3- Iman Yang Dimiliki Abraham

 

 

Pendahuluan

Canard Hilton (1887- 1979), yang memiliki 180 hotel di seluruh dunia, adalah seorang yang mengasihi Tuhan. Suatu kali, ia menuliskan mengenai 10 prinsip untuk beoleh keberhasilan dalam hidup seseorang. Kesepuluh prinsip ini, semuanya, di hubungkannya dengan Alkitab.

Pada prinsip yang terakhir, yang kesepuluh, Mr. Hilton mengatakan bahwa “kita harus senantiasa berdoa dan memiliki iman”.

 

Dalam kenyataan banyak orang Kristen yang memiliki iman, tetapi hidupnya tidak pernah berhasil. Jadi iman yang bagaimana yang dapat membuat kita berhasil?

 

Empat ribu tahun yang lalu, Alkitab mencatat bahwa ada seseorang yang diberi honor atau suatu penghargaan oleh Tuhan. Namanya Abraham. Ia  dikenal sebagai bapa orang beriman.

Dari kehidupan Abraham, kita dapat mengenal iman yang membawa kita kepada ke berhasilan.

 

Ada tiga iman yang dimiliki oleh Abraham sehingga melalui iman ini ia beroleh kemenangan:

 

I. Iman Yang Mengandung Resiko

Baca Ibrani 11: 8 !

Tahun 1986 yang lalu, ketika masih berada di Jakarta, saya berkata kepada istri saya mengenai suatu rencana untuk pindah ke Australia. Semula rencana ini ditolak, dengan alasan Mama, yang pada waktu itu masih hidup, sudah tua. Tetapi karena saya terus mendesak maka istri saya setuju.

Sekarang ini, seandainya saya berkata kepada istri mengenai suatu rencana untuk pindah ke Canada, maka saya tahu persis, ia akan menjawab: “Kamu pindah sendiri.” Kenapa jawab istri saya demikian? Karena usia kami tidak seperti dulu lagi............. Pada waktu itu kami masih muda. Kami belum mapan sama sekali. Tetapi sekarang kami sudah mapan. Kami sudah terbiasa dengan keadaan lingkungan di Australia ini, khususnya di Melbourne. Usia kamipun sudah tidak semuda pada waktu itu.

 

Sama halnya dengan Abraham. Sebelum ia memutuskan untuk pindah ke suatu negeri yang sama sekali ia belum ketahui, Abraham pada waktu itu berusia 75-tahun. Ia sudah mapan. Hartanya dan ternaknya sangat banyak.

Jadi untuk pindah kesuatu negeri yang masih asing bagi Abraham, dengan usia yang sudah tua tidak gampang.

 

Jadi langkah pertama, yang Abraham lakukan, sebelum ia di beri penghargaan sebagai bapa orang yang beriman, adalah Abraham memiliki “iman yang mengandung resiko.”

 

Orang Kristiani itu terdiri dari 3- golongan:

a. Golongan Undertaker: Yaitu mereka yang selalu melihat kepada masa lalu. Mereka selalu menceriterakan sesuatu yang indah dimasa lalu yang pernah terjadi.

contoh: Di SMP juara kelas, di SMA juara teladan, tetapi di Universitas .........

 

b. Golongan Caretaker: Yaitu mereka yang selalu melihat kepada masa sekarang. Lebih bersikap hati-hati.

contoh: Di SMP dan SMA tidak pernah jadi juara, sekarang di College......

 

c. Golongan Risktaker: Yaitu mereka yang selalu melihat kedepan. Berani mengambil suatu resiko.

contoh: Kepahlawanan Yonatan (1 Sam. 13: 23 - 14: 23)

·        Ibu dari Heather Whitestone

 

Untuk supaya kita berhasil maka kita harus memiliki iman yang mengandung resiko.

 

II. Iman Yang Mengandung Kesabaran

Baca Ibrani 6: 15 !

Setelah Abraham berada di negeri Kanaan, ia tidak langsung memiliki anak. Tetapi dua puluh lima tahun kemudian, ketika Abraham berusia seratus tahun, baru Abraham memiliki seorang anak lelaki yang bernama Ishak.

 

Suatu kali ada sebuah gereja kecil disebuah desa, di negeri Tiongkok. Didepan gereja itu ada sebuah papan yang di gunakan untuk menulis judul dari kotbah yang akan dibahas pada setiap hari minggu. Setiap hari Kamis sang pendeta datang kepapan tersebut untuk menggantikan judul kotbah. Pada suatu hari, ada seorang anak kecil datang kepada sang pendeta yang sedang memasang judul kotbah dipapan tersebut. Anak kecil ini bertanya kepada sang pendeta, “Boksu, apa arti tulisan itu?”. Lalu sang pendeta menjawab: “Kita harus selalu bersabar.”

Lalu anak itu pergi, dan kembali lagi. Dia bertanya lagi, “Boksu, saya lupa dengan tadi Boksu bilang mengenai tulisan itu?” Sang pendeta menjawab, “Kita harus selalu bersabar”. Lalu anak kecil pergi. Dan kemudian ia kembali lagi dan bertanya lagi, “Boksu, saya lupa lagi dengan tulisan tadi.” Sang pendeta menjawab,” Kita harus selalu bersabar”. Lalu anak ini pergi lagi. Tiba- tiba anak ini muncul lagi dan bertanya seperti semula. Setelah anak ini datang untuk kedelapan kalinya, sang pendeta sudah tidak tahan lagi. Ia menjawab,”Kita harus selalu bersabar, goblok”. Kemudian anak kecil ini berkata, “Baru delapan kali, Boksu sudah tidak sabar“.

 

Keberhasilan itu selalu dimulai dengan kesabaran. Tanpa kesabaran maka seseorang itu tidak akan berhasil. Amsal Soleman mengatakan, “Tujuh kali orang benar jatuh namun ia bangun kembali (Ams. 24: 16a).

 

Salah satu karakter yang sempurna didalam Allah, adalah “kesabaran” (Kel. 34: 6, Bil. 14: 18, Neh. 9: 17,  Maz. 145: 8, Nah.1: 3).

Oleh sebab itu, kasih itu, didefinisikan,  dengan “sabar” (1Kor. 13: 4). Dan salah satu buah Roh ialah “kesabaran” (Gal.5: 22).

 

Langkah kedua, yang Abraham lakukan, sebelum ia diberi “penghargaan” sebagai bapa orang yang beriman, adalah Abraham memiliki “iman yang mengandung kesabaran”.

Sekalipun kita orang kristen yang memiliki kuasa, penuh dengan Roh Kudus, tetapi kalau kita tidak memiliki kesabaran maka kita tidak akan berhasil dalam segala hal.

 

Ada dua hal mengenai “kesabaran" :

a. Pengkotbah 10: 4,Kesabaran itu mencegah kesalahan-kesalahan besar”.

Jadi salah satu alasan yang paling penting, kenapa kita harus bersabar menunggu adalah supaya kita tidak membuat kesalahan-kesalahan besar dikemudian hari.

Dr. Martin Jones mengatakan,

The worst thing that can happen to a man is to succeed before he is ready”.

contoh: Saul (negatif); Abraham Lincoln (positif)

 

b. Amsal 16: 32, Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan”.

Alasan kedua kenapa kita harus sabar menunggu adalah supaya kita menjadi lebih dari seorang pahlawan.

contoh: Perbandingan antara Daud dengan panglimanya Yoab.

Daud dikenal sebagai orang yang sabar sedangkan Yoab dikenal sebagai yang cepat emosi, sekalipun ia pahlawan yang perkasa.

Rasul Paulus mengatakan kepada Timotius, kejarlah kesabaran ( 1Tim.6: 11).

 

Zaman modern: Winston Churchill, Thomas Edison

 

Jadi supaya kita dapat berhasil maka kita harus memiliki iman yang mengandung kesabaran.

 

III. Iman Yang Mengandung Pengorbanan

Baca Ibrani 11: 17 !

Ketika Abraham berusia 100 tahun, Allah mengenapi janjinya. Maka lahirlah Ishak, anak perjanjian. Dua puluh tahun kemudian, ketika Ishak berusia 20 tahun, maka datanglah firman Allah kepada Abraham: “Ambilah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu (Kej. 22: 2).

 

Ishak adalah buah hati Abraham dan Sara. Satu-satunya yang paling berharga yang pernah mereka berdua miliki. Tetapi Abraham harus mempersembhakan Ishak sebagai korban bakaran bagi Allah.

Salah satu yang membuat Abraham sanggup untuk membawa Ishak sampai ke bukit Moria adalah, “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara oang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali (Ibr. 11: 19). Abraham percaya bahwa ia akan beroleh Ishak kembali.

Langkah ketiga, yang Abraham lakukan, sebelum ia di beri penghargaan sebagai bapa orang yang beriman, adalah Abraham memiliki “iman yang mengandung pengorbanan”.

 

“Ishak” itu berbicara mengenai sesuatu yang sangat berharga yang kita miliki dalam hidup:

a. Karier:  

contoh:

 

b. Pasangan hidup: Sebelum anda menjadi Kristen, anda sudah jatuh cinta dengan seseorang yang belum Kristen.

contoh:

 

c. Keluarga: Sebelum anda menjadi Kristen, anda sangat akrab sekali dengan keluarga anda. Tetapi sebaliknya terjadi setelah anda sudah menjadi Kristen.

contoh:

d. Uang:

contoh:

 

Jadi apapun yang kita miliki, sekalipun itu sesuatu yang berharga, apabila kita berikan kepada Allah sebagai korban, maka kita akan menerimanya kembali.

 

Jadi supaya kita dapat berhasil maka kita harus memiliki iman yang mengandung pengorbanan.

 

Konklusi: