Berlaku Seperti Seorang Anak Kecil
Pendahuluan.
Baca Yeremia 1: 4- 10 !
Yeremia dipanggil dan ditetapkan oleh Allah untuk menjadi nabi (penyambung lidah Tuhan) bagi bangsa-bangsa. Pada waktu itu, Yeremia menolak panggilan tersebut karena panggilan tersebut bagi Yeremia merupakan sesuatu yang tidak dapat ia kerja.
Apabila kita diminta untuk melakukan suatu pekerjaan yang pada mana kita tahu bahwa kita tidak sanggup melakukan hal tersebut dan kemudian kita menerimanya, tentu kita sangat bodoh dalam hal ini.
Jadi, Yeremia tahu bahwa ia tidak sanggup untuk melakukan tugas yang Tuhan berikan padanya. Lalu ia menjawab, Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara sebab aku ini seorang anak kecil (……I do not know how to speak; I am only a child, NIV)…..ayat 6.
Untuk menjadi seorang nabi, Yeremia harus berbicara bagi Tuhan atau penyambung lidah Tuhan. Biasanya seorang nabi menyampaikan sesuatu berita yang baik, menegur apabila terdapat kesalahan dan membujuk supaya kembali kepada jalan Tuhan, tetapi kepada Yeremia Tuhan minta supaya ia menjadi seorang nabi yang selalu menyampaikan berita yang tidak berhubungan dengan kabar baik, melainkan hukuman terhadap Israel. Dalam hal ini, Yeremia protes kepada Tuhan, dengan berkata sbb.: ‘Tetapi, saya tidak pandai berbicara, saya selalu gugup berhadapan dengan orang banyak bahkan ketika mau berbicara terhadap orang banyak segala pikiran saya goes blank. Terlebih lagi, saya masih sangat muda (seorang anak kecil). Jadi, bukan hanya saya tidak pandai berbicara melainkan saya juga tidak tahu apa yang harus dikatakan, karena saya tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup.’
Dalam kenyataan, apabila kita kembali kepada seorang anak kecil, sebenarnya anak kecil itu dapat berbicara dan banyak berbicara. Hal ini karena saya punya pengalaman dengan tiga anak perempuan. Sejak dari kecil Ruth dan Rebecca termasuk anak-anak yang paling suka bicara, terlebih-lebih Rebecca: ia selalu bertanya, dan berceritera dengan apa yang terjadi disekolah dan sebagainya….
Jadi, dalam kenyataan, seorang anak kecil itu dapat berbicara bahkan ada yang pandai berbicara, tetapi apa yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh Yeremia, dengan mengatakan ‘sesungguhnya aku tidak pandai berbicara sebab aku ini seorang anak kecil…..?’
Maksud Yeremia tidak lain adalah, saya tidak pandai dalam berbicara, untuk berbicara yang penuh perasaan dan penuh kuasa yang membawa suatu kesan. Karena Yeremia membandingkan dirinya terhadap nabi-nabi lainnya yang pernah ia dengar dalam hal berbicara: mereka sangat dinamis, penuh kuasa, tegas dan berkesan.
Selain itu, ia merasa ia masih sangat muda, yang belum tahu apa-apa.
Yeremia memberikan dua alasan untuk menolak panggilan Tuhan:
Apabila kita kembali kepada Salomo dan Saul, maka merekapun mempunyai alasan similar untuk menolak jabatan yang Tuhan berikan kepada mereka pada waktu itu.
Salomo menjadi raja, Saul pun demikian. Semula, mereka berdua merasa diri mereka tidak ada apa-apa. Mereka memulai dari nothing. Tetapi setelah mereka menjadi raja, mereka tidak dapat mempertahankan sesuatu yang telah mereka mulai dengan baik.
Kedua-duanya mengawali panggilan mereka sebagai anak kecil yang tidak punya pengalaman dan tidak tahu apa-apa sama sekali. Tetapi yang sangat disayangkan adalah keduanya mengakhiri karier mereka bukan lagi sebagai anak kecil, melainkan sebagai orang yang perkasa dan penuh keangkuhan. Mereka berdua memulai panggilan mereka dengan sangat bergantung kepada Tuhan, seperti seorang anak kecil yang sangat bergantung terhadap kedua orang tuanya, tetapi kemudian mereka tidak lagi bergantung kepada Tuhan.
Pertanyaan: Apakah Yeremia masih tetap seperti anak kecil sepanjang kariernya?
Apabila kita menyelusuri kitab Yeremia, maka kita menemukan bahwa akhir hidup Yeremia tidak seperti Salomo dan Saul. Yeremia tidak menjadi sangat berkuasa dan kaya raya seperti Salomo. Dia juga tidak menjadi sombong dan acuh terhadap Tuhan, seperti Saul. Melainkan, Yeremia tetap seperti seorang anak kecil.
Baca Yeremia 20: 7! (Disini Yeremia mengutarakan keluh kesahnya kepada Tuhan) ”Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk” (You deceived me and I was deceived)
Ini suatu perkataan yang sangat keras! Tetapi, dalam hal ini Yeremia berlaku jujur. Ia mengutarakan seluruh perasaan terhadap Tuhan. Ia merasa dibohongi atau dijebak oleh Tuhan. Karena semula ia sudah menduga bahwa beban yang diberikan kepadanya terlalu besar. Tetapi karena Allah telah berjanji akan menyertainya dan melepaskannya maka, Yeremia telah menerima panggilan tersebut. Tetapi, setelah Yeremia menjalankan tugas panggilannya, maka ia merasa tidak sanggup lagi. Ia berkata kepada Tuhan, sbb.: ‘Engkau panggil aku sebagai nabi, penyambung lidahMu, tetapi aku tidak menduga bahwa panggilan tersebut sebegitu berat. Engkau membohongi aku dan menjebak aku.’
Dalam hal ini Yeremia berbicara seperti seorang anak kecil. Seorang anak kecil selalu jujur, mereka berbicara seperti apa yang ada dalam pikirannya.
Contoh:
After a service, the pastor is talking with a mother and her six-year- old son. The mother said, “Tell Pastor what you learned in church this morning?” “I learnt nothing,” the boy said. “Tell Pastor what you think of his sermon?” “It was boring,” the boy replied.
Seorang dewasa tidak berbicara demikian. Kita berusaha mengatakan yang baik, sekalipun sesungguhnya tidak jujur. Tetapi seorang anak kecil selalu jujur. Mereka berbicara seperti apa yang ada dalam pikirannya.
Untuk mempertahankan suatu hubungan yang baik dengan Tuhan, kita harus selalu berani untuk mengutarakan perasaan kita kepadaNya. Kita harus berlaku jujur terhadap Tuhan. Ingat bahwa ‘perasaan’ kita sangat penting bagi Allah. Apabila kita datang berdoa kepada Tuhan, maka kita harus berdoa dengan membawa perasaan dalam hati dan pikiran kita kepadaNya:
v Daud selalu mengutarakan perasaannya kepada Tuhan, sbb.:
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Maz. 22: 1)
v Bani Korah berdoa kepada Tuhan,sbb.;
“Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Mengapa Engkau menyembunyikan wajahMu?” (Maz. 44: 24-25)
Yeremia pun mengeluarkan seluruh perasaan dan kekesalannya kepada Tuhan, sehingga ia mengutuki hari kelahirannya! (Baca Yer.20: 14, 15, 17,18)
Yeremia merasa dibohongi dan di jebak oleh Tuhan. Tuhan terlalu kuat baginya. Ia merasa lemah dan setiap kali ia mengingat Tuhan dan tidak mau mengucapkan lagi firmanNya, maka di dalam hatinya ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangnya. Sekalipun ia telah berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi ia tidak sanggup, karena Tuhan telah menundukkannya (Yer. 20: 9).
Yeremia tidak dapat berbuat apa-apa, ia seperti anak kecil yang lemah.
Baca Matius 18: 3!
Untuk masuk ke dalam kerajaan Allah kita harus memiliki karakter seperti anak kecil (bukan kekanak-kanakan).
Anak kecil memiliki empat karakteristik:
Professor James Housten (Regent College) mengatakan, ‘You can be a professional in your work, but in the Christian life, you will always be an amateur, always as a child.’
Dua hal yang Allah berikan kepada Yeremia supaya ia dapat bertahan dalam kesengsaraan dan penderitaan dari panggilannya selama empat puluh tahun:
I. Sebatang dahan pohon badam (a branch of an almond tree)- Yer. 1: 11-12
‘Almond’ didalam bahasa Ibrani berarti ‘waching’. Dalam hal ini Allah mengatakan kepada Yeremia bahwa Ia siap sedia melaksanakan firmanNya. Firman-Nya itu penuh dengan keajaiban, tetapi keajaiban itu sendiri bukanlah illusi.
Suatu kali didalam pergumulannya yang berat Yeremia mengatakan, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataanMu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, …………..” (Yer. 15: 16).
Jadi, hal yang pertama yang menompang kehidupan Yeremia, sehingga ia bertahan dalam kesengsaraan dan penderitaannya adalah firman Tuhan.
Aplikasi:
II. Sebuah periok yang mendidih (boiling pot)- Yer. 1: 13
Baca Yer. 1: 14-16 ! (sekalipun subject dari penglihatan ini negatif, tetapi pesannya positif)
Hal ini berbicara mengenai dunia yang penuh berbagai bahaya, tetapi bahaya tersebut bukanlah malapetaka.
Tuhan berkata kepada Yeremia, bahwa ‘sekalipun mereka memeranginya tetapi mereka tidak dapat mengalahkannya’ (baca Yer. 1: 17- 19).
Jadi, hal yang kedua yang menompang kehidupan Yeremia, sehingga ia bertahan dalam kesengsaraan dan penderitaannya adalah pengertian bahwa dunia ini penuh berbagai bahaya tetapi bahaya tersebut bukanlah malapetaka.
Aplikasi:
Sering kita meremehkan kuasa Tuhan dan overestimate evil. Kita selalu terpaku dengan apa yang kejadian-kejadian disekitar kita, sehingga kita berkesimpulan bahwa kejadian didunia ini selalu ada dalam kontrol si jahat. Kita tidak melihat dengan mata
rohani maka kita cenderung underestimate Tuhan. Perhatikan ayat 15-16! Allahlah yang mengizinkan hal itu terjadi.
Jadi, segala kejadian yang ada didunia ini tetap selalu dalam control Tuhan.
Memang dunia ini penuh berbagai macam bahaya /tekanan dan tantangan, tetapi hal tersebut tidak mendatangkan malapetaka bagi kita (Baca Mazmur 91: 1-11)
Konkulsi:
Yeremia telah dipanggil dan ditetapkan sebagai seorang nabi bagi bangsa-bangsa. Nubuatannya masih berlaku sampai sekarang.
Yeremia bertahan dalam pelayanannya selama empat puluh tahun, dan kuat dalam menghadapi tekanan, tantangan dan penganiayaan disebabkan oleh dua hal:
v Firman Tuhan
v Bahaya tidak berarti malapetaka
Selain itu, Tuhan mengkehendaki supaya kita berlaku seperti seorang anak kecil, walaupun kita sudah berhasil dalam sesuatu bidang. Kita harus…..