Kejadian 34
OBSERVATION
Suatu hari Dina, anak gadis Yakub, sedang berjalan seorang diri ketika Sikhem menemuinya. Sikhem kemudian jatuh cinta kepadanya dan memperkosa Dina. Hemor, ayah dari Sikhem, kemudian pergi menghadap Yakub untuk menikahkan kedua anaknya. Sikhem bersedia membayar
APAPUN yang diminta keluarganya, asalkan ia dapat menikahi Dinah.
Saudara-saudara Dina hanya menuntut agar Sikhem dan seluruh warga kotanya disunat. Sikhem berhasil mendapatkan perhatian seluruh kota, lalu disunatlah setiap pria di kota tersebut. Bagi Simeon dan Lewi, saudara Dina yang tidak dapat mengampuni Sikhem, kejadian ini menjadi sebuah kesempatan. Pada hari ketiga ketika mereka semua sedang kesakitan, mereka berdua menjajah kota tersebut, membunuh Sikhem dan Hemor, merampas kekayaan kota dan menghabisi seluruh kota.
APPLICATION
Saya memandang Sikhem sebagai orang yang memiliki weak identity. Dia melupakan dirinya yang adalah seorang leader, dan dia menyerah sepenuhnya terhadap keinginan dia sendiri, dan dia berkata
"APAPUN akan kuberikan agar aku mendapatkan wanita itu".
Dalam kasus ini, Sikhem berubah dari seorang yang tidak disunat, menjadi yang disunat. Seringkali dalam pengalaman saya, saya melihat Christians dengan behavior yang sama, berubah dari seorang Christian menjadi non-Christian. Kita sering berubah menjadi seseorang yang bukan diri kita sendiri, just for the sake untuk mencoba impress other people, dan berharap orang lain akan impressed dengan kita. Tidak akan terjadi! Saya telah melihat banyak Christians yang berkorban, hanya demi mendapatkan apa tidak dapat mereka miliki. Mereka akhirnya stuck, karena perasaan bersalah untuk kembali kepada Tuhan atau pendeta mereka yang sudah dari awal berkata “Tidak boleh!”
Saya pernah berada dalam posisi tersebut. Ada satu saat di mana saya lalai terhadap dance yang merupakan passion saya, karena hari di mana seharusnya ada dance class, was the only time perempuan yang saya ingini would be available for a date. Saya lalai dari kehendak Tuhan yang telah ditetapkan untuk saya. Saya harus kehilangan keduanya. Fortunately, it happened for a good purpose.
Saya belajar dari pengalaman saya, dan saya bersumpah di hadapan Tuhan, “That’s it! Engga akan pernah lagi saya trade passion saya untuk seorang partner!” Bagi saya, kalau orang itu tidak bisa atau tidak mau support kehendak Tuhan dalam hidup saya, tidak ada gunanya saya mempercayai dia sebagai seorang partner hidup. Jadi orang selektif kan ga ada salahnya....
By: Leonardy Cendana