:
Pada suatu malam aku bermimpi.
Aku berjalan di tepi pantai dengan Tuhan. Di bentangan langit gelap tampak kilasan adegan-adegan hidup.
Di tiap adegan, aku melihat dua pasang jejak kaki di pasir,
Satu pasang jejak kakiku yang lain jejak kaki Tuhan.
Ketika adegan terakhir terlintas di depanku
Aku menengok kembali kepada jejak kaki dipasir
Disitu hanya ada satu pasang jejak.
Aku mengingat kembali bahwa itu adalah bagian yang tersulit dan paling menyedihkan dalam hidupku.
Hal ini menganggu perasaanku maka aku bertanya kepada Tuhan tentang keherananku.
“Tuhan, Engkau berkata ketika aku berketetapan mengikut Engkau, bahwa Engkau akan berjalan dan berbicara dengan aku sepanjang jalan. Namun ternyata pada masa yang paling sulit dalam hidupku hanya ada satu pasang jejak.
Aku tidak mengerti mengapa justru pada saat aku sangat membutuhkan Engkau, Engkau meninggalkan aku.”
Tuhan berbisik, “Anaku yang kukasihi, Aku mencintai kamu dan takkan meninggalkan kamu pada saat sulit dan penuh bahaya sekalipun. Ketika kamu melihat hanya ada satu pasang jejak
Itu adalah ketika Aku mengendong kamu.”
Tepat pada kalimat yang ditengah, si penulis merasa marah dan complain kepada Tuhan: Bukankah Engkau telah berjanji? Kenapa hanya satu jejak kaki saja? Dengan kata lain, si penulis berkata, Dimanakah Engkau Tuhan disaat aku membutuhkanMu?
Bayangkan apabila puisi ini tanpa suatu expresi kemarahan? Saya rasa puisi ini semu.
Kemenangan dari pada puisi ini adalah kejujuran atau keterbukaan. Dalam puisi ini si- penulis berani menantang Tuhan, dan Tuhan menjawab tantangannya.
Mungkin kita tidak pernah mendapat suatu penjelasan yang konkrit dari setiap pergumulan kita dengan Tuhan, tetapi kita tidak akan pernah tahu kecuali kita berani bertanya kepada Tuhan.