Pendahuluan.
Baca Kisah Rasul 5:1- 11 !
Kita sering melihat Tuhan hanya dari sisi kasih dan penuh pengampunan. Tetapi yang dialami oleh Ananias dan Safira ialah kasih Tuhan yang mendisiplin. Pada fasal yang sama, diayat 11 mengatakan, “maka ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengarkannya.” Pada jaman Perjanjian Lama sering Tuhan menghukum secara langsung orang- orang yang melanggar kekudusanNya, seperti anak- anak Harun: Nadab dan Abihu. Mereka mati disebabkan karena mempersembahkan korban tanpa disuruh oleh Allah (Im.10:3}. Ananias & Safira terjadi pada zaman Perjanjian Baru.
Dari kisah ini, kita mengambil empat pelajaran yang penting:
Perkembangan Gereja Kristus setelah hari Pentakosta sungguh sangat luar biasa. Kisah Rasul 2:47 menjelaskan bahwa tiap- tiap hari Tuhan menambahkan jiwa- jiwa baru, sehingga Kisah Rasul 4:4 melaporkan bahwa jumlah jemaat sudah mencapai 5000 orang pria (belum termasuk wanita).
Pada waktu itu, gereja bukan hanya bertumbuh secara quantitas saja, melainkan juga kwalitas. Hal ini dilaporkan pada Kisah Rasul 4: 32- 37, dimana jmeaat saling hidup didalam kasih, sehingga dengan demikian diantara mereka tidak ada yang berkekurangan.
Namun sayang sekali, ditengah- tengah suasana yang indah ini, muncullah kisah Ananias dan Safira: Mereka menjual tanahnya, tetapi uang hasil penjualan itu disisihkan sebagian buat mereka sendiri dan membohongi Petrus. Akhirnya terjadi hal yang fatal, yaitu kematian.
Tetapi kenapa masih ada juga anggota jemaat seperti Ananias dan Safira? Ini menunjukkan satu fakta bagi kita bahwa gereja di muka bumi ini tidak ada yang sempurna: Biarpun gereja pada waktu itu sedang mengalami suatu kebangunan rohani yang dahsyat, tetap saja ada kekurangannya.
Tidak ada gading yang tidak retak.
Aplikasi: Selama kita masih dibumi ini, jangan mencari gereja yang sempurna. Pasti setiap gereja ada kekurangan. Kecenderungan untuk mendukakan Roh Kudus itu masih ada.
Contoh:
John Bevere dalam bukunya ‘The Bait of Satan’{pg.50}, mengatakan, saat ini orang pindah gereja seperti pindah restoran, kalau melihat masalah dalam gereja cepat cari gereja lain (misalnya, pastornya tidak bisa kotbah, pastor mengambil keputusan kurang bijaksana, kurang setuju dengan cara pastor menggunakan uang gereja, atau terlalu dekat dengan pastor bisa melihat semua kelemahannya).John menjadi anggota dari 2 gereja dalam kota yang berlainan sudah 14 tahun. Permulaannya, John tertarik dengan seorang pengkotbah, yang pandai mengajar dan dia menetap digereja itu. Tetapi suatu kali ada masalah, dia dan beberapa orang merasa pendeta itu tidak mengambil keputusan dengan bijaksana, John merasa kesal, sehingga dia merasa kotbahnya pendeta itu jadi hambar (Amsal 26:20, “Bila kayu habis redalahlah api, bila pemfitnah tidak ada redalah pertengkaran”}. Lalu ada sepasang suami- isteri yang keluar dari gereja dan beberapa orang, mendirikan gereja sendiri. Couple ini berkata pada John:”..Kamu pasti adalah the men of God, karena kamu merasakan masalah yang ada…” kelihatannya rohani sekali kata-katanya. Lalu John ditawari pelayanan oleh pendeta yang baru dan dia pindah. Setelah beberapa saat dia dan isterinya merasa tidak enak kalau melihat pendeta yang baru,akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke gereja asal. John mengadakan rekonsiliasi dengan pastornya yang lama dan luar biasa dia merasakan damai sejahtera kembali.
John berkata, kalaupun kita pindah gereja harus seperti yang tertulis dalam Yes.55:12 ”...sungguh kamu akan berangkat dengan suka cita dan akan dihantarkan dengan damai.” Jadi tidak dengan membawa rasa kesal,seperti yang basanya terjadi. Dalam 1Kor.12:18, Paulus menulis:”Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota masing- masing secara khusus suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki Nya”. Jadi bukan yang seperti kita kehendaki. John berkata makin kita menuruti kehendak Tuhan untuk tertanam pada suatu gereja , makin Iblis ingin berusaha mencabut akarnya.
Kita selalu kalau merasa pemimpin kita tidak benar terus kita pikir kita perlu kasih tahu orang lain supaya yang lain tidak terluka, tetapi John berkata sebenarnya Tuhan ijinkan kita melihat masalah, hanya Dia ingin menguji kesetiaan dan ketaatan kita, karena ini syarat untuk kita bertumbuh.
Kita bisa belajar dari:
· Samuel dikirim Tuhan (bukan iblis) ke imam Elli yang anaknya korupsi dan berjinah, tetapi Samuel setia.
· Daud, Tuhan tempatkan dibawah kuasa Saul yang suka kerasukan setan dan cemburu, tetapi Daud tetap rendah hati.
* Jadi, camkanlah! Bahwa dibumi ini tidak ada gereja yang sempurna.
Annias dan Safira jelas bermaksud baik: mereka menjual tanah mereka untuk menolong orang yang berkekurangan.
Pada waktu itu banyak orang- orang kaya yang menjual tanah mereka, lalu membawa uang hasil penjualan itu ke kaki para rasul. Kemudian rasul- rasul yang membagikan semua uang itu kepada mereka yang berkekurangan, para janda dan fakir miskin. Nah, Ananias dan Safira ingin juga ambil bagian dalam hal memberi. ‘Tujuan’ mereka sebenarnya sangat baik. Namun, motivasinya salah: Ingin menerima pujian dan kehormatan dari orang lain.
Aplikasi:
Berapa banyak orang Kristen yang salah di dalam motivasi. Tujuannya seolah- olah baik, tetapi motivasinya salah.
Contoh:
· Memberi persembahan
·
Melayani
Tuhan
Didalam Kolose.3:23, Paulus berbicara mengenai motivasi dalam ketaatan, ”Apapun yang kamu kerjakan, perbuatlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia.”
Tetapi Alkitab tidak pernah membenarkan sebagai berikut: “Asal tujuannya baik, maka cara mencapai tujuan itu tidak jadi masalah.”
Ada tiga hal yang benar menurut pandangan Allah di dalam melakukan sesuatu:
· Motivasi harus benar
· Sesuai Firman Tuhan
· Tujuannya harus baik
Contoh:
· Suatu kali ada seseorang datang kepada Yesus dan berkata: “Aku juga akan mengikut Engkau, bahkan kemana saja Engkau pergi.” Lalu jawab Yesus:”Srigala mempunayi liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” (Luk. 9: 57- 58). Kenapa Tuhan Yesus berkata demikian? Karena Dia langsung mengenal motivasi dari orang tersebut.
· Dalam Kis. Rasul 8, Lukas mencatat tentang Simon (latar belakang tukang sihir) yang ingin mendapat kuasa urapan dari Petrus dengan membayar uang.
John Bevere semasa dia menjadi youth pastor, dia mengajar anak muda dengan keras untuk hidup benar. Seorang anak muda dalam asuhan dia merasa terkena dengan Firman, dan menangis, tetapi kehidupan orang tuanya tidak mendukung dia untuk berubah, sedangkan papanya itu atasan John dalam pelayanan, akhirnya anak ini menyebarkan fitnah terhadap John, termasuk papanya, bahwa John akan dikeluarkan dalam pelayanan. Senior Pastor memanggil John untuk menyelesaikan dengan orang tersebut, tetapi setelah bertemu dengan orang ini malah John mendapat surat tentang sebab- sebab John dikeluarkan. Dia marah dan ingin memberitahukan senior Pastornya, supaya orang tidak sampai tertipu oleh orang ini, tetapi John berdoa dan tidak merasa damai, lalu dia putuskan untuk diam saja, dan dia datangi atasannya, dia minta maaf dan berdamai. Tidak berapa saat kemudian sampai pada senior Pastornya tentang ketidak jujuran orang tersebut dan dia dikeluarkan dari pelayanan{The Bait of Satan pg.40-44}. Disini John menjelaskan tentang motivasi dia, sewaktu dia ingin memberitahukan senior pastor, seolah-olah untuk supaya orang lain tidak terpengaruh dengan orang tersebut, tetapi dibalik itu dia sebenarnya ingin membalas kemarahannya.
Motivasi kegereja: cari teman, kesepian, atau karena nganggur?
· Jadi berhati- hatilah dengan motivasi: Jangan pikirkan terlebih dahulu ‘tujuannya’ melainkan ‘motivasinya’.
Kematian Ananias dan Safira bukan disebabkan dosa perzinahan, membunuh atau tidak mengampuni saudaranya yang lain, melainkan karena ‘munafik’.
Salah satu dari delapan area yang harus kita menang supaya masuk ke Yerusalem yang baru (sorganya orang Kristen) adalah menang atas ‘dusta’ (Why. 21: 8). Dan kata dusta itu terbagi dua:
· Dusta mulut= bohong
· Dusta dengan perbuatan = munafik
Contoh:
Suatu hari si Kancil lelah sekali dan haus, lalu dia melihat buah anggur, dia pikir bagus sekali buahnya, dan dia berusaha untuk mendapatkan buah anggur itu, tetapi setelah berusaha dia tidak dapat juga, lalu lewat si monyet, dan kemudian si Kancil mengatakan bahwa dia sangat lelah dan haus. Kemudian si monyet bertanya: ”mengapa kamu tidak makan buah anggur itu?”, Lalu si Kancil menjawab: ”ach, anggur itu asam dan tidak enak.” Monyet mencoba anggur itu dan berkata dasar si Kancil munafik.
Dan terkenal dengan pribahasa si Kancil ingin mendapatkan anggur, tidak mendapatkannya, mengatakan anggurnya asam.
Demikian dengan Ananias dan Safira,didepan umum mereka seolah- olah suka rela, tetapi sebenarnya mereka tidak rela sehingga mereka bohong,dan menyimpan sebagian hasilnya.
Salah satu karakter orang Farisi yang sangat menonjol adalah ‘kemunafikan’. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus sangat menggecam orang- orang Farisi {Lukas 11:42}.
Aplikasi:
· Salah satu senjata Iblis yang paling ampuh didalam gereja Tuhan adalah, memakai orang- orang munafik. Oleh sebab itu, sering terjadi perpecahan atau perselisihan di dalam gereja.
· Para orang tua hati- anak jangan biarkan anak-anak kita punya kebiasaan bohong.
· Mahatmah Gandhi respect dengan Yesus tetapi mengecam orang Kristen munafik.
* Jadi berhati- hatilah dengan kemunafikan.
VI. Persepakatan yang negatif selalu membawa kehancuran
Kis. 5: 2, mengatakan bahwa, Ananias menipu dan berdusta dengan setahu istrinya, yaitu Safira.
Kis. 5: 9, mengatakan bahwa Ananias dan Safira bersepakat untuk berdusta. Ini yang menyebabkan kebinasaan bagi mereka berdua.
Tentu ceriteranya akan lain, apabila pada waktu itu, Safira menasehatkan suaminya untuk tidak berdusta.
Suami- isteri Tuhan persatukan untuk saling melengkapi.
Submission (penundukan diri) itu dalam arti kita tetap tahu kebenaran. Ada peribahasa yang mengatakan bahwa “isteri itu nang surgo manut, nang neroko katut”. Ini bukan submission.
Dalam surat Filipi 2: 2, dikatakan “Hendaklah kita sehati, sepikir, setujuan.”
Filipi 2: 5, “Hendaklah menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus.”
Karena itu laki-laki dan wanita, suami dan isteri, masing-masing harus mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan.
Aplikasi:
Persepakatan yang negatif selalu membawa kehancuran:
Contoh:
· Adam dan Hawa
· Abraham dan Hagar atas nasehat Sarah.
· Abigael dengan suaminya Naban, Abigael sebagai isteri yang bijaksana.
· Persahabatan (riot di Indonesia)
· Gereja (para elders)
· Rumah Tangga
Tetapi sebaliknya terjadi, apabila dua orang bersepakat untuk sesuatu yang baik, maka akan terjadi mujizat (Matius 18: 19). Ini terutama untuk keluarga yang percaya sangat berkuasa.
*Jadi, berhati- hatilah didalam kesepakatan yang negatif. Karena itu awal dari sebuah malapetaka dalam hidup seseorang.
Konklusi:
Setelah Petrus mengalami peristiwa Ananias dan Safira, ketika ia sudah lanjut usia dan akan mengakhiri pelayananya, dia menuliskan ayat berikut ini (1 Petrus 1: 15- 17): “Hidup kudus.”
Kita harus serius dengan bergereja, memperbaiki motivasi kita setiap hari, menghilangkan kebiasaan untuk bohong serta mempunyai pikiran seperti Kristus.